Sido Muncul Siap Antisipasi Dampak Kenaikan US$
SEMARANG[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dipastikan bakal melakukan penyesuaian harga produk secara selektif di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan pelemahan nilai rupiah.
Manajemen Sido Muncul akan mendongkrak harga produk secara bertahap jika diperlukan, menyusul penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus berlanjut.
Seperti diketahui nilai tukar rupiah ditutup melemah pada (16/1) sebesar 50,50 poin atau 0,31% ke level Rp16.376 per US$, sejalan dengan sentimen pasar global dan domestik yang cenderung negatif. Kenaikan dolar ini mengkhawatirkan beberapa industri yang mengandalkan bahan baku impor, termasuk sektor farmasi.
Direktur Utama Sido Muncul David Hidayat mengatakan Sido Muncul yang tidak mengimpor bahan baku obat secara langsung, bahkan hampir keseluruhan bahan baku Sido Muncul diperoleh dari paar lokal. Namun, ada beberapa bahan baku, khususnya untuk produk Food & Beverage (F&B), yang masih memiliki eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar dolar.
“Sekitar 15%-20% bahan baku untuk segmen F&B memiliki korelasi dengan fluktuasi kurs dolar AS. Dampaknya bagi Sido Muncul relatif terkendali dibandingkan perusahaan lain yang lebih bergantung pada impor,” ujar David, Jumat (17/1).
Meskipun demikian, tutur David, apabila nilai tukar terus melemah, pihaknya akan melakukan antisipasi dengan meningkatkan penggunaan bahan baku lokal, mengoptimalkan biaya operasional, serta memperkuat strategi ekspor untuk memperoleh pendapatan dalam mata uang asing.
“Kami juga tidak memiliki utang pembelian bahan baku dalam dolar, sehingga risiko fluktuasi kurs tidak langsung berdampak pada kami,” tutur David.
Terkait dengan harga produk, menurut David, Sido Muncul akan melakukan penyesuaian harga secara selektif dan bertahap, jika kondisi ini berlanjut. Penyesuaian harga tersebut akan tetap mempertimbangkan daya beli konsumen agar tidak membebani pasar terlalu besar.
“Kami akan melakukan penyesuaian harga dengan tetap memperhatikan daya beli konsumen, sehingga dampaknya tidak terlalu besar bagi pasar,” ujarnya.
Pada 2025 ini, David menambahan, acuan nilai tukar yang ideal bagi industri farmasi berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.000 per dolar AS. Namun, jika dolar terus menguat, Sido Muncul siap untuk menghadapi situasi tersebut dengan strategi yang sudah dipersiapkan.
Di tengah ketidakpastian global dan domestik ini, Sido Muncul berkomitmen untuk menjaga ketersediaan produk dan kualitas yang sudah dikenal oleh konsumen, sembari tetap mempertahankan daya saing di pasar.
Tahun ini, lanjutnya, manejemen Sido Muncul menargetkan pertumbuhan kinerja mengalami peningkatan 10%.
Target ini, tutur David, akan dicapai melalui perluasan pasar domestik dan ekspor di berbagai negara.
“Kami secara konservatif menargetkan pertumbuhan double digit, minimal 10% baik pada pendapatan maupun laba bersih,” tutur David.
Menurutnya, untuk mendukung realisasi target sebesar itu, perusahaan akan memperluas distribusi sekaligus menghadirkan produk minuman dan suplemen berbasis herbal yang didesain untuk generasi Z dan milenial.
“Generasi tersebut saat ini masih membuka peluang pasar cukup besar untuk produk Sido Muncul dan akan kami jangkau melalui penetrasi pasar digital,” ujarnya.
Bahkan ekspansi pasar ekspor akan terus diperluas. Saat ini, Sido Muncul telah memasarkan produknya ke negara-negara Semenanjung Arab, Economic Community of West African States (ECOWAS) dan kawasan Indochina.
“Ke depan, Vietnam dan Thailand akan menjadi target negara fokus ekspansi Sido Muncul berikutnya,” tutur David.
