Mufid Rahmat/Mantan Anggota DPR-RI

Mencari Penjual Minyak, Bertemu Tukang Besi

Dalam khazanah Islam, cerita tentang penjual minyak wangi (parfum) dan tukang besi (pande, Jawa) sangat masyhur. Tidak sekedar bicara simbolis tetapi filosofis yang substantif dari teks naqliyah.

Elaborasinya: tukang minyak wangi dinisbatkan sebagai orang saleh yang menebar kebaikan dan syafaat, tukang besi dikiyaskan sebagai orang buruk laku dan pembawa petaka. Sontak, emak-emak di pinggiran kampung pesantren dan Kauman menimang anaknya menjelang tidur dengan puji pujian tombo ati; kumpulono wong kang sholeh.

Emak-emak tampaknya tidak peduli dengan adanya pergeseran terminologi orang saleh, sebagaimana yang terjadi pada zaman ini. Orang saleh disimplikasikan sebagai orang baik lahiriyahnya, bernasab baik, bersanad ilmunya, punya nama laqob Gus, mas kiai, berlabel aktivis keagamaan dan punya jabatan publik. Perbedaan takrif saleh antara Ibnu Katsir, Syech Wahbah Al Zuhayli, Al Baidhowi tidak dianggap penting oleh emak emak.

Emak saya pun, merasa bangga jika saya bergaul dengan mereka yang dianggap saleh, seperti anak anak santri, ustadz dan guru ngaji. Tentu emak berharap, saya mendapatkan barokah dan syafaatnya, setidaknya saya menjadi anak baik.

Mencari Teman

Kata Rhoma Irama, mencari teman tidak mudah. Karena itu jika berteman asal saja, pasti Rhoma Irama akan mengatakan: terlalu.

Berteman sebuah keniscayaan, karena manusia sebagai makhluk homo socius. Pertemanan membentuk lingkungan (melieu), dimana melieu yang baik akan berkolerasi positif, sebagaimana kata John Locke, dalam teori tabularasa. Teori ini linier dengan hadits nabi tentang pengaruh lingkungan.

Ada ragam pertemanan: bersifat ta’aruf, yaitu teman baru, di perjalanan, di majlis taklim, di cafe dan sejenisnya. Tarikhan, yaitu teman lama; teman sekolah, sekampung dan sebangsanya. Uhimmatan, yaitu pertemanan seprofesi, seorganisasi dan sepadanannya. Terakhir, ‘aduwun; pertemanan anomali, yaitu di depan sebagai teman di belakang menusuk; menelikung.

Berteman ibarat berenang di kedalaman kolam renang atau berjalan di dalam pasar/mal. Ada peluang harapan dan kesenangan, ada pula potensi penyesalan dan kejahatan. Keduanya tampak menyenangkan di awal, tapi berbeda di kemudian. Karenanya, ketika berenang maupun di dalam mal, kehati hatian menjadi kata kunci.

Dalam dunia urban, banyak anak/orang pedesaan, pegunungan dan orang kampung jauh mengais nasib di kota kota besar; Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan lainnya. Ada yang melalui jalur pendidikan, jalur pekerjaan; ada pula yang melalui jalur konvergensi; pendidikan dan pekerjaan.

Meski belum ada riset dan jurnal ilmiah tentang nasib perantau yang sukses di Jakarta, misalnya, tapi patut diduga banyak perantau yang sukses menjadi tajir, sultan, big bos dan pejabat; dari pejabat eselon sampai pejabat tinggi negara dan Jenderal. Sebut saja, Choirul Tanjung, Eka Tjipta Widjaja, Bob Sadino, Nurhayati Subarkah, Oesman Sapta Odang dan masih banyak lagi.

Ketika saya tinggal di Jakarta, terlihat banyak perantau sukses di parlemen. Sebut saja Muhaimin Iskandar, Slamet Effendy Yusuf (alm), Muqowam, Aria Bimo, Mujib Rohmat, Victor Loiskodat dan masih banyak lagi. Mereka tidak sekedar menjadi anggota tetapi menjadi pimpinan DPR MPR RI. Demikian pula banyak yang menjadi Menteri Negara, bahkan Presiden Indonesia.

Keberhasilan atau kesuksesan mereka selain ditentukan oleh faktor diri sendiri; etos kerja, motivasi dan elan vital, juga dipengaruhi oleh faktor pertemanan dan melieu. Mereka ada kalanya bertemu dengan “tukang minyak wangi” ada pula yang berteman dengan “tukang minyak wangi” yang bermetamorfosis menjadi “tukang besi”. Konsekuensi logisnya, kesuksesan mereka ada kalanya dibarengi dan atau diakhiri dengan kenistaan dengan predikat kriminal, koruptor penghuni terali besi.

Fatalism

Dari kampung jauh seorang emak sesak nafas setelah seharian menangis. Dia bagai terhempas dari singgasana ke selokan bacin. Ibarat panas setahun dilumat hujan sehari; belum lama menikmati pujian dan kesenangan atas kesuksesan anaknya yang merantau di metropolitan, kini tersiar kabar anaknya tersandung masalah serius, jadi tersangka dugaan tindak pidana korupsi. Sungguh merupakan musibah kubro bagi keluarga emak yang selalu menimang anaknya dengan syair tombo ati.

Dalam dunia nyata, mencari tukang minyak wangi sebagaimana teks hadits nabi rasanya sesulit mengubah tongkat menjadi ular. Ibnu Katsir yang menjual minyak wangi untuk menafkahi keluarganya tidak ada di bumi Nusantara, demikian pula Abu Ubaidullah. Dimungkinkan bisa mendapatkan barokah dan syafaat tukang minyak wangi, tapi dimungkinkan pula barokah dan syafaat tersebut menjelma menjadi petaka dan musibah seiring bermetamorfosisnya tukang minyak wangi menjadi tukang besi.

Dalam kehidupan yang cenderung hedonis dan pragmatis, kita sering terjebak pilihan imajiner;   yang nyata dan metamorgana, yang saleh dan toleh, yang toyib dan khobis dan yang bayyin dan mutasyabihat. Diperlukan ilmu, laku dan wirid doa sapu jagat, jika ingin selamat.

Seseorang yang kesandung tindak pidana korupsi, termasuk perantau sukses bisa bernasib fatal. Tidak saja dia terjerembab dalam kenistaan, tetapi keluarga besarnya bisa terperosok dalam perundungan, bahkan kharisma orang tua bisa terdegradasi dalam tempo singkat.

Pertemanan yang baik bukan  harus sehidup semati, apalagi seterali besi. Berteman yang baik adalah saling menjaga dalam kehormatan dan saling menasehati dalam kebaikan tanpa mengorbankan diri demi balas budi, apalagi mengorbankan karakter, ideologi dan religi. Banyak contoh di negeri pertemanan yang berlanjut di balik terali besi karena melakukan tindak korupsi. Dalam pidana korupsi dikenal istilah follow the money, yang artinya bau keringat tukang besi akan dilacak sampai diketemukan bukti.

Jangan biarkan emak-emak yang menimang anaknya dengan syair tombo ati berganti menyanyi lagu sendu dibarengi linangan airmata. Jangan biarkan keluarga yang ada di puncak kenyamanan larut dalam drama broken home dan fatalism. Jangan biarkan anak yang membanggakan kesuksesan orang tuanya justru merubah anaknya terbebani kelakuan orang tuanya.

Di era sekarang ini, tukang minyak wangi tidak mutlak memberi efek bau wangi, tetapi ada kalanya memberi api atau jelaga. Diperlukan kepekaan dan kepandaian, kapan mendekat tukang minyak wangi dan kapan menjauhi nya.

(Mufid Rahmat/Mantan Anggota DPR-RI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *