Peternak Sapi Perah Siap Tingkatkan Produktivitas dan Jaga Kualitas Susu

SEMARANG[NuansaJateng] – DPRD Jateng menilai aksi protes dari peternak sapi perah dan pengepul susu di sentra produksi susu sapi di Jateng suatu fenomen cukup menarik dan diharapkan ke depan tidak akan terjadi lagi.

Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh mengatakan fenomen itu diharapkan tidak terulang ke depan, mengingat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman telah mempertemukan peternak sapi perah, pengepul, dan industri pengolahan susu (IPS), guna meredakan ketegangan setelah adanya aksi protes dari peternak dan pengepul.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah untuk memenuhi kebutuhan susu di dalam negeri dengan akan dimulainya program makan bergizi gratis pada 2025 diharapkan dapat mendorong usaha peternak sapi perah lebih bergairan.

“Sebelum progam itu berjalan, sebaiknya perlu diperbaikan regulasi dari hulu dan hilir. Jika saat ini pemerintah menganggap produksi susu peternak lokal hanya terserap 20% dan 80% impor, ke depan harus dibalik jadi produk lokal lebih besar dan impornya mulai dikurangi,” ujar  Saleh dalam Dialog Prime Topic yang digelar di Soul Café Banyumanik Semarang, Jumat (22/11).

Dialog yang mengusung tema ‘Menggairahkan Kembali Peternak Susu’ dipandu oleh moderator Dendi Ganda, selain menghadirkan nara sumber Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh, juga Plt Kadismakkeswan Jateng Ignasius Hariyanta Nugraha, Kepala Bidang Industri Agro, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Ikwan Joko Istarto Sp Msi, Direktur Cimory Dairyland Kabupaten Semarang Agus Purwoko Jati dan Pembina & Peternak UD Pramono Kabupaten Boyolali Pramono.

Menurut Saleh, untuk mendorong peningkatan produksi susu lokal perlu adanya dukungan pemerintah, baik regulasi, pembinaan peternak sapi perah hingga diharapkan hasil susu menjadi lebih berkualitas sesuai standarisasi yang dibutuhkan IPS.

Peternak sapi perah membutuhkan dukungan regulasi agar lebih bergairah menjalankan usaha memproduksi susu segar dalam negeri (SSDN).

Sementara itu, Plt Kadismakkeswan Jateng Ignasius Hariyanta Nugraha menuturkan, sebelumya beberapa kali terjadi keluhan peternak di sentra produksi susu di Jateng, mereka mengalami nasib pahit. Ribuan liter susu segar hasil panen tidak terserap oleh pabrik pengolah susu.

Kondisi itu, tutur Ignasius Hariyanta Nugraha, fakta cukup memprihatinkan, di mana perusahaan pengolah susu dikabarkan telah menerapkan kebijakan pembatasan pasokan susu sapi dari peternak lokal.

Mereka berdalih, pembatasan pasokan tersebut disebabkan oleh perbaikan mesin. Namun, kabarnya pabrik tetap melanjutkan produksi dengan memanfaatkan bahan baku susu impor.

Dia menambahkan, susu segar hasil panen peternak yang tidak terserap, bahkan dibuang itu merupakan  susu yang sudah rusak atau sudah lebih dari 24 jam sejak dari perahan sapi hingga ditolak oleh sejumlah IPS.

“Namun, masih ada kepedulian dari pengepul dan koperasi mereka tetap menampung hasil panen peternak dengan harga beli yang sama, meski susu tersebut akhirnya juga dibuang,” tuturnya.

Menurutnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman telah mengambil langkah konkret, Kementan akan mengubah regulasi untuk mewajibkan industri susu menyerap susu dari peternak lokal.

“Seluruh industri pengolah susu wajib menyerap susu peternak, karena telah sepakati bersama, dengan ditandatangani bersama antara peternak, pengepul dan industri pengolahan, dan akan ditindaklanjuti oleh dinas peternakan provinsi dan kabupaten,” ujar Ignasius Hariyanta Nugraha.

Dengan adanya kebijakan ini, industri pengolahan susu nasional harus bisa meyerap semua susu peternak, kecuali susu memang mengalami kerusakan. Kebijakan ini diyakini akan berdampak pada meningkatnya gairah para peternak sapi perah dalam berproduksi.

Senior Advisor Manager Cimory Group  Agus Purwoko Djati mengatakan salah satu alasan industri tak menyerap produksi susu peternak lokal adalah karena kualitasnya yang belum bisa bersaing dengan produk susu impor. Belum lagi, susu peternak dalam negeri juga mengandung bahan-bahan tertentu yang tidak aman dikonsumsi masyarakat.

“Dengan demikian, dinilai enggak sesuai standar food safety, keamanan pangan, sehingga enggak bisa diterima,” tuturnya.

Selain itu, Agus juga mengakui kalau produksi dalam negeri juga sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional.

“Jadi, harga bukan isu. Isu utama adalah kualitas,” ujarnya.

Perlu diketahui, kebutuhan susu sapi segar Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 4,7 juta ton. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu mencukupi 1 juta ton di antaranya atau sekitar 21% dari total kebutuhan susu segar nasional. Sementara 79% sisanya dipenuhi dari impor.

“Diharapkan dengan peningkatan kualitas susu yang dihasilkan oleh peternak yang ada di masyarakat, akses masyarakat terhadap susu berkualitas akan lebih mudah dijangkau, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat Indonesia” tutur Agus.

Pembina & Peternak UD Pramono Kabupaten Boyolali Pramono mengatakan IPS hanya menyerap sekitar 110.000 liter per hari. Padahal, produksi susu oleh para peternak dan pengepul mencapai 140.000 liter per hari. Artinya, ada 30.000 liter susu per hari yang tidak terserap.

Menurutnya, jika peternak hanya fokus pada produksi susu dengan harga jual yang rendah, keuntungan yang didapat juga tidak signifikan didapatkan. Oleh karena itu untuk memajukan peternakan tidak cukup hanya memproduksi, tetapi perlu solusi lain, bisnis yang terintegrasi.

Dia menyambut baik kebijakan Kementan dan berharap kebijakan ini dapat memberikan keuntungan bagi peternak kecil seperti dirinya.

“Ini kebijakan yang tepat dan menguntungkan peternak kecil. Terkait standar kualitas susu yang diminta IPS, kami siap memenuhi karena produk ini digunakan untuk susu formula dan makanan,” ujarnya.

Meski setoran susu ke pengepul sudah kembali normal, Pramono berharap ada pembinaan dari IPS kepada peternak.

Persoalan lainnya, harga susu rendah karena kualitas rendah. Kualitas rendah karena peternak menghemat. Peternak berhemat karena tidak untung, mereka tidak untung karena harga susu rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *