Jelang Muktamar NU ke-35, Yang Lelah dan yang “Bergairah”
Oleh: Mufid Rahmat
Muktamar bagi Nahdlatul Ulama (NU) merupakan peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang, karena merupakan amanat konstitusi Jam’iyyah.
Menjelang perhelatan forum tertinggi Jam’iyahNU terjadi dinamika merupakan hal biasa,dan ternyata dinamika tersebut hampir selalu berakhir dengan hygeppyending, dari gegeran menjadi gergeran.
Dinamika yang terjadi menjelang Muktamar 35 sepertinya berbeda dengan perhelatan serupa sebelumnya. Salah satu fenomena yang sangat terasa adalah adanya yang tampak lelah dan yang tampak “bergairah.” Masuk dalam kategori yang tampak lelah adalah para pengurus NU di semua level, terutama kader structural pada level PCNU, PWNU dan sebagian Pengurus PBNU. Mereka tampak lelah d ikarenakan ihtiyar mereka untuk menciptakan solidaritas Jam’iyyah pada level PBNU tidak berhasiltuntas.
Forumislah, tabayun, musafahah dan normalisasi posisi tidak direalisasikan dengan ikatan lahir dan batin (bilittisholibiarwahinwaajsadin). PCNU dan PWNU d imobilisasisecara “ilegal” dan legal yang cacatetikjam’iyah.
Sementara sejumlah kader structural PBNU tampak lelah, karena sejumlah kesepakatan konstitusional yang lahir dari forumrapat Tanfidziah-Syuriah konon sering direduksi dan didistorsi,sehingga diperlukan forum serupa lagi. Sementara untuk menentukan forum tersebut dibayang-bayangi tarik menarik pemilik otoritas.
Forumkonstitusional telah menyepakati waktu pelaksanaan konbes, Munas dan Muktamar NU. Untuk Konbes dan Munas disepakati bulan Syawaltahunini, sedangkan Muktamar awal Agustus 2026. Risalah hasil rapat tersebar secara luas.
Panitia inti Muktamar telah disepakati KH Ahmad Said Asrori menjadi ketua SC dan Profesor KH Muhammad Nuh menjadi sekretaris SC, sedangkan KH Saifullah Yusuf menjadi ketua OC dan KH Amin Said Husni menjadi sekretaris OC. Ternyata keputusan tersebut menjadi mentah lagi dan konsekuensinya, Konbes dan Munas NU gagal terlaksana pada bulan Syawal sedangkan SK panitia Muktamar ditandatangani membutuhkan waktu satu bulan. Sampai hari ini belum ada keputusan dimana konbes dan Munas serta kapan Muktamar NU ke35.
Jika nanti masalah kesepakatan draft material dan pihak yang sengaja mempermainkan dengan motif mengundurkan waktu Muktamar, urusan akan semakin panjang dan melelahkan
Tampak Bergairah
Masuk dalam kategori “bergairah” adalah sejumlah kader yang memiliki minat sebagai kandidat Ketum PBNU masa khidmat lima tahun mendatang. Mereka selain memobilisasi pemilik suara (ketua PWNU dan ketua PCNU) juga aktif anjangsana silaturahim mengais”biting”. Juga bersosialisasi melalui berbagai platform media massa, dengan membentuk tim cyber, layaknya kontestasi Pilpres.
Sementara itu ada sejumlah kader yang”bergairah” mengikuti pendidikan kader, pada injurytime Muktamar 35. Dimanapun tempatnya akan dikejar, juga seberapapun konsekuensinya akan diterima, karena tanpa sertifikat/syahadah pendidikan kader, keinginan menjadi kandidat Ketum otomatis akan gugur. Menariknya, sejumlah kader yang mengikuti pendidikan kader pada injurytime merupakan figurmasyhur yang sebelumnya jauh dari struktur NU.
Apapun motif mereka yang”bergairah”, menunjukkan bahwa jabatan Ketum PBNU masih seksi yang perlu diperebutkan. Itu artinya, NU akan tetap eksis dan senantiasa mengucurkan keberkahan kepada penghuni alam semesta, minimal untuk lima tahun mendatang. NU memiliki kader potensial yang cukup banyak dan tersebar di semua lini profesi. Tentunya, diharapkan kader potensial tersebut memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga marwah Jam’iyyah dan dalam waktu yang sama menempatkan poros bola bumi NU keorbit kejayaan, lebihaslah bagi semuanya tanpa meninggalkan karakternya sebagaimana yang telah digariskan para muassis.
Tidak Sekedar Narasi Besar
NU hari ini bisa dibilang tidak pada situasi baik-baik saja. Dinamika internaljam’iyah pada satu sisi merupakan hal wajar, selama tidak destruktif. Ada semacam mis liding dalam kepengurusan PBNU, dalam konteks dunia jurnalistik, judul besar/headline tidak mencerminkan isi beritanya.
