Sido Muncul- FK UNS Kolaborasi Dorong Pemanfaatan Tanaman Herbal
SOLO[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk mengembangkan bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Kolaborasi kedua belah pihak itu ditandai dengan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama mengenai pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berlangsung di Auditorium FK UNS, Rabu (18/9).
Selain penandatangan kerja sama itu, juga digelar kegiatan Seminar Nasional Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Tradisional untuk Mendukung Gerakan Indonesia Sehat yang mengulas dari upaya saintifikasi jamu yang berbasis penelitian dan pelayanan kesehatan.
Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Irwan Hidayat juga didaulat untuk berbagi ilmu bidang industri jamu dan farmasi.
Irwan dengan komitmennya dalam mengembangkan produk-produk herbal yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tetapi juga ramah lingkungan. Bahkan tidak hanya sukses di bidang industri jamu dan farmasi, tetapi aktif menerapkan praktik-praktik keberlanjutan
Obat herbal telah digunakan secara empirik oleh masyarakat Indonesia, sehingga dibutuhkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jamu agar visi obat herbal menjadi tuan rumah di Indonesia dapat terwujud.
Menurutnya, para calon dokter harus mengerti kekayaan herbal Indonesia termasuk kegunaannya serta manfaat yang meiliki khasiat bagi kesehatan.
“Saya ingin bagaimana membuat produk lebih baik dan bagaimana bisa memanfaatkan obat herbal untuk kepentingan kesehatan masyarakat. Jadi para mahasiswa kedokteran harus tahu bahan-bahan jamu dan kegunaannya, sehingga bisa menjadi terapi pendamping,” ujar Irwan Hidayat.
Irwan menambahkan, kekayaan alam rempah dan herbal Indonesia harus dimanfaatkan sebagai jamu yang tergolong bukan obat-obatan berbahaya. Pengetahuan inilah yang dapat menjadi dasar para dokter untuk menyarankan penggunaan produk herbal alami dalam pengobatan.
“Mereka belajar tentang khasiat dan kita yang buat produknya yang sesuai karena harus terstandar, ada uji toksisitas dan dari akademi akan menggunakan. Kalau ide saya diterapkan pada Fakultas Kedokteran, jamu bisa diposisikan sebagai obat atau pendamping pengobatan pasien sehinga kekayaan alam bisa dimanfaatkan dengan baik,” tutur Irwan.
Irwan mengatakan dalam mengelola perusahaan tidak mengutamakan regulasi dahulu, tetapi memutuskan dengan hati dan kemudian akal. Semua itu, membawa hasil ketika 1997 dia membangun Sido Muncul di pabrik baru yang keempat.
“Kami bangun lagi lab-nya 2000 M2 sekarang ditambah jadi 3000 M2 dan yang bekerja di lab kami itu ada 260 orang. Saat ini mereka bekerja 24 jam tergantung shift,” ujar Irwan.
Perusahaan Sido Muncul saat ini telah mewadahi berbagai disiplin ilmu jebolan universitas. Terbanyak didominasi farmasi, kemudian analis, kimia, rekam medis, dan lain lain.
Menurutnya, hal penting dari keberlangsungan perusahaan Sido Muncul adalah karena membantu masyarakat. Dana iklan yang dikeluarkan, untuk membantu operasi seperti katarak, atau stunting, bukan untuk iklan tetapi untuk membantu masyarakat.
“Semua orang sukses, bukan karena gurunya, tetapi semua orang sukses karena ingin sukses. Guru itu hanya memotivasi, saya bisa memotivasi orang tetapi kita harus bisa melakukan sendiri dengan lebih,” ujar Irwan.
Irwan Hidayat adalah tokoh penting dalam industri jamu dan farmasi di Indonesia. Sebagai Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk, dia berhasil membawa perusahaan ke arah yang lebih modern dan berwawasan lingkungan.
Sementara itu, Dekan FK UNS Prof Dr Reviono dr Sp P (K) menyambut baik kerja sama ini untuk memberi pengetahuan lebih pada mahasiswa tentang pemanfaatan dan pengolahan bahan herbal.
“Kami mengharapkan mahasiswa bisa tahu bagaimana cara pembuatan obat herbal misal magang di Sido Muncul agar tahu prosesnya, tahaptahap uji klinik, selama ini kami hanya tahu teori,” tutur Prof Reviono.
Salah satu peserta seminar, dosen farmakologi FK UNS Dr dr Ratih Puspita Febrinasari dr MSc menuturkan, kolaborasi antara pendidikan, industri dan pemerintah diperlukan untuk industri herbal untuk kesehatan masyarakat.
“Menarik sekali, kami yang mengikuti seminar ini bisa mengetahui perkembangan herbal di Indonesia terkait regulasi, permasalahan dan sejarahnya. Bahkan obat herbal itu bisa digunakan sebagai terapi tambahan, tidak mengantikan terapi utama tapi pendukung terapi kesehatan,” ujarnya.
