Dorong Daya Saing, Sido Muncul Jadi Orang Tua Asuh UMKM Obat Bahan Alami
BANDUNG[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul Tbk salah satu perusahaan yang berkontribusi menjadi Orang Tua Asuh UMKM Obat Bahan Alami, dalam progam memperkuat kapasitas dan daya saing UMKM Obat bahan alami Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Bank Mandiri berupaya memperkuat kapasitas dan daya saing industri, UMKM Obat dan makanan Indonesia.
Pada kick off Program Orang Tua Angkat UMKM Obat Bahan Alam dan Kosmetik serta penandatanganan komitmen kerja sama antara Orang Tua Angkat UMKM dengan UMKM Anak Angkat, Sidomuncul menjadi salah satu perusahaan yang berkontribusi menjadi Orang Tua Angkat Obat Bahan Alami.
Progam itu, untuk memfasilitasi percepatan pengembangan dunia usaha obat dan makanan, sehingga perlu memperkuat kemitraan dengan lintas sektor dalam rangka penguatan kapasitas dan daya saing pelaku usaha, khususnya dalam mendukung pelaksanaan program pemerintahan baru.
Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sidomuncul Tbk, Irwan Hidayat mengatakan penandatanganan nota kesepahaman dengan BPOM dan Bank Mandiri menjadi komitmen memberikan peran untuk jadi orang tua asuh.
Menurutnya, Sido Muncul berbagi pengalaman dengan para UMKM. Selain itu, mereka dibina dari segi pemasaran, desain dan kualitas produk.
“Saya sendiri yang akan terjun bersama tim dari mulai registrasi, dan lainnya. Kami juga memberi masukan prospek seperti apa, dan lebih efektif karena bisa terhubung dengan kami,” ujarnya saat di Trans Convention Center, Rabu (16/10).
Dia bersyukur pihaknya dipercayai jadi Orang Tua Angkat Bahan Alami, dan berkontribusi untuk mendorong kekayaan alam obat herbal yang harus terus dilestarikan.
“Saya berharap, supaya kekayaan alam ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Pemerintah bisa memanfaatkan ini bagi pelayanan kesehatan. Karena pengalaman saya obat herbal itu baik, dan ada khasiatnya. Tapi dunia kesehatan kita masih mengandalkan import obat luar,” tutur Irwan.
Industri Jamu, tutur Irwan, di Indonesia memiliki potensi besar karena beberapa faktor. Selain meningkatnya minat terhadap produk kesehatan alami dan herbal, serta kesadaran masyarakat akan manfaat obat alami bagi kesehatan juga semakin naik.
Bahkan kekayaan biodiversitas Indonesia menyediakan banyak bahan baku untuk produk jamu yang berkualitas.
“Di Indonesia sebenarnya potensi tanaman jamu ada 29.000-an jenis. Tapi baru 300-an jenis saja yang sudah melewati uji toksisitas dan masuk ke daftar BPOM. Nanti kita bisa kerja samakan untuk uji toksisitasnya, misal untuk pengadaan ekstraknya. Ini nanti juga ada uji sertifikasinya,” ujar Irwan.
Selain itu, dukungan pemerintah dalam promosi produk lokal dan peningkatan standardisasi serta sertifikasi juga memperkuat industri jamu ini.
Pasar ekspor jamu juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, terutama di negara-negara dengan konsumen besar terhadap alternatif pengobatan alami.
Inovasi dalam pengolahan, pemasaran, dan branding juga menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing jamu di pasar global.
Dengan memanfaatkan teknologi dan penelitian, industri jamu dapat terus berkembang dan mampu memenuhi permintaan yang semakin meningkat.
“Ini bukan soal bisnis tapi nilai local wisdom, karena ada oppurtunity, bisa membantu kesehatan,” tutur Irwan.
Irwan menambahkan, perusahaan yang memproduksi jamu, Sido Muncul tetap menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dan riset ilmiah, sehingga Sido Muncul pengolah bahan baku herbal secara maksimal dan menjadi produk berkhasiat dan bermutu.
Melalui riset ilmiah, tutur Irwan, Sido Muncul memastikan bahwa produknya berhasiat dan aman dikonsumsi. Bahkan sejak puluhan tahun hingga saat ini jamu dan obat herbal Sido Muncul semakin digemari masyarakat.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menuturkan, berdasarkan catatan pihaknya, saat ini terdapat 224 industri obat, 151 industri obat bahan alam dan 1.002 UMKM obat bahan alami, 121 industri kosmetik dan 1.057 UMKM kosmetik.
“Sedangkan untuk komoditi pangan olahan terdapat 883 Industri dan 9.210 UMK pangan olahan,” ujarnya.
Sementara peran industri UMKM dalam perekonomian, industri farmasi pada 2020 sebesar Rp110,6 triliun dan perkiraan akan naik 9,8% pada 2025 menjadi Rp176,3 triliun.
Untuk Pendapatan Domestik Bruto (PDB) UMKM setara Rp9.580 triliun dan 97% tenaga kerja Indonesia diserap oleh UMKM atau sebanyak 117 juta pekerja.
“Pendampingan ini untuk meningkatkan status UMKM, manajemen usahanya dibantu Orang Tua Angkat dengan harapan bisa mapan dan semakin berkembang,” tuturnya.
Senada, Direktur Jaringan dan Retail Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengatakan hingga Juni 2024, jumlah pembiayaan untuk 1,24 juta UMKM mencapai sebesar Rp180 triliun.
