Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat

Mendag Budi Santoso Dorong Ekspansi Sido Muncul Ke Pasar Global

SEMARANG[NuansaJateng] – Menteri Perdagangan (Mendag) Dr Budi Santoso MSi melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke pabrik PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (25/7).

Kunjungan tersebut untuk melihat langsung proses produksi jamu modern dan mendengarkan aspirasi dari industri jamu terkait tantangan dan peluang di pasar internasional.

Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat turut hadir secara daring melalui sambungan zoom untuk menyambut kunjungan Mendag. Irwan mengungkapkan kebahagiaan atas kehadiran Mendag.

“Saya bahagia sekali Bapak Mendag bisa datang ke tempat kami, terutama sebagai orang yang lahir di Sukoharjo, tempat begitu banyak jamu,” ujar Irwan.

Selain itu, Irwan juga mengungkapkan kesulitan dan kendala yang dihadapi Sido Muncul sebagai perusahaan jamu terbesar dalam upaya mengenjot ekspor ke berbagai negara tujuan.

“Tentunya kami butuh bantuan bapak sebagai pengusaha kami punya kesulitan salah satunya, yaitu kesulitan perdagangan di luar negeri,” tutur Irwan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso

Irwan menuturkan, regulasi tiap negara berbeda-beda dan kadang cukup menyulitkan para pengusaha, khususnya di bidang jamu. Sebab, tidak semua negara memiliki produk jamu, sehingga regulasi perdagangannya cukup ketat.

Salah satu kendala utama adalah regulasi yang berbeda di setiap negara tujuan ekspor. Dia mencontohkan, di Selandia Baru dan Australia, madu dalam produk Tolak Angin dilarang, sementara di Arab Saudi, produk jamu yang mengandung pala tidak dapat masuk karena melanggar aturan setempat.

“Di banyak negara, jamu itu tidak ada, kecuali di Cina dan India. Untuk mengatasi hal ini, Sido Muncul telah berinovasi dengan mengubah klasifikasi produknya menjadi food supplement di pasar internasional, namun untuk bahan tertentu seperti madu terpaksa mengikuti regulasi yang berlaku,” ujar Irwan.

Irwan sangat berharap agar Pemerintah lebih mempromosikan jamu di kancah Internasional, sebagai upaya membantu produk-produk jamu nasional lebih cepat bisa dikenal di seluruh dunia.

Bahkan pihaknya sudah berupaya mempromosikan jamu ke dunia dengan berbagai cara. Salah satunya menjual produk jamu ke destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan luar negeri.

Tidak hanya itu, tutur Irwan, pihaknya juga selalu mentaati aturan dari Pemerintah. Mulai dari memenuhi syarat BPOM, kebijakan mengenai lingkungan, hingga perpajakan.

“Kami taat membayar pajak bahkan dengan rela hati kami membayar karena kami tahu hanya dengan ini kami membantu pemerintah dan mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai perusahaan yang mengikuti peraturan dengan baik,” tutur Irwan.

Menurutnya, pihaknya pun siap untuk turut serta berpartisipasi membantu dan mensukseskan program pemerintah. “Pada intinya sebenarnya Sido Muncul siap untuk membantu program pemerintah apa pun supaya keberadaan kami ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas,” tutur Irwan.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan tanggapan paparan Irwan. Mendag menyampaikan apresiasinya terhadap Sido Muncul sebagai eksportir produk herbal dan jamu yang telah lama berkiprah.

Menteri Perdagangan Dr Budi Santoso MSi Mengunjungi Pabrik Sido Muncul

Mendag juga menyampaikan beberapa program Kementerian Perdagangan yang dapat dimanfaatkan Sido Muncul dan UMKM lainnya untuk memperluas pasar ekspor.

Salah satunya adalah program Business Management, di mana UMKM dapat mempresentasikan produknya kepada 33 perwakilan perdagangan Indonesia di 46 negara.

“Dari Januari sampai Juni sudah terfasilitasi sekitar 699 UMKM yang didistribusi dan transaksinya sudah mencapai US$87,04 juta atau sekitar Rp1,3 triliun,” ujar Budi.

Mendag juga menawarkan kesempatan bagi perusahaan dan kampus untuk magang di kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat belajar cara berjualan di negara tersebut dan menjadi eksportir di masa depan, sementara perusahaan dapat melakukan riset pasar.

Terkait perluasan akses pasar, Budi optimistis dengan perjanjian-perjanjian perdagangan yang telah dan akan diselesaikan, seperti IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang telah selesai, perjanjian dengan Eurasia (Rusia dan sekitarnya) yang diharapkan rampung akhir tahun ini, serta dengan Kanada dan Peru.

“Semua itu dilakukan sebenarnya untuk membuka akses pasar kita di luar negeri,” tutur Mendag.

Bahkan Mendag juga menyoroti Tarif Trump yang dikenakan sebesar 19%, yang menurutnya paling rendah di ASEAN bersama Filipina, namun dengan pasar Indonesia yang lebih besar.

“Harapan kami, dengan tarif ini juga ekspor kita akan semakin meningkat dan investasi di dalam negeri juga akan bertambah,” ujarnya.

Budi juga turut mengundang Sido Muncul untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia yang akan diselenggarakan pada 15-19 Oktober mendatang. Modernitas produksi Sido Muncul dan keyakinannya bahwa produk jamu Indonesia memiliki potensi besar di pasar global, bahkan hingga ke Afrika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *