Mengenang Eyang Abdul Kadir, Santri Priyayi Yang Ikhlas Dan Merakyat

Oleh: Dr Kholidul Adib MAg

Eyang Abdul Kadir merupakan sosok santri priyayi yang ikhlas dan merakyat. Walau memiliki latar belakang keluarga priyayi Jawa tetapi rela menghabiskan hidupnya sebagai rakyat biasa.

Beliau adalah putera Eyang Sastrohamijoyo (saat itu menjadi Carik Desa Wonosalam Demak dan merupakan putra Raden Kusuma yang masih keturunan Pangeran Wijil Inthik-inthik sehingga masih Dzurriyat Sunan Kalijaga).

Abdul Kadir lahir di Wonosalam Demak 1871 dan wafat di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen Demak 21 November 1947 pada Jum’at Pahing dalam usia 76 tahun. Makamnya di belakang MTs Negeri 1 Mranggen di dukuh Gading, desa Candisari Mranggen Kabupatan Demak.

Abdul Kadir kecil sudah menunjukkan talenta sebagai anak yang rajin belajar dan menggemari ilmu terutama ilmu agama. Masa kecil di Wonosalam beliau belajar agama kepada orang tuanya.

Jiwa pejuang dan kemandirian sudah ditanamkan orang tuanya sejak kecil.

Pada 1883 saat gunung Krakatau meletus beliau menginjak usia 12 tahun. Pada saat itu baru dikhitankan.

Saat mengembala ternak bebek di sekitaran stasiun Demak bebeknya terkubur abu vulkanik akibat letusan Gunung Krakatau. Abdul Kadir kecil dicari bibinya dan ketemu di stasiun Demak terus dijemput untuk pulang.

Di usia remaja Abdul Kadir mengenyam pendidikan di pondok pesantren di daerah Ngroto Gubug dan menjadi lurah pondok (pesantren milik keluarga KH Hasyim Asyari, pendiri NU) yang saat itu masih ikut wilayah Kabupaten Demak.

Usai nyantri dari pesantren Ngroto beliau kemudian pindah nyantri di pondok pesantren Girikusumo Banyumeneng Mranggen Demak yang diasuh KH Abdul Hadi (Mbah Hadi) bersama putera  keponakannya, Madrani.

Abdul Kadir bersama Madrani mengaji/berguru di Pesantren Girikusuma Mranggen yang diasuh KH Muhammad Hadi (Mbah Hadi). Kalau berangkat mengaji ke Girikusumo Banyumeneng Mranggen seringnya naik kuda.

Pada 1912, Abdul Kadir dan Madrani diminta gurunya, Mbah Hadi Girikusumo, untuk membantu Mbah Abu Mi’roj untuk membuka pemukiman di daerah Gading Candisari Mranggen dan mendirikan masjid. Mbah Abu Mi’roj adalah cucu menantu Mbah Hadi Girikusumo (menantu Mbah Ghofur, putera Mbah Hadi).

Sebelumnya di sekitar wilayah Gading Candisari dikenal daerah abangan dan Islamnya belum kuat, maka Mbah Abu Mi’roj diminta Mbah Hadi Girikusumo untuk membuka pemukiman dan mendidirikan sebuah masjid, konon tanah tersebut pemberian dari penguasa setempat.

Akhirnya berdiri sebuah masjid yang sampai sekarang masih eksis. Serambi masjid dulu pendopo rumah Abdul Kadir. Dia dikenal mempunyai suara yang merdu sehingga menjadi muadzin di Masjid Gading.

Sejak itulah Abdul Kadir selalu membersami Mbah Abu Mi’roj berdakwah di daerah Gading Candisari Mranggen.

Latar Belakang Keluarga

Sebagaimana diketahui, Eyang Abdul Kadir adalah putera Eyang Sastrohamijoyo, Carik Wonosalam Demak.

