Perjuangan Mbah Ismail Godo Dapat Dijadikan Pegangan Berjuang Generasi Penerusnya
SEMARANG[Nuansa Jateng] – Biografi atau riwayat hidup almarhum Mbah kiai Ismail yang dimakamkan di dukuh Godo Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak hendaknya dijadikan teladan bagi umat Islam dalam melanjutkan perjuangan para kiai terdahulu yang gigih dan sukses dalam menyebarluaskan ajaran Islam di lingkungannya.
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Haris Shodaqoh mengatakan kegigihan para kiai – kiai dahulu tidak hanya menjadikan Islam diterima oleh masyarakat yang tinggal di dalam lingkungannya, tetapi juga menyebar ke wilayah sekitarnya.
“Bahkan melalui santri dan kader-kader yang didiknya perkembangan Islam semakin melebar kemana-mana sebagaimana yang dilakukan oleh Mbah Ismail ini,” ujar kiai Haris saat menyampaikan mauidlah hasanah dalam peringatan haul ke- 105 almarhum Mbah kiai Ismail di Masjid Dusun Godo Jamus Mranggen Demak, Jum’at (27/6).
Menurutnya, melalui majlis haul yang mengungkap laku-laku perjuangan Ismail ini, umat Islam akan mendapat nasehat, karena perilaku perjuangannya masih sangat relevan untuk dijadikan pegangan bagi dzuriyah, santri dan masyarakat yang kini melanjutkan perjuangannya.
Namun, lanjutnya, kepada semuanya diingatkan agar kehebatan tokoh-tokoh yang setiap tahun diperingati haulnya itu jangan sampai menjadikan lupa diri atau terjebak dengan hanya membangga-banggakan kehebatan pendahulunya. Mbah Ismail yang ahli ilmu, ahli ibadah dan ahli berjuang harus disyukuri keberadaan dan kiprahnya, keturunan dan dzuriyah almarhum Mbah Ismail telah meneladaninya, buktinya bisa dilihat banyak anak keturunannya yang menjadi tokoh masyarakat dan orang-orang yang Soleh.
Sebelum mauidlah hasanah dibacakan manakib mbah Ismail yang bersumber dari dokumen yang ada di Masjid Godo Jamus. Disebutkan Mbah Ismail lahir tahun 1810, putra dari Mbah Mangun prajurit pangeran Diponegoro dan masih keturunan kerajaan Mataram Islam (Ki Ageng Pamanahan).
Sebelum terjun di Medan juang, Mbah Ismail mondok dan ngaji di banyak guru yang kiai di antaranya ke daerah Banten. Menikah dengan Mbah Asiyah puteri Mbah Thohir bin Mbah Irsyad bin Mbah Shodiq Jago Wringinjajar Mranggen Demak.
Dalam membangun akhlak masyarakat Mbah Ismail yang juga seorang Mursyid mengajarkan amalan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah. Saat melakukan perjalanan ke Makkah untuk mencari iparnya, Mbah Hadi Giri Kusumo Banyumeneng Mranggen Demak (Mursyid Thariqah Khalidiyah Naqsabandiyah) bertemu dengan KH Soleh Darat Semarang.
Setelah ketemu Mbah Hadi, keduanya mengajak KH Sholeh Darat agar pulang ke Jawa untuk membina masyarakat dan mengembangkan Islam di tanah air. Mbah Ismail meninggal 1920, salah satu peninggalannya adalah musholla yang dikemudian dikembangkan menjadi masjid Godo.
