Sido Muncul Optimisme 2026 Bakal Cetak Laba Lebih Rp1,2 Triliun
SEMARANG[NuansaJateng] – Manajemen PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk optimistis pemulihan kinerja penjualan dan laba bersih pada Kuartal II-2026 ini, selepas menghadapi tekanan pada Kuartal I-2026, akibat perlambatan ekonomi global dan konflik geopolitik.
Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan proyeksi pertumbuhan penuh pada 2026 opstimistis masih bisa lebih baik untuk penjualan maupun laba bersih secara konsolidasian.
Sido Muncul, tutur Irwan, optimistis hingga akhir tahun ini kinerja akan lebih baik, didukung peluncuran produk baru di segmen herbal dan F&B yang dijadwalkan pada Agustus mendatang, serta masuknya Sido Muncul ke beberapa pasar ekspor baru.
Merujuk Laporan Keuangan Sido Muncul Tbk Kuartal I-2026 mencetak laba Rp147,21 miliar. Laba ini anjlok 36,80% secara tahunan (yoy). Begitupun pendapatan Sido Muncul turun 18,83% (yoy).
Sido Muncul mengawali 2026 dengan tantangan perlambatan serapan pasar. Penjualan perusahaan tercatat menyusut dari Rp789,10 miliar pada Q1 2025 menjadi Rp640,49 miliar pada Q1 2026.
Pelemahan top-line ini secara langsung memukul laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang turun cukup dalam menjadi Rp147,21 miliar dibandingkan pencapaian kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp232,94 miliar.
Melihat rincian operasinya, kontraksi ini melanda dua motot penggerak utama perusahaan, segmen jamu herbal dan suplemen turun dari Rp363,07 miliar menjadi Rp268,38 miliar, sementara segmen makanan dan minuman juga terkoreksi dari Rp402,35 miliar menjadi Rp342,25 miliar. Prakstis, laju pertumbuhan perusahaan sedang mendapat jalan terjal di awal tahun.

Di tengah penurunan volume penjualan, beban penjualan dan pemasaran perusahaan justru merangkak naik dari Rp93,86 miliar (Q1 2025) menjadi Rp96,22 miliar (Q1 2026). Kondisi ini tentu menekan profitabilitas di tingkat operasional secara signifikan.
Laba usaha tercatat turun dari Rp286,08 miliar menjadi Rp185,91 miliar. Kenaikan biaya akuisisi pelanggan di saat penjualan sedang lesu mengindikasikan tingginya intensitas persaingan di tingkat pengecer atau pergeseran daya beli yang memaksa manajemen untuk membakar biaya promosi demi mempertahankan pangsa pasar.
Namun, Irwan meyakini dominasi pasar produk Sido Muncul bakal mendorong kinerja perusahaan yang terus menunjukkan tren positif secara bertahap hingga akhir tahun ini. Penjualan produk herbal tetap tumbuh kuat dan perusahaan yakin mampu membukukan laba sekitar lebih Rp1,2 triliun pada tahun ini.
Menurut Irwan, keberhasilan mempertahankan pertumbuhan pasar bukan diraih secara instan. Namun konsistensi menjaga kualitas produk, memahami kebutuhan konsumen, serta keberanian menghadirkan inovasi menjadi kunci utama pertumbuhan perusahaan selama ini.
“Saya tahu market itu seperti apa dan saya tahu apa yang saya lakukan sebagai CEO Sido Muncul,” ujar Irwan akhir pekan lalu.
Irwan menambahkan, kekuatan Sido Muncul terletak pada produk yang telah dipercaya masyarakat selama puluhan tahun dan didukung riset serta uji klinis. Hal itu membuat perusahaan tetap percaya diri menghadapi dinamika pasar maupun ekonomi global dan konflik geopolitik.
Menurutnya, penurunan penjualan biasanya terjadi karena faktor tertentu, seperti sentimen negatif, kondisi pasar yang melemah, atau kompetitor yang sedang naik daun.
“Kalau tidak ada berita negatif dan ekonomi tetap berjalan baik, demand biasanya tetap kuat, bahkan demand produk Sido Muncul justru semakin menguat,” tutur Irwan.