Masa hidup Eyang Sastrohamijoyo sezaman dengan Pangeran Wijil V (Pemimpin Perdikan Kadilangu) yang wafat 1880.

Menurut cerita Eko Wisnu Atmojo, cicit Eyang Sastrohamijoyo, Eyang Sastrohamijoyo masih kerabat sepupu Pangeran Wijil V.  Eyang Sastrohamijoyo diperkirakan lahir 1810. Pada saat terjadi perang Diponegoro pada 1825-1830 beliau sudah remaja. Beliau wafat sekitar 1890 dalam usia 80-an tahun.

Eyang Sastrohamijoyo menikah sebanyak 9 kali (menikah 9 kali tidak dalam satu waktu melainkan ketika ada istri meninggal atau cerai baru menikah lagi).

Dari hasil menikah sebanyak 9 kali itu diketahui punya tiga anak; anak satunya hidup di Malaysia, satunya lagi berdomisili di Batu Katangtengah dan satunya lagi bernama Eyang Abdul Kadir kemudian berdomisili di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen.

Eyang Abdul Kadir adalah anak dari istri asal Desa Ploso Karangtengah (anak lurah Ploso, desa sebelah Wonosalam).

Makam Eyang Sastroamijoyo berada di Desa Wonosalam perbatasan Ploso namun kemudian terkena program pemerintah Hindia Belanda yang membuat jalur sodetan sungai Tuntang baru yang lurus ke arah Kalikondang karena Sungai Tuntang lama yang mengalir ke depan Pendopo Bupati Demak sering meluap membanjiri Kawasan Kota Demak.

Cerita yang berkembang di kalangan keluarga, menurut Eko Wisnu Atmojo, pada saat pencangkulan tanah untuk membuat jalur sodetan sungai tuntang yang nyangkul terasa sakit-sakitan dan kemudian didatangkan seorang ahli spiritual untuk melakukan “kontak batin” dan hasilnya yang bersangkutan melihat sosok laki-laki tua namanya Sastrohamijoyo berpakaian Jawa di punggungnya terselip keris sedang duduk menghadap arah barat sambil memegang tasbih seolah sedang berzikir kemudian memberi isyarat agar yang mengambil tanah sengker adalah ahli warisnya atau keluarganya yaitu anaknya yang bernama Abdul Kadir dan diiring warga untuk dimakamkan ulang di pemakaman umum Wonosalam dan diberi tetenger oleh orang Belanda berupa batu namun tetengernya sumingkir alias hilang sehingga menimbulkan kesan tidak mau diberi tetenger.

Sehingga kalau kita mau tahu dimana makam sengker beliau menurut keluarganya berada di pemakaman umum Wonosalam yang pojok utara sebelah timur, lokasi makam sekarang berada di sisi timur pasar Wonosalam persis sebelah jalan tol.

Masa Ontran-Ontran di Kadilangu

Pada 11 Oktober 1880 Pangeran Wijil V, pemimpin tanah perdikan Kadilangu wafat. Kemudian terjadi rebutan pemimpin Kadilangu (orang tua dulu menyebutnya ada pangeran kembar).

Ontran-ontran ini terjadi selama 3 tahun (1880-1883) sehingga terjadi kekosongan atau tidak ada pemimpin resmi yang berkuasa di Kadilangu.

Situasi kala itu jadi rumit saat tiba hari raya Idul Adha, sesuai adat di keluarga Kadilangu, biasanya diadakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yaitu baju kotang Ontokusumo dan keris Kiai Cerubuk. Namun karena ada dua pangeran yang berebut tahta, maka untuk keadilan dicarilah ahli waris yang netral dan paling sepuh.

Setelah dicari garis keturunan sepuh yang netral hasilnya jatuh pada keluarga Eyang Setro (panggilan Eyang Sastrohamijoyo, Carik Wonosalam).

Berhubung Eyang Setro sudah sepuh maka anaknya bernama Abdul Kadir yang sedang mondok di pesantren Ngroto Gubug diminta pulang untuk mengambil dua pusaka Sunan Kalijaga yang saat itu disimpan di atas Masjid Agung Demak.

Abdul Kadir dijemput menggunakan kereta kuda untuk pulang ke Demak. Usia Abdul Kadir saat itu 16 tahun. Setelah tugas mengambil dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dapat dilaksanakan dengan baik maka Abdul Kadir kembali ke pondok.

Akan tetapi kondisi yang belum stabil dirasa bisa membahayakan Abdul Kadir. Atas saran keluarga, Abdul Kadir diminta pergi mengembara menjadi kemasan dengan jualan emas keliling (saat itu mata pencarian masih sulit, masih zaman penjajahan Belanda dan hidup rakyat mayoritas masih menderita).

Pengembaraan beliau akhirnya sampailah di pesantren Girikusuma Banyumeneng Mranggen dan kemudian berlanjut berdomisili di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen.

Tak berapa lama kemudian, ontran-ontran rebutan pimpinan di Kadilangu berhasil reda setelah terbit Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 16, tertanggal 5 Mei 1883, tentang Pengangkatan Raden Ngabei Notobroto menjadi Kepala Perdikan Kadilangu.

Menjadi Santri Priyayi yang Ikhlas dan Merakyat

Sebagai santri yang berasal dari kalangan priyayi Jawa membuat Eyang Abdul Kadir menjadi sosok yang ikhlas dan memiliki pribadi khas yakni berdakwah mensyiarkan agama Islam dengan tanpa pamrih dan tetap menjaga adat budaya masyarakat Jawa yang sudah berkembang agar kedatangan Islam tidak berbenturan dengan kebudayaan Jawa.

Oleh karena itu nilai-nilai budaya Jawa yang baik tetap dipertahankan. Di Dukuh Gading, Eyang Abdul Kadir menikah dua kali.

Dari Istri pertama Salipah binti Abdurrohman anak Mbah Subuh Batang melahirkan Saleman.

Setelah istri pertama wafat kemudian menikah lagi dengan istri kedua bernama Kardimah binti Moden Kardi dengan Sagimah Binti Mbah Abdurrohman bin Mbah Subuh. Jadi dapat keponakan istri pertama, dan mempunyai empat anak yaitu Saikun, Sukri, Matrohkatun Prayitno dan Mat Sahit.

Beliau  bertempat tinggal di Dusun Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen yang juga menurunkan dzurriyat Mbah Subuh yang makamnya di Alas Roban Gringsing Batang.

Selama hidup di dukuh Gading Desa Candisari inilah Eyang Abdul Kadir membina rumah tangga hingga wafat.

Menurut cerita dari Eko Wisnu Atmojo, cucu Abdul Kadir, yang mendapatkan cerita tutur dari Eyang Kardimah (istri kedua Eyang Abdul Kadir), bahwa Eyang Abdul Kadir sebetulnya mendapatkan jatah warisan tanah dari ibunya yang anak lurah Ploso Karangtengah, tapi karena jauh tidak dapat mengelolanya, sehigga warisan tanah diserahkan kepada saudaranya di Ploso.

Beliau menghabiskan hidupnya sebagai rakyat biasa dengan bertani dan menjadi kemasan yaitu orang yang ahli dibidang kerajinan emas, berdakwah dan berdagang.

Salah satu fenomena yang unik dan langka di makam Eyang Abdul Kadir adalah adanya “tanah unthuk” di atas pusara makam beliau. Fenomena ini tentu tidak lazim. Tinggi “tanah unthuk” ini kisaran satu setengah meter hamper sampai atap cungkup.

Menurut penuturan orang-orang tua dahulu jika ada makam yang terdapat tanah unthuk menandakan kalau itu makam milik orang yang luhur dan semoga juga semrambah kepada keturunannya menjadi orang-orang shalih dan berbudi pekerti uang luhur.

(Penulis adalah Sekretaris Yayasan Kota Wali Demak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *