Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat bersama rombongan mahasisa FK Unnes

Mahasiswa FK Unnes Belajar Riset dan Pengembangan Herbal di Pabrik Sido Muncul

UNGARAN[NuansaJateng] – Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Semarang (Unnes)⁠ mendapat kesempatan melihat langsung proses pengembangan produk herbal modern di pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk⁠, Bergas, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (7/5).

Dalam kunjungan tersebut, mereka berdialog langsung dengan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat, mengenai riset herbal hingga inovasi produk kesehatan berbasis tanaman obat.

Selain itu, mahasiswa FK Unnes itu juga didorong untuk berani melakukan penelitian herbal terhadap berbagai penyakit modern, seperti diabetes.

Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan pentingnya pembuktian ilmiah terhadap produk herbal agar dapat diterima masyarakat luas maupun kalangan medis. Menurutnya, pengembangan herbal modern harus berjalan berdampingan dengan penelitian yang terukur.

“Sebagai perusahaan jamu, kami ingin punya bukti-bukti ilmiah. Tujuannya bukan hanya menjual produk, tetapi membantu masyarakat dan membuat dokter maupun konsumen yakin terhadap manfaat herbal,” ujar Irwan.

Dia menambahkan, Sido Muncul⁠ saat ini terus mengembangkan penelitian terhadap berbagai tanaman herbal Indonesia seperti sambiloto dan daun salam. Penelitian dilakukan dengan pendekatan yang lebih efektif agar proses pengembangan produk bisa berlangsung lebih cepat.

Menurut Irwan, inovasi metode penelitian diperlukan karena riset konvensional membutuhkan waktu panjang dan biaya besar. Karena itu, perusahaan mencoba mencari pola penelitian yang tetap sesuai aturan namun lebih efisien.

“Kami mencoba melakukan jalan pintas penelitian yang tetap sesuai aturan. Dengan begitu, kami bisa lebih cepat mengetahui apakah suatu produk memiliki manfaat atau tidak,” tutur Irwan.

Di hadapan mahasiswa, Irwan juga menceritakan pengalaman pribadinya saat mengalami penurunan trombosit akibat penyakit yang pernah dideritanya. Pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik mempelajari manfaat tanaman herbal untuk membantu proses pemulihan kesehatan.

Menurutnya, dia pernah mengonsumsi air rebusan daun pepaya sebagai pendamping pengobatan medis yang dijalaninya. Dari situ, dia semakin yakin bahwa pengobatan herbal memiliki potensi besar jika terus diteliti secara ilmiah.

Kunjungan Mahasiswa Falkutas Kedokteran Unnes di pabrik Sido Muncul, di Bergas, Kabupaten Semarang

“Pengalaman pribadi itu membuat saya percaya bahwa herbal perlu terus diteliti secara ilmiah supaya manfaatnya benar-benar terbukti,” ujarnya.

Kunjungan mahasiswa FK Unnes itu juga menjadi sarana pengenalan industri jamu modern kepada calon dokter. Selain berdialog, peserta diajak melihat langsung proses produksi dan pengolahan herbal di kawasan pabrik Bergas.

Irwan berharap, kolaborasi antara industri herbal dan perguruan tinggi dapat terus diperkuat, mengingat keterlibatan mahasiswa kedokteran penting untuk mendukung pengembangan riset tanaman obat Indonesia di masa depan.

Pada kesempatan tersebut menegaskan masa depan jamu Indonesia sangat bergantung pada riset dan pembuktian ilmiah agar dapat diterima lebih luas di dunia medis.

Irwan menuturkan, Indonesia memiliki kekayaan tanaman herbal yang luar biasa, namun pemanfaatannya harus diperkuat dengan penelitian yang terukur dan berbasis laboratorium.

“Mahasiswa jangan takut meneliti. Misalnya diabetes atau penyakit lainnya, diteliti secara ilmiah. Kalau hasilnya bagus, nanti bisa diuji lebih lanjut melalui laboratorium,” tutur Irwan.

Menurutnya, upaya pengembangan jamu berbasis ilmiah sebenarnya sudah lama didorong pemerintah melalui program saintifikasi jamu yang berkembang sejak sekitar 2010. Program tersebut menjadi langkah awal untuk mempertemukan pengobatan tradisional dengan dunia medis modern.

Berbagai kebijakan pemerintah, tutur Irwan, dari masa ke masa turut membuka ruang agar jamu lebih diterima masyarakat luas. Pada era Presiden Megawati, misalnya, muncul dorongan budaya minum jamu, sementara pada pemerintahan Presiden Joko Widodo pengembangan pendidikan dan riset herbal juga terus diperkuat.

“Berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan herbal nasional, mulai dari kampanye budaya minum jamu hingga pendidikan dokter berbasis herbal, sudah dilakukan sejak 2010,” ujar Irwan.

Dia menilai tantangan terbesar jamu selama ini adalah minimnya literatur ilmiah yang dapat diterima kalangan akademik dan tenaga kesehatan.

Karena itu, Sido Muncul mengembangkan Sido Herbalpedia, portal digital berbasis literatur review yang memuat berbagai hasil penelitian dan edukasi mengenai tanaman herbal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *