Melongok Rejeki Kiai Kampung
Oleh: Mufid Rahmat
Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membelah batu lalu memecahkannya. Nabi Musa tertegun ketika melihat ada binatang kecil, semut yang hidup di dalam batu. “Binatang kecil ini bisa hidup di sini, siapa yang memberi makan?” gumamnya.
Semut termasuk makhluk hidup kecil bentuk fisiknya, meski ada yang besar. Tapi sebesar apapun dia, tidak akan ada yang melebihi jenis burung terkecil. Meski fisiknya kecil dan hidup di dalam batu keras, semut bisa mendapatkan makanan (rejeki) dan bisa berkembang biak (beranak).
Rejeki datang dari Allah, bahkan Allah menjamin rejeki bagi semua makhluknya dimanapun berada, sebagaimana firman-nya. Datangnya rezeki bisa dari semua arah, yang manusia tidak bisa menduganya.
Soal datangnya rezeki ini menuai perdebatan bagi manusia. Imam Malik berpendapat, rejeki Allah bisa datang melalui beribadah kepada-nya dan tawakal, tidak harus aktif mencarinya. Beliau melihat burung yang pergi dengan perut kosong, pulang dengan kenyang.
Imam Syafi’i, murid Imam Malik peda pendapatnya. Menurutnya, beribadah kepada Allah tentu, tapi rejeki datang melalui jalan ikhtiar, kegiatan aktif. Beliau pun berbicara tentang burung sebagaimana gurunya berargumentasi dengan sudut pandang yang berbeda. Menurut murid Imam Malik yang cerdas, kritis, saleh dan berakhlak mulia ini, burung menjemput rejeki dengan aktivitas aktif. Burung, jika tidak keluar dari sarangnya, tidak dapat rejeki, tidak kenyang.
Kiai Kampung
Saya banyak berinteraksi dengan kiai kampung dan pengasuh pondok pesantren. Terbersit di benak saya untuk melongok rejeki mereka; serasa “unik”. Ada pertanyaan elementer, bagaimana kiai kampung bisa hidup berkecukupan, bahagia, damai, harmonis dan suka berderma, sedekah. Padahal dari kacamata matematika tidak memiliki gaji, tunjangan, numerasi dan panen yang berlimpah. Susah mendefinisikan pekerjaan profesional mereka.
Nafkah bagi anak dan istri tercukupi, termasuk pendidikannya. Menunaikan ibadah haji tidak hanya sekali, umroh berkali kali, para santri yang mondok di pesantrennya nyaris nirbiaya, peduli lingkungan. Yang paling mengherankan sedekahnya sepanjang masa. Hampir setiap tamu disuguhi makan, tidak sekedar makanan, apalagi pada saat ada kegiatan. “Mayoran atau madang geden” menurut istilah santri.
Di Kabupaten Boyolali, ada kiai kampung yang bersahaja. Rumahnya kecil, sangat minimalis. Santrinya ratusan, tidak membayar iuran. Setiap pekan sekali ada kegiatan pengajian bagi orang tua. Jama’ah yang hadir disediakan makan gratis. Setiap selapanan sekali diadakan pengajian umum, jumlah jamaah rata rata sekitar 6.000 orang dan semua dapat makan seadanya.
Dari mana asal rejekinya?.
Saya mencoba mencari jawabannya melalui pendekatan bahasa akal dan bahasa iman.
Bahasa akal menyebutkan, antara income dengan expense tidak berimbang. Income reguler, seperti gaji/honor, jasa bersifat insidental, karena tidak pegawai/pejabat, tidak menerima dana hibah dan bantuan pemerintah serta tidak memiliki amal usaha, travel haji/umroh dan sebagainya.
Bahasa iman menjelaskan, rejeki mereka berkah, qonaah, beribadah dan ikhlas.
Berkah Tidak Sekedar Ziadah
Imam Syafi’i mendefinisikan berkah sebagai Al jiyadah fi alkhaer. Esensinya, bertambah dan baik, tidak harus secara matematis. Gus Bahak mengartikan berkah adalah ada unsur nilai tambah bagi diri sendiri dan juga sampai pada orang lain. Artinya, rejeki tersebut tidak dimanfaatkan sendiri tapi juga berbagi.
Berkah Tidak bicara kuantitas dan kualitas tetapi manfaat yang diberikan Allah. Sedikit namun cukup dan membawa ketenangan. Juga banyak namun bermanfaat bagi orang banyak dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bagi orang cerdas, memilih yang sedikit asal cukup dari pada yang banyak tapi terasa tidak cukup. Juga tidak menolak yang banyak asal bermanfaat bagi orang banyak dan membawa ketenangan.
Bagi manusia berakal selalu mendambakan rejeki yang berkah. Tidak mudah untuk mendapatkannya. Namun ada jejak menuju ke sana: beriman dan bertakwa, bersyukur, jujur dan berbuat baik.
Saya bertanya kepada kiai kampung di Boyolali, apakah keberkahan rezeki kiai sebagai buah riyadloh, tirakat kiai melalui laku spiritual?. “Tidak pasti,” jawabnya. Mayoritas kiai tidak memiliki mimpi yang mengawang: jadi orang kaya, apalagi serakah. Tidak ada hitungan sedikit – banyak, bertambah – berkurang dan untung – rugi. Khusudlon, ikhlas beramal, bekerja secara syariat dan berbagi jika dapat.
Keberkahan hampir sama dengan keselamatan. Keduanya selalu menyertai dalam setiap doa. Kita tidak perlu kebal dalam kanuragan: tidak mempan ditembak dan ditombak. Keselamatan jauh lebih sakti dari kekebalan kanuragan. Kiai Kampung memilih keberkahan dan keselamatan dari pada kekayaan dan kesaktian kanuragan.
(Mufid Rahmat Mantan Ketua PW GP Ansor Jateng)
