PMII Bukan Kader Tunggal NU
Oleh:Â Mufid Rahmat
Perhelatan yang digelar Ika PMII, belum lama ini, di sebuah hotel di Jakarta penuh euforia dan narasi politik yang atraktif. Optimisme yang dibangun menuju kontestasi akbar Muktamar NU ke-35 mendatang dibumbui epos heroik; sebuah tekad merebut amanah prestius di PBNU. Secara usia mereka sudah menuju senja dan manula, tapi semangatnya mengepal ke muka masih menyala.
Hadir sejumlah nama-nama masyhur alumni organisasi pergerakan mahasiswa yang lahir pada 17 April 1960. KH Nazaruddin Umar, menteri agama sekaligus imam besar masjid Istiqlal Jakarta, H Muhaimin Iskandar menteri koordinator sekaligus mantan Ketum PMII dan menjabat Ketum DPP PKB sampai sekarang ini, H Nusron Wahid Menteri ATR /BPN sekaligus mantan Ketum PMII dan mantan Ketum PP GP Ansor dan sejumlah kader serta tokoh lainnya. Dengan intonasi dan personifikasi masing-masing mereka lantang menyorot performa PBNU dan suksesi PBNU mendatang.
Sebagai aktivis, semua panggung penting dimanfaatkan untuk tujuan tertentu di luar substansi tema yang diusung. Acara halal bihalal tidak selalu melulu berbicara tentang meminta maaf dan memaafkan, tetapi pisa dimanfaatkan menjadi panggung “kampanye” dan narasi politik.
Dalam dunia politik, Muhaimin Iskandar memiliki kamar politik yang berbeda dengan kamar politik Nusron Wahid. Bagi mereka berdua, kamar politik mereka bersifat privat. Ketika mereka berdua keluar dari kamar politiknya, lalu “ngudut” dan “ngopi” di kafe bersama, lalu asyik ngobrol dengan topik yang sama, tidak serta merta mereka “berserikat” atau akan “pinangan”. Panggung tetaplah panggung, bahkan dalam konteks politik biasa dikenal istilah panggung depan dan panggung belakang. Bagi yang tidak bisa membaca panggung depan dan belakang akan terkecoh, bahkan dimungkinkan bisa menyesal.
Hanya Latar Belakang
Statemen Muhaimin Iskandar di acara halal bihalal Ika PMII tak ubahnya memutar ulang ketika terjadi dinamika antara PBNU dan PKB, beberapa waktu silam. Dia ingin mendorong terjadinya suksesi di PBNU melalui wacana muktamar luar biasa (MLB NU), setidaknya untuk mengamputasi Ketua Umum H Yahya Cholil Staquf. Bagaikan air hujan wacana MLB NU mengalir tiada henti. Kritik keras terhadap performa PBNU dilontarkan bertubi tubi melalui berbagai forum dan platform. PBNU dan Yahya Cholil Staquf tetap berdiri kokoh, sementara MLB NU tak ubahnya halilintar di siang hari.
Kini PMII yang sepertinya mau dijadikan peluru untuk “mengeksekusi” PBNU. Acara halal bihalal Ika PMII dijadikan momentum untuk konsolidasi. Di saat yang sama skenario yang bersifat soft maupun yang hard scanario telah digerakkan. Di titik ini, Muhaimin Iskandar tidak sendirian, dia bertemu sahabatnya, Nusron Wahid yang punya spirit sama: mengamputasi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
Bagi para aktivis dan kader NU, Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid memiliki jejak sejarah luar biasa dalam event kontestasi dan suksesi. Keduanya seperti memiliki banyak nyawa dan di suast saat diduga bakal tumbang dan hilang diterjang ombak suksesi ternyata masih bisa eksis dengan penampakan yang mengagumkan. Mereka berdua bagai peselancar politik yang menyukai ombak politik. Semakin dahsyat ombaknya, dia semakin atraktif dan menikmatinya.
Apakah mereka selalu menang dan bertahan?
Muktamar NU ke-34, di Lampung, Nusron Wahid bisa dibilang tim sukses Yahya Cholil Staquf dan berhasil memenangi kontestasi. Dia bau membahu dengan Saifullah Yusuf. Dia masuk “kabinet” Yahya Cholil Staquf menjadi wakil ketua umum sedangkan Saifullah Yusuf menjabat sekjen PBNU. Nusron dan Saifullah Yusuf memiliki latar belakang yang sama; mantan Ketum PP GP Ansor. Pesta kemenangan belum sepenuhnya selesai, Nusron terkena reposisi dan pada akhirnya menjadi “oposisi”.
Nusron dan Muhaimin juga memiliki latar belakang yang sama: mantan Ketua Umum PB PMII. Kini keduanya “berkoalisi” dengan mengusung spirit PMII untuk menuju PBNU 1. Berdasarkan kalkulasinya, kader PMII yang menjadi ketua PCNU/PWNU se-Indonesia di atas angka 300 orang. Sementara jumlah PCNU/PWNU pemilik suara Muktamar sebanyak 557 suara. Peluang menjadi pemenang sangat besar.
PMII Bukan Satu Satunya
Dalam setiap kontestasi kalkulasi seperti itu sah adanya. Tapi jika itu yang menjadi satu- satunya modal, kemungkinan besar akan terkecoh. Sama halnya dengan kandidat atau tim pemenangan yang menggunakan pendekatan birokrasi: kemenag, misalnya. Dimungkinkan ratusan ketua PCNU/PWNU ASN aparatur kemenag, tapi itu tetaplah angka di atas kertas.
Nusron Wahid, Muhaimin Iskandar dan Nazaruddin Umar bersekutu melawan kandidat lainnya memiliki probabilitas yang bermacam-macam; bisa terjadi atau sebaliknya. Mereka bisa bersepakat untuk posisi Ketua Umumnya, tapi bisa juga tidak bersepakat untuk posisi Sekjen, Wakil Ketua Umum dan calon Rois-nya. Bahkan, bisa jadi, mereka terpecah sebelum memenangi kontestasi.
Dalam Muktamar NU ke-35, Nusron dan Muhaimin kemungkinan besar hanya tampil sebagai “bohir” atau aktor intelektual. Mereka berdua tidak tampil sebagai kandidat. Mendukung kepada pengusung sama artinya menyerahkan nasib kepada perantara. Di alam nyata, perantara biasanya berorientasi pada pertimbangan untung rugi, bukan cita cita mulia.
Jika keduanya menggunakan sentimen PMII untuk merebut PBNU mestinya secara gantle maju sebagai kandidat, meski konsekuensinya tidak bisa menjadi menteri jika memenangi kontestasi, juga tidak bisa menjabat Ketum Partai Politik. Itu lebih fair; berani menang dan berani kalah dengan segala konsekwensinya.
Untuk memenangi Muktamar NU menggunakan pendekatan organisasi kader, tidaklah efektif, apalagi digerakkan para elite politik praktis. Sekarang ini muncul keinginan kolektif untuk memproteksi PBNU tidak jatuh di tangan para elit politik; sudah muncul warning.
PMII bukan kader tunggal, masih ada lainnya, GP Ansor, IPNU dan lainnya. Ada Kader PMII yang juga kader Ansor, demikian pula ada kader Ansor yang bukan kader PMII. Secara alamiah, alumni PMII naik jenjang ke GP Ansor.
GP Ansor yang lahir pada 24 April 1934 merupakan ormas pemuda yang lahir dari rahim NU dan sampai sekarang ini masih Istiqomah menjadi Banon NU. Dalam banyak hal dia lebih dewasa dibandingkan Banom kepemudaan lainnya. Ibarat anak dia yang paling tua dan dipersiapkan untuk mengemban tugas NU. Karenanya, banyak mantan Ketua GP Ansor di level Pengurus cabang Ansor dan pengurus wilayah Ansor menjadi Ketua PCNU dan PWNU, mesti sebelum berkhidmat di Ansor menjadi aktivis PMII.
PMII yang lahir pada 17 April 1960, dari aspek historis berproses melalui IPNU yang selanjutnya menjadi Banom NU. Dia yang fokus pada kaderisasi dan pengembangan intelektual dan sosial ini melalui deklarasi Murnajati, 14 Juni 1972 menyatakan independen secara struktural dari NU. Meski sudah ada pernyataan untuk kembali ke pangkuan NU , relasi dengan NU sekarang ini belum seperti Ansor, IPNU, IPPNU dan lainnya.
Sejatinya, kurang elok menggunakan sentimen Banom NU untuk suksesi kepemimpinan PBNU. Jika tidak dikelola secara baik dan proporsional bisa menjadi trigger pertentangan dan mendistorsi marwah jam’iyah yang dikendalikan para ulama.
NU punya adab/etik tersendiri dalam melakukan suksesi kepemimpinan. Siapapun berhak menjadi top leader selama memenuhi persyaratan konstitusi dan terpilih. Seorang anak terasa kurang elok berteriak mengaku tidak bisa masuk rumah orang tuanya, setinggi apapun ilmunya. Lebih kurang elok lagi seorang anak secara vulgar ingin merebut rumah orang tuanya, setinggi apapun jabatannya.
NU bukan partai politik dan tidak bisa digerakkan dengan cara politik praktis, bukan pula korporasi yang berorientasi pada profitnya. Dia lahir dari proses nalar dan spiritual yang ijtihadkan oleh para ulama muhlisin, sholihin, muhsinin dan ‘abidin. Menjadi tugas keluarga besar NU di mana saja untuk mensukseskan Muktamar NU ke-35, dibarengi ihtiyar dan doa semoga menghadapi yang terbaik untuk kejayaan, kebesaran dan kemaslahatan bersama.
(Mufid Rahmat, mantan Ketua PW GP Ansor Jateng)
