Orası DR HC Irwan Hidayat Kisahkan Perjalanan Sido Muncul Hingga Mendunia
SEMARANG[NuansaJateng] – Kesuksesan kinerja Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat banyak memperoleh apresiasi dari berbagai pihak, bahkan Irwan Hidayat menerima anugerah gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Dalam penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa itu, Irwan tampil berorasi mengkisahkan jatuh bangun membangun Sido Muncul sejak 1969 dengan penuh tantangan hingga kini akhirnya menuai keberhasilan.
Sebuah perusahaan jamu legendaris yang telah berkembang menjadi produsen produk herbal modern berskala global karena gigihnya kinerja Irwan Hidayat .
Irwan berhasil membawa Sido Muncul dari sekadar produsen jamu tradisional, namun menjadi industri jamu modern dan pemain utama di pasar herbal internasional.
Saat itu, perusahaan berada dalam kondisi stagnan meskipun berbagai upaya telah dilakukan, termasuk meniru strategi perusahaan jamu lain.
“Setelah lama, saya sadar Sido Muncul akan tetap menjadi pengikut jika hanya meniru. Kami harus melompat dengan mengadopsi standar farmasi untuk produk herbal,” ujar Irwan dalam orasinya saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Semarang, Senin (18/11) lalu.
Langkah besar dimulai dengan fokus pada produk unggulan Tolak Angin. Irwan bersama timnya melakukan transformasi besar-besaran, mulai dari pengembangan formulasi, standarisasi bahan baku, hingga modernisasi kemasan dan pemasaran.
Strategi ini membuahkan hasil dengan meningkatnya kepercayaan publik, menjadikan Tolak Angin sebagai lokomotif produk unggulan Sido Muncul.
Dalam orasinya, Irwan menuturkan, pada 2000, Sido Muncul menyelesaikan pembangunan pabrik farmasi jamu pertama di Indonesia, lengkap dengan laboratorium canggih untuk memastikan standar kualitas tertinggi. Dengan fasilitas ini, Sido Muncul berhasil memproduksi produk herbal terstandar yang lolos berbagai uji klinis.
Irwan menekankan pentingnya uji toksisitas dan farmakologi sebagai langkah membangun kepercayaan konsumen dan komunitas medis.
“Kami ingin membuktikan bahwa Tolak Angin aman dan efektif. Hasilnya, Tolak Angin terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh melalui uji peningkatan sel T,” tuturnya.
Irwan juga dikenal karena kemampuannya dalam menciptakan kampanye pemasaran yang inovatif. Tagline “Orang Pintar Minum Tolak Angin” lahir dari keyakinannya bahwa setiap orang memiliki kepintaran dalam memilih yang terbaik untuk kesehatannya.
Dengan dukungan dari berbagai kalangan sebagai endorser, mulai dari artis, akademisi, hingga tokoh masyarakat, kampanye ini berhasil memperkuat posisi Tolak Angin tidak hanya di pasar nasional, namun juga di pasar internasional.
Dengan visi “From Indonesia for The World”, Tolak Angin kini telah diekspor ke berbagai negara, memperkenalkan kekayaan herbal Indonesia kepada dunia.
Selain fokus pada bisnis, Sido Muncul, Irwan juga aktif dalam kegiatan sosial. Program-program seperti mudik gratis, operasi katarak, dan penanganan stunting telah memberikan dampak signifikan bagi masyarakat.
Irwan tidak lupa mengapresiasi peran keluarga dan karyawan dalam kesuksesan Sidomuncul. “Gelar Doktor Honoris Causa ini dipersembahkan untuk adik-adiknya, Sofyan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat bersama suaminya Sigit dan David Hidayat, serta seluruh karyawan Sido Muncul yang telah bersama saya selama lebih dari lima dekade,” ujarrnya.
Kesuksesan Irwan Hidayat menjadi bukti bahwa inovasi, kerja keras, dan komitmen terhadap kualitas dapat membawa produk lokal menembus pasar global. Dengan visi yang kuat, Sido Muncul tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia tetapi juga simbol potensi besar industri herbal nasional.
“Pada 1980-an kami berbagi tugas. Kalau dulu semua bekerja di bagian penjualan, saya membentuk divisi marketing. Sementara itu, adik-adik saya Sofjan, Johan dan Sigit di bagian distribusi dengan mendirikan PT Muncul Mekar. Sandra dan David mengurusi keuangan dan pembelian, sedangkan Papa dan Mami di bagian produksi,” tutur Irwan.
Dari 1969 hingga 1985, kinerja perusahaan ternyata tidak banyak membawa kemajuan bagi Sido Muncul. Dibandingkan dengan jamu-jamu lain, bahkan Sido Muncul jauh tertinggal, meski segala upaya sudah dilakukan, termasuk meniru segala çara yang perusahaan jamu lain lakukan.
Uji Klinik
Melihat Sido Muncul belum juga ada kemajuan, Irwan berpikir keras dan berefleksi serta menyadari bahwa ”kerja keras” meniru selama 16 tahun (1969-1985) itu ternyata sia-sia. Namun beruntung ”siuman” dan menyadari bahwa kalau meniru, Sido Muncul akan tetap menjadi follower hingga harus melompat yaitu meniru pabrik farmasi dengan produknya melalui uji klinis.
“Akhirnya saya membayangkan Sido Muncul memproduksi “produk dari bahan alam” tapi dengan uji klinis. Pasti luar biasa!,” ujar Irwan.
Syarat uji klinis, tidaklah mudah, produknya harus terstandar dan harus di produksi di pabrik dengan standar farmasi. Sedangkan, saat itu standar pabrik Sido Muncul adalah pabrik jamu. Untuk membuat pabrik dengan standar farmasi dibutuhkan dana yang besar.
Karena itu dalam keterbatasan fasilitas, Sido Muncul melakukan langkah-langkah “ persiapan “ untuk menjadikan pabrik farmasi jamu di antaranya menetapkan Tolak Angin serbuk sebagai produk unggulan, ini supaya bisa menjadi lokomotif bagi produk-produk yang lain.
Meneliti resep Tolak Angin serbuk, dan membandingkan dengan literatur tanaman herbal yang ada, menggunakan bahan jamu berkualitas, mengembangkan Tolak Angin serbuk menjadi Tolak Angin cair.
Selain itu, mengganti packaging jamu Tolak Angin dari kertas ke alumunium foil supaya terjaga kualitasnya dan membuat informasi di packaging menjadi lebih rasional . Misalnya informasi jamu Tolak Angin hanya untuk sakit masuk angın.
Bahkan juga mengubah logo ”Foto Ibu dan Anak” dengan menambahkan gambar lumpang dengan foto ibu dan anak dan memperbaiki tulisan “Sido Muncul” yang terpisah dan menyatukan menjadi “Sidomuncul“ sekaligus mengubah font huruf yang lebih feminin karena feminisme adalah lambang kepercayaan.
Pada 1990 Sido Muncul akhirya berhasil mendaftarkan nama Tolak Angin sebagai Brand milik Sido Muncul di kantor HAKI Departemen Kehakiman, padahal nama Tolak Angin dianggap sebagai nama generik yang tidak bisa didaftarkan sebagai brand.
Pada 1993 membentuk Divisi PR (Public Relation)/Humas, karena merujuk Handi Irawan, kehumasan lebih efektif dibanding iklan. Namun kenyataannya tidak bisamengandalkan PR terus menerus karena PR adalah mediadomain. Sedangkan, iklan merupakan companydomain.
Pertama kali pada 1994, divisi PR digunakan untuk mengkomunikasikan program Mudik Lebaran Gratis Sido Muncul yang sebenarnya sudah ada sejak 1991. Program legendaris Mudik Gratis Sido Muncul berlangsung selama 30 tahun dan berhasil memudikkan 400 000 orang
Program mudik gratis ini yang membuat Sido Muncul semakin dikenal itu merupakan ide dan gagasan Sofyan Hidayat , adik Irwan Hidayat.
Selaian itu, peran Divisi PR juga digunakan terus sampai hari ini untuk mengkomunikasikan kegiatan Sido Muncul seperti operasi gratis bibir sumbing, penanganan stunting, kegiatan seminar dengan para dokter, menyumbang untuk korban bencana, operasi katarak dan sebagainya. Dampaknya luar biasa pada perusahaan.
Setelah 12 tahun, langkah awal yang dilakaukan Irwan, mulai membuahkan hasıl. Sido Muncul menjadi semakin di kenal, kepercayaan publik mulai meningkat dan menumbuhkan penjualan yang significant.
“Alhasil, pabrik kami yang berlokasi di Lingkungan Industri Bugangan Semarang tidak cukup untuk memenuhi permintaan pasar. Karena itu ayah saya, Yahya Hidayat memutuskan untuk mendirikan pabrik baru dan memilih membeli tanah di Jalan Soekarno Hatta km 28, Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Luas tanahnya 20 hektare Pada 21 Agustus 1997 pembangunan pabrik “farmasi jamu” Sidom Muncul dimulai, selesai pada 2000,” ujar Irwan
Inovasi pabrik Sido Muncul terus dilakukan dengan standar farmasi dan dilengkapi dengan laboratorium seluas 2.000 m2 berikut peralatan lengkap, termasuk laboratorium kimia, farmakologi, formulasi, uji stabilitas, uji air, uji PCR, labolatorium mikrobiologi dan instrument dan kulktur jaringan.
Pabrik Sido Muncul yang baru, sudah mulai memproduksi produk yang terstandar. Bahan baku berasal dari alam yang kualitasnya bisa bervariasi. Untuk mendapatkan mutu yang seragam, perusahaan melakukan standarisasi dari bahan simplisia hingga produk akhir dengan cara Raw material simplisia didapatkan dari pengembangan bibit yang kemudian dibudidayakan oleh petani binaan hinggga pasca panen, maupun kerja sama dengan suplier bahan baku dengan kontrol kualitas yang ketat.
“Kami melakukan skrining zat aktif, pemeriksaan mikroba, aflatoxin dan cemaran lain. Hanya simplisia yang memenuhi persyaratan yang akan diterima. Inproses control yang ketat diberlakukan selama tahapan proses produksi, pemeriksaan setiap batch produk akhir sebelum beredar yang meliputi di antaranya pemeriksaan zat aktif, logam berat, mikrobiologi, aflatoxin DNA babi, EG DEG, dan organoleptic,” tutur Irwan.
Tolak Angin dan Dunia Kedokteran
Meskipun Tolak Angin sudah dipercaya masyarakat , Irwan merasa masih punya hutang, yakni keinginan memperkenalkan dan mendapat kepercayaan dari dunia kedokteran. Tentu ini tidak mudah baginya yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran untuk menjelaskan kepada para dokter, apalagi yang akan di jelaskan adalah jamu Tolak Angin.
“Namun, pada 2011, di Bandara Soekarno Hatta Jakarta sepulang darı Semarang, saya bertemu dengan Prof Iwan Darmansyah. Profesor Iwan adalah adalah seorang farmakolog idealis yang gigih memperjuangkan pengobatan yang rasional. Waktu bertemu, beliau sambil tertawa menyapa saya , “Hi celebrity, how are you?” Wah saya senang karena beliau ramah,” ujar Irwan.
Pada 2002 Irwan kembali bertemu Profesor Iwan mengatakan tidak mungkin jamu diuji apa pun. “Omong kosong!” tuturnya. Namun Irwan tidak putus asa. Justru bertekad untuk membuktikan bahwa suatu hari akan melakukan uji klinis pada Tolak Angin dan akhirnya berhasil melakukan uji klinis fase pertama produk Tolak Angin.
Dengan keberhasilan ini Irwan mengundang Prof Iwan dan 4 guru besar dari Universitas Indonesia untuk meninjau Pabrik Sido Muncul yang baru. Selama sehari melihat proses produksi dan bagaimana perusahaan melakukan standarisasi.
“Saya juga mempresentasikan uji toksisitas dan uji farmakologi yag kami lakukan , menunjukkan laboratorium yang lengkap. Bahkan Saya juga mempresentasikan gagasan beşar tentang kekayaan alam Indonesia dan ide untuk memanfaatkannya,” tutur Irwan.
Setelah melakukan peninjauan Prof Iwan memberikan surprise. “Saya apresiasi Anda. I learn so much from you”, ujarnya. Dua hari setelahnya Prof Iwan minta dikirimi Tolak Angin untuk diminum sendiri dan untuk dibagikan kepada pasiennya.
Sejak itu Irwan semakin gigih melakukan berbagai uoaya untuk memperkenalkan Tolak Angin kepada para dokter dengan menggelar seminar bersama dokter. Bahkan hingga sat ini Irwan sudah menjadi pembicara sebanyak 51 kali untuk memperkenalkan Sido Muncul dan Tolakangin kepada para dokter.
Sido Muncul tidak akan berhenti berinovasi dan melakukan penelitian-penelitian. Bahkan perusahaan bertekad untuk bekerja lebih keras lagi melakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan martabat dan nilai jamu sebagai kekayaan bumi Indonesia di masa mendatang.
