Jaga Stabilitas Harga, Sido Muncul Batasi Penjualan Distributor

SEMARANG[NuansaJateng] – PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Mumcul Tbk memukukan pendapatan sebesar Rp 640,5 miliar pada Triwulan I- 2026, mengalami penurunan 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp789,1 miliar, akibat kebijakan penyesuaian persediaan di tingkat distributor.

Penurunan ini dipicu oleh langkah manajemen dalam mengatasi penumpukan stok yang terlalu tinggi di jaringan distribusi demi menghindari inefisiensi operasional. Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan normalisasi stok kembali ke tingkat ideal di masa mendatang.

Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan penurunan pendapatan itu bukan terjadi karena melemahnya permintaan konsumen, melainkan akibat proses inventory adjustment atau pengoptimalan persediaan produk Sido Muncul di tingkat distributor.

“Saya lakukan inventory adjustment ini, sehingga ya, otomatis turun. Tapi penjualan enggak turun. Jadi laporan kinerjanya turun, tapi penjualannya stabil,” ujar Irwan.

Irwan menambahkan, penyesuaian stok perlu dilakukan karena persediaan produk Sido Muncul di distributor masih cukup banyak. “Jadi kita stok di distributor itu banyak,” tutur Irwan.

Kondisi tersebut terjadi karena sistem penjualan berjenjang dan pembelian distributor dengan harga lama pada akhir 2025, sehingga membuat distributor mendapat harga lebih murah ketika mengambil produk Sido Muncul dalam jumlah besar. Lama-kelamaan, stok barang menumpuk dan menjadi tidak efisien.

Penumpukan stok ini berdampak pada harga produk di pasar, karena akhirnya dijual dengan harga lebih murah. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat merusak harga pasaran.

Selain itu, perusahaan juga menghentikan sementara program hadiah (bunus) yang biasanya diberikan kepada distributor saat melakukan pembelian produk dalam jumlah besar.

“Nah sekarang ini Triwulan pertama, saya melarang untuk menjual Tolak Angin. Jadi saya enggak pernah ngasih hadiah lagi karena itu mereka kan masih punya stok banyak,” ujar Irwan.

Menurutnya, adanya pola pembelian distributor dengan harga lama pada akhir 2025 yang memicu akumulasi persediaan di gudang mereka.

Irwan menambahkan, penumpukan barang tersebut berisiko merusak struktur harga di pasar karena distributor cenderung menjual produk di bawah harga resmi yang telah mengalami kenaikan.

Perseroan berupaya melindungi integritas harga produk unggulan mereka melalui pembatasan penjualan ke pihak distributor.

Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat

Meskipun angka pendapatan di laporan keuangan terkoreksi, data internal perusahaan menunjukkan permintaan ritel di Pulau Jawa dan Sumatera tetap kuat. Irwan menuturkan, posisi tawar merek-merek Sido Muncul masih sangat dominan di industri herbal nasional.

“Laporan keuangan turun karena kami batasi penjualan ke distributor. Namun, permintaan konsumen tidak turun, bahkan di beberapa wilayah naik,” ujar Irwan.

Berdasarkan data Nielsen, produk Tolak Angin saat ini menguasai 72% pangsa pasar obat herbal masuk angin. Dominasi serupa juga terlihat pada produk minuman energi Kuku Bima yang memegang 51% pangsa pasar, diikuti oleh lini produk lainnya seperti Esemag dan Tolak Linu.

Menyongsong usia ke-75 pada November mendatang, perusahaan menyiapkan ekspansi ke pasar internasional, khususnya Arab Saudi dan China. Strategi ini mencakup pendaftaran produk agar dapat menembus pasar mainstream di negara-negara tujuan tersebut.

“Kami akan mendaftarkan produk di Arab Saudi untuk masuk pasar mainstream. Kalau bisa, kami juga akan masuk ke China,” tutur Irwan.

Selain ekspansi, Sido Muncul mengandalkan efisiensi biaya karena 90% bahan baku berasal dari lokal sehingga minim dampak fluktuasi kurs. Manajemen tetap optimis menghadapi tantangan geopolitik dan biaya logistik global melalui penguatan inovasi riset tanaman obat.

“Kami bukan pabrik farmasi yang 100% impor. Bahan baku kami 90% lokal, jadi dampak kurs tidak terlalu besar,” tutur Irwan Hidayat.

Irwan meyakini budaya konsumsi herbal Indonesia yang kuat akan terus menopang kinerja jangka panjang. Fokus perusahaan saat ini adalah menjaga kualitas produksi dan mengoptimalkan rantai pasok guna menghadapi dinamika pasar global yang fluktuatif.

“Optimisme ini ditopang oleh permintaan pasar yang tetap kuat, posisi merek yang dominan, serta penguatan inovasi dan ekspansi pasar,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan, Irwan menambahkan, profit maupun penjualan tetap stabil. Bahkan sejumlah produk unggulan Sido Muncul masih mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di kategorinya masing-masing, mulai dari Kuku Bima, Esemag, Tolak Linu, hingga berbagai produk suplemen herbal dan jamu serbuk lainnya.

Perseroan menilai prospek industri herbal pada tahun ini tetap positif. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, serta kuatnya budaya konsumsi herbal di Indonesia menjadi katalis utama pertumbuhan industri.

Bahkan Irwan tetap menargetkan laba perusahaan bisa menyamai pencapaian tahun lalu, mencapai sekitar Rp 1,22 triliun. Untuk mencapai target tersebut perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi dan produk baru yang siap diluncurkan, sekaligus bertepatan dengan peringatan ulang tahun Sido Muncul yang ke-75 pada November mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *