Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat saat meninjau Rawa Pening

Rawa Pening Layak Jadi Destinasi Wisata Dunia

SEMARANG[NuansaJateng] – Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah diproyeksikan menjadi tujuan wisata tingkat dunia karena memiliki beragam potensi yang bisa dikembangkan.

Danau seluas 2.700 hektare itu memiliki panorama alam sangat indah karena dikelilingi tiga gunung di antaranya Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Namun, danau yang dikenal dengan legenda “Baru Klinting” itu menyimpan kendala besar, yaitu eceng gondok dan sedimentasi.

Hampir 70% danau tertutup eceng gondok meskipun upaya pembersihan telah berulang kali dilakukan. Bahkan kini pengembangan Rawa Pening sebagai destinasi wisata tingkat dunia memperoleh dukungan berbagai pihak.

Tidak hanya Pemprov Jateng dan Pemkab Semarang, tetapi dukungan juga datang dari pihak swasta dan masyarakat, termasuk PT Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk yang berbasis di Bergas, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Kepedulian Sido Muncul untuk membangkitkan wisata Rawa Pening tak diragukan lagi. Pabrik jamu terbesar ini juga gencar mempromosikan obyek wisata Rawa Pening menjadi destinasi wisata unggulan melalui iklan Kuku Bima Energi di kawasan Rawa Pening.

Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat mengajak Pemprov Jateng, Pemkab Semarang dan masyarakat secara bersama berupaya untuk dapat mewujudkan Danau Rawa Pening  menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Menurutnya, Danau Rawa Pening sangat layak dikembangkan menjadi destinasi pariwisata bertaraf internasional. Bahkan banyak pemanfaatannya selain untuk irigasi lahan pertanian, budidaya perikanan, energi listrik, pemenuhan air baku, dan bahan kerajinan tangan.

Dia meyakini, jika kawasan tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata yang menarik, maka akan semakin banyak orang yang datang. Dampaknya, sektor pariwisata bisa tumbuh, lapangan kerja terbuka, nilai tanah meningkat, dan pendapatan asli daerah pun ikut terdongkrak.

“Jika Rawa Pening bersih dari eceng gondok dan dapat dijadikan destinasi wisata yang mendunia, akan mendatangkan pendapatan asli daerah serta membuka lapangan kerja. Turis-turis yang datang ke Solo dan Yogyakarta bisa lanjut ke Rawa Pening. Apalagi jika jalan tol Semarang-Solo-Yogyakarta sudah terhubung,” ujar Irwan.

Dia optimistis danau alam Rawa Pening bisa menjadi destinasi wisata dunia, jika infrastruktur dibenahi, termasuk dukungan akses dan transportasi menuju lokasi wisata yang menawarkan panorama alam perbukitan dan asri. Sektor pariwisata sangat berkontribusi kepada pemerintah dan kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi wisata.

“Rawa pening bisa di jadikan daerah wisata yang menguntungkan. Bisa menghasilkan uang dan tidak perlu dana besar,” tutur Irwan.

Dalam upaya melakukan pembersihan eceng gondok pun Sido Muncul juga telah memprakarsai dengan eceng gondok menjadi briket untuk bahan bakar.

Wisata Air Rawa Pening

“Saya sudah buat peletnya, bahkan mesinnya sudah ada. Kalorinya 4.300, dan bisa dijual sekitar Rp1.600. Ini bisa jadi bahan bakar murah untuk UMKM sekitar dan sekaligus mengatasi eceng gondok. Tapi sayangnya, belum ada pihak yang benar-benar menindaklanjuti,” ujar Irwan.

Irwan mengatakan pengelolaan Rawa Pening tidak bisa dilakukan secara parsial, mengingat pemanfaatan sumber daya lokal bukan hanya mendukung konservasi, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai ekonomi lahan, dan menjadikan kawasan ini lebih berdaya guna.

Irwan menambahkan, mengembangkan pariwisata harus ada lokomotifnya. Peringkat pertama atau kedua pariwisata adalah wisata air, sehingga potensi air di Danau Rawa Pening harus benar-benar diberdayakan. Tanaman eceng gondok dan sedimentasi yang merusak kecantikan Rawa Pening harus dihilangkan.

Tidak kalah penting adalah adanya peraturan yang mengatur pembangunan berdasarkan perorangan di kawasan rawa. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu membuat Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) agar garis rawa tidak dikuasai investor. Tanpa adanya RDTR, biasanya para investor membangun rumah di pinggir danau. Padahal sekeliling danau harus berupa jalan lingkungan, kemudian 100 atau 200 meter jarak dari jalan lingkungan baru diperboleh ada bangunan.

“Pemerintah punya kelebihan dan kekurangan. Demikian pula saya sebagai pihak swasta punya kekurangan tidak bisa membuat peraturan. Tapi kelebihan saya lebih gesit dan bergerak cepat. Sedangkan pemerintah bisa menyiapkan regulasi,” tuturnya.

Irwan menuturkan, Pemprov Jateng, Pemkab Semarang, akademisi, pengusaha, masyarakat, serta pihak-pihak terkait lainnya harus bersama-sama secara terpadu memajukan industri pariwisata Rawa Pening. Salah satunya dengan menjaga kelestarian alam dan seni budayanya sehingga kesejahteraan masyarakat sekitar juga meningkat.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menjalin kolaborasi dan kerja sama dengan Prefektur Shiga, Jepang dalam berbagai bidang, salah satunya terkait pembenahan Danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang.

Delegasi dari Shiga telah melakukan peninjauan lapangan dari hulu ke hilir di kawasan Rawa Pening. Selain itu, paparan data terkait kondisi dan tantangan di danau tersebut juga sudah diberikan.

Rawa Pening memiliki fungsi vital sebagai penyangga ekosistem, sumber air baku, pengendali banjir, hingga penopang ekonomi masyarakat dan destinasi wisata.

Bagi Pemprov Jateng, menurut Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, pembenahan Rawa Pening bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan agenda strategis yang berkaitan dengan ketahanan air, energi, dan ekonomi masyarakat. Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci agar danau tetap lestari dan produktif.

Selain itu, Pemprov Jateng juga mendorong Rawa Pening menjadi lokasi percontohan atau pilot project, dengan dukungan hibah maupun transfer teknologi dari Prefektur Shiga, yang memiliki pengalaman dalam mengelola Danau Biwa -danau terbesar di Jepang.

Tidak hanya itu, Luthfi juga mendorong pemanfaatan Danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang memberikan kebermanfaatan untuk masyarakat sekitar. Pemanfaatan itu baik untuk destinasi wisata, pertanian dan perikanan, maupun dalam kaitannya kelestarian lingkungan.

“Rawa pening ini kan termasuk destinasi wisata. Namun, di sini banyak masyarakat yang memanfaatkan untuk kegiatan bertani, ada yang mencari ikan, ada karamba, dan wisata. Di sisi lain, di Rawa Pening ini banyak enceng gondok yang bisa didayagunakan,” ujar Luthfi.

Luthfi menambahkan, Rawa Pening termasuk di antara danau yang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat dan provinsi. Rawa Pening juga akan diproyeksikan masuk dalam salah satu bagian aglomerasi wisata berdampingan dengan Borobudur dan Kopeng.

“Rawa Pening harus menjadi destinasi wisata yang bisa dinikmati oleh masyarakat di Jateng, bahkan internasional. Konsepnya nanti silakan dikembangkan tanpa mengubah kebiasaan kearifan lokal para petani dan masyarakat kita,” tuturnya.

Selain itu, tutur Luthfi, salah satu hal penting terkait Rawa Pening yaitu terkait kelestarian alam atau lingkungan hidup. Menurutnya, ekosistem di Rawa Pening harus dirawat dengan baik untuk warisan generasi masa depan.

Lebih daripada itu, Rawa Pening juga menjadi salah satu hulu sungai yang mengalir sampai di beberapa daerah. Maka dari itu, lanjut Luthfi, Rawa Pening sangat penting sebagai pusat pengendali banjir di wilayah Semarang, dan sekitarnya.

“Secara tidak langsung ini akan memberikan manfaat tidak hanya untuk kawasan pengendali banjir, tapi juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Wisatanya dapat, pertaniannya dapat, perikanannya dapat, wisatanya dapat. Inilah simbiosis yang harus kita jaga bersama pemerintah provinsi dan kabupaten,” ujarnya.

Luthfi pun mendukung penuh rencana pengembangan wisata air di kawasan Rawa Pening, Kabupaten Semarang. Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperkuat kawasan aglomerasi pariwisata Borobudur–Kopeng–Rawa Pening.

Dari investor, PT Pandawa Sapto Dewi Pesisir asal Cilacap, dikabarkan siap mengembangkan destinasi wisata tersebut, setelah bersama Bupati Semarang Ngesti Nugraha melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah pada Kamis 25 Juni lalu.

“Borobudur, Kopeng, Rawapening ini menjadi satu aglomerasi yang akan kita kembangkan. Namun memang harus dikoordinasikan dengan berbagai pihak, karena Rawapening juga kawasan konservasi,” tutur Luthfi.

Bupati Semarang, Ngesti Nugroho mengatakan siap mendukung Gubernur Ahmad Luthfi yang akan membuat aglomerasi wisata Rawa Pening, Kopeng, dan Borobudur. Dia menunggu arahan selanjutnya, terkait perwujudan dari konsep aglomerasi tersebut untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Rawa Pening.

“Kami menunggu arahan dari Gubernur terkait pengembangan destinasi wisata di Kabupaten Semarang, khususnya Rawa Pening dan Kopeng. Semoga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Direktur PT Pandawa Sapto Dewi Pesisir, Miskun menyatakan bahwa perusahaannya melihat potensi besar di Rawa Pening untuk dijadikan destinasi wisata berbasis perairan. Dia juga menyebutkan bahwa gubernur meminta agar proses pengembangan dapat segera dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *