Sido Muncul Bersama Universitas Andalas Dorong Pemanfaatkan Obat Herbal
PADEK[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menggelar Simposium Nasional pemanfaatan obat herbal sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan nasional.
Kegiatan itu bertujuan untuk mendorong saintifikasi jam, yakni pendekatan ilmiah berbasis penelitian terhadap pemanfaatan obat herbal guna mengintegrasikan jamu dalam layanan kesehatan formal.
Simposium yang mengusung tema ”Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat” diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari berbagai kalangan tenaga medis, mulai dari dokter, apoteker, hingga praktisi kesehatan lainnya itu digelar di Aula Student Center M Syaaf Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Selasa (15/4).
Enam narasumber kompeten dari berbagai lembaga dan institusi dihadirkan dalam kegiatan itu, di antaranya Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik dari BPOM RI apt Mohamad Kashuri SSi M Farm, Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI Dita Novianti Sugandi Argadiredja SSi Apt MM dan Wahyu Widayani SSi Factory Head PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk,
Selain itu, juga menghadirkab tiga akademisi dan peneliti yang telah aktif melakukan studi terhadap obat herbal, khususnya produk Tolak Angin, di antaranya Dr dr Neni Susilaningsih MSi dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Dr apt Ipang Djunarko SSi MSc dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan somposium ditutup dengan pemaparan dari Prof Dr dr Satya Wydya Yenny Sp DVE Subsp DKE MAg FINSDV Guru Besar Dermatologi Kosmetik dan Estetik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik dari BPOM RI apt Mohamad Kashuri SSi M Farm memaparkan materi mengenai Kebijakan Pengawasan Obat Tradisional Indonesia dalam Mendukung Program Indonesia Sehat.
Menurutnya, pentingnya regulasi yang ketat namun suportif dalam memastikan keamanan dan khasiat obat herbal di masyarakat.
Senada Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI, Dita Novianti Sugandi Argadiredja SSi Apt MM mengatakan kebijakan terkini pemerintah terkait penggunaan obat tradisional dalam layanan kesehatan nasional, memperkuat posisi jamu dalam sistem pengobatan komplementer dan alternatif yang berbasis bukti ilmiah.
Sementara itu, Apt Wahyu Widayani SSi Factory Head PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menururkan, bagaimana industri herbal, khususnya Sido Muncul, telah mengadopsi standar Good Manufacturing Practices (GMP) dalam proses produksi jamu untuk menjamin mutu dan keamanan produk yang dihasilkan.
Dr dr Neni Susilaningsih MSi dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, menyampaikan hasil Uji Manfaat Tolak Angin, yang menunjukkan bahwa produk ini memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan daya tahan tubuh dan meredakan gejala masuk angin berdasarkan hasil riset terkontrol.
Sedangkan Dr apt Ipang Djunarko SSi MSc dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, membahas hasil Uji Toksisitas Subkronis Tolak Angin. Menurutnya berdasarkan uji laboratorium, Tolak Angin terbukti aman dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu dengan dosis sesuai anjuran.
Prof Dr dr Satya Wydya Yenny Sp DVE Subsp DKE MAg FINSDV Guru Besar Dermatologi Kosmetik dan Estetik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, yang mengangkat tema Implementasi Riset Bahan Alam: Universitas Andalas dan Potensi Industri Obat Kosmetika.
Direktur PT Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat melalui Apt Wahyu Widayani SSi Factory Head PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, menyampaikan harapannya agar melalui simposium nasional ini, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang jamu dapat terus berkembang.
“Kalau dunia kedokteran, ide saya dan nanti kerjasamanya supaya bisa diwujudkan di fakultas kedokteran diajarkan khasiat tanaman-tanaman obat dan kegunaannya, jadi dipelajari. Tugas saya nanti, pabrik Sido Muncul membuat bahan baku obat jadi yang misalnya, jahe, temulawak, kunyit terstandar,” ujarnya.
Irwan menambahkan, impiannya adalah agar jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mendapat pengakuan sebagai bagian dari pengobatan ilmiah dan terstandar bias cepat terwujud.
Sejak pertama kali digelar pada 2007, simposium nasional yang diinisiasi Sido Muncul ini telah berlangsung sebanyak 52 kali, menjadi bukti konsistensi perusahaan dalam memajukan jamu melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif.
Sementara itu, salah seorang peserta symposium dr Muhammad Ivan yang merupakan dokter spesialis bedah RS Unand menuturkan, sebenarnya untuk pemanfaatan obat herbal terstandar, banyak praktisi kesehatan yang sudah memanfaatkannya.
“Namun memang ada sedikit kendala terkait regulasi dari pemerintah, sehingga saat ini pemanfaatan obat herbal terstandar terbatas hanya pada praktik-praktik mandiri,” tuturnya.
Namun melalui kegiatan yang digelar Sido Muncul ini, praktisi kesehatan bisa mengetahui tentang obat herbal, cara pemanfaatannya, dan juga edukasi terkait obat herbal itu.