Top leader sering menggaungkan narasi besar, tetapi implementasi atau eksekusinya tidak jelas, bahkan substansi narasi tidak bisa dipahami secara implementatif. Dalam istilah populernya sekedar ‘Omon-Omom’ besar.
Top leader dalam banyak forum dengan lantang berbicara tentang cita-cita peradaban untuk mewujudkan tata dunia yang harmonis dan adil berdasarkan akhlakulkarimah dan penghormatan terhadap kesetaraan martabat sesame manusia.Karena itu NU harus merintis peradaban baru. Muncul taglen, merawat jagad membangun peradaban.
Dalam konteks manajemen, top leader selalu menyerukan perlunya mengadopsi manajemen pemerintahan, termasuk dalam menyusun program kerja dan system penganggarannya. Dikatakan, pengurus di semua level (PWNU dan PCNU) tidak perlu risau tentang pendanaan, tidak boleh mengandalkan proposal, karena PWNU dan PCNU akan kelelahan melaksanakan program dari PBNU.
Dikatakan, berapapun dana yang dibutuhkan NU akan tercukupi. Narasi besar seperti itu sejatinya mencederai leadership topleader itu sendiri. Sebab, dia berbicara terkesan memberi angina surga, jauh panggang dari api dan ibarat mengumandangkan adzan tanpa di teruskan dengan sholat berjamaah.Yang dibutuhkan kader struktural dan warga adalah program yang membumi, yang mendorong kearah kemajuan/perbaikan, yang membuat semuanya gemuyu dan berdampak.
Setidaknya ada lima hal yang menjadi kebutuhandasar (basicneed) NU sekarang ini. Pertama, kemandirian ekonomi dan politik. Program kemandirian terdengar nyaring dan berulang, tapi naratif-akademik. Akibatnya, basis pendanaan program kerja tidak sesuai dengan sistem manajemen yang baik dan benar. Fundraising masih menjadi sesuatu yang penting.
Kedua, sistem kaderisasi. Perkum nomor 2 tahun 2025 tentang sistem kaderisasi masih terkesan menjadi monopoli dan “komoditi” pihak tertentu pada level puncak. Semua proses, dari penetapan waktu pelaksanaan sampai instruktur diputuskan oleh PBNU, berlaku untuk semua jenjang, sementara penyelenggara hanya berwenang menangani konsumsi dan akomodasi.
Masalahnya menjadi pelik bagi PWNU dan PCNU. Dalam perkum (peraturanperkumpulan) PWNU dan PCNU diwajibkan menyelenggarakan kaderisasi pada jenjang tertentu dan dikenakan punishmen bagi yang tidak menyelenggarakannya, sementara untuk mendapatkan ijin/persetujuan sulitnya hampir sama dengan mengurus izin tambang. Akibat mekanisme yang seperti itu target melahirkan kader enam juta dalam masa khidmat mustahil tercapai.
Ketiga, tentang penilaian kinerja, yang pada perkumnomor 11 tahun 2025 diganti menjadi klasifikasi pengurus dan pendataan kapasitas kerja. Instrumen untuk mengeksekusi perkum tersebut belum tersedia, bahkan masih terbatas ‘Omon-Omon’, akibatnya praktis sampai akhir masa khidmat tidak dilakukan. Padahal, penilaian ini sangat penting sebagai trigger bagi PWNU sampai MWCNU melakukan kompetisi dan kolaborasi untuk menjadi yang terbaik.
Keempat, sistem pendidikan NU sebagaimana diatur dalam perkum nomor 15 tahun 2025. Lembaga pendidikan NU dari semua jenjang dan semua jenis jumlahnya sangat banyak. Besaran kuantitas lembaga pendidikan harus dibarengi dengan kualitas, sehingga selain menjadi daya tarik juga menghasilkan output yang berkualitas. Inipun PBNU belum menggarapnya secara serius.
Kelima, transformasi digital sebagaimana diatur dalam perkum nomor 19 tahun 2025 tentang transportasi digital. Dalam banyak hal NU harus masuk era baru sebagaimana tuntutan global. Meski masih sering dilabeli organisasi tradisional, watak berkemajuan dibuktikan dengan digitalisasi. Digdaya persuratan belum cukup, tahap awal menuju era d igitalisasi. Namun jangan sampai terjadi digdaya disalahgunakan, sehingga mengundang kesalahpahaman. Diluar lima hal penting tersebut ada satu hal yang lebih elementer adalah akhlakulkarimahdanustwah Hasanah sebagai sebuah kebanggaan. Para muassis telah menetapkan akhlakulkarimah sebagai ciri, karakter, prototype Nahdlatul Ulama. Berkemajuan itu penting, membangun peradaban global itu penting, tapi watakakhlakul karimahjauh lebih penting.
Berkemajuan tanpa dibarengi akhlakul karimahakan menjadi bencana, sebaliknya akhlakulkarimah yang tidak maju akan membawa kemasan.
(Mufid Rahmat, mustasyar MWCNU Boyolali)
