Jateng Gencar Gaet Investor Untuk Sektor Energi Terbarukan
SEMARANG[NuansaJateng] – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah semakin gencar menggaet investor sektor energi terbarukan, setelah sebelumhya pabrik perakitan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Kabupaten Magelang telah diresmikan operasionalnya oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada awal April 2026.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Sakina Rosellasari mengatakan nilai investasi sektor energi terbarukan di Jawa Tengah pada 2024 mencapai sebesar Rp5,7 triliun, dan pada 2025 senilai Rp1,4 triliun.
“Nilai investasi 2025 dibanding 2024 terlihat menurun. Hal ini karena pada 2024 masih dalam tahap pembangunan, pembelian lahan, dan belanja modal. Sementara pada 2025 pabrik sudah mulai beroperasi,” ujarnya, Rabu (22/4).
Sakina menambahkan, sektor industri yang telah menanamkan modal di Jawa Tengah, di antaranya pabrik solar cell dan baterai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang dan KEK Kendal.
“Kemudian, yang baru diresmikan Presiden di Kabupaten Magelang adalah pabrik perakitan kendaraan listrik, terutama bus, truk, dan forklift,” tuturnya.
Untuk menarik calon investor, pihaknya melakukan sejumlah langkah, di antaranya menginventarisasi potensi energi baru terbarukan (EBT) di 35 kabupaten/kota. Potensi tersebut kemudian dirangkum dalam Investment Project Ready to Offer (IPRO), dan ditawarkan kepada calon investor melalui forum seperti Central Java Investment Business Forum (CJIBF).
Sakina menuturtkan, peluang investasi hijau yang masih dapat dikembangkan di antaranya potensi panas bumi di Banjarnegara dan Wonosobo, energi bayu, serta pengelolaan sampah di 35 kabupaten/kota.
Analis Institute for Essential Services Reform (IESR), Zakki Muwafiq mengatakan ada tiga potensi EBT yang layak dikembangkan dari sisi profitabilitas, yakni pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).
“Potensi terbesar di Jawa Tengah adalah PLTS di 12 lokasi yang tersebar di 10 kabupaten, dengan potensi energi mencapai 13 gigawatt,” ujarnya.
Hal tersebut sejalan dengan proyeksi kebutuhan listrik di Jawa Tengah yang terus meningkat. Berdasarkan data RUPTL PLN, konsumsi listrik di Jateng meningkat 4,5% dalam 10 tahun terakhir.
“Dalam empat tahun terakhir bahkan terjadi peningkatan signifikan hingga 5,3%. Artinya, ada kebutuhan yang perlu disuplai oleh EBT, sehingga ini menjadi peluang besar,” tuturnya. (rs)
