Memasuki Usia ke-75, Sido Muncul Pastikan Kualitasnya Tetap Terjaga
JAKARTA[NuansaJateng] – Menginjak usia ke-75, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk menegaskan komitmennya dalam menjaga mutu dan keamanan produk berbasis herbal melalui penguatan riset ilmiah.
Tolak Angin sebagai bukti salah satu produk Sido Muncul yang melewati rangkaian uji praklinik, termasuk uji toksisitas, yang dilakukan bersama institusi akademik terkemuka.
Bahkan melalui penguatan riset ilmiah, Sido Muncul terus melakukan langkah strategis perusahaan dalam menjaga kualitas dan keamanan produk herbal.
Sejak melakukan terobosan pada 1992 dengan menghadirkan Tolak Angin dalam bentuk cair siap minum dalam kemasan sachet, Sido Muncul tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga pada penguatan standar ilmiah.
Transformasi ini menjadikan produk lebih praktis, higienis, dan relevan dengan kebutuhan konsumen modern, sekaligus menuntut pembuktian ilmiah yang lebih ketat.
Untuk memastikan keamanan dan khasiat, perusahaan menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) dan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam serangkaian penelitian yang mencakup uji toksisitas, uji mutu bahan baku herbal, hingga uji khasiat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Tolak Angin cair selama tujuh hari dapat meningkatkan jumlah limfosit T perifer serta produksi sitokin tipe 1, tanpa mempengaruhi fungsi hati dan ginjal. Temuan ini menjadi dasar bahwa produk aman dikonsumsi sesuai aturan yang ditetapkan.
Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan riset ilmiah menjadi fondasi utama dalam setiap pengembangan produk perusahaan.
“Kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk harus terjaga kualitasnya, termasuk Tolak Angin yang didukung oleh penelitian ilmiah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen agar produk yang diminum benar-benar aman, berkualitas, dan bermanfaat,” ujar Irwan dalam kegiatan edukasi dan pemaparan hasil penelitian Tolak Angin di House of Jamu, Cipete, Jakarta Selatan, Selasa, (20/1).
Menurut Irwan, uji toksisitas terbaru dilakukan sebagai bagian dari pembaruan ilmiah setelah lebih dari dua dekade. Uji sebelumnya dilakukan sekitar 23 tahun lalu, ketika Tolak Angin masih berbentuk serbuk jamu yang harus direbus.
“Seiring perubahan bentuk produk menjadi cair siap minum, kami memandang perlu dilakukan pengujian ulang dengan pendekatan ilmiah terkini bersama Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro. Kedua lembaga ini independen, sehingga hasilnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan,” tutur Irwan.

Ke depan, Irwan menilai dukungan pemerintah terhadap kemandirian obat nasional akan semakin menguat pada 2026, sejalan dengan visi perusahaan.
“Menghadapi 2026, kami ingin menegaskan Sido Muncul adalah perusahaan yang siap dengan produk berbasis ilmiah. Ketahanan dan kemandirian pengobatan nasional harus ditopang oleh riset yang kuat,” ujarnya.
Saat ini, Tolak Angin hadir dalam berbagai varian, mulai dari Tolak Angin Cair, Serbuk, Tablet, Flu, Anak, Kapsul, hingga Batuk, yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Sementara itu, dari sisi teknis Dr apt Ipang Djunarko SSi MSc dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma menuturkan, uji toksisitas merupakan tahapan fundamental sebelum suatu produk herbal digunakan secara luas oleh manusia.
“Uji toksisitas adalah langkah awal untuk memastikan keamanan. Penelitian ini dilakukan dengan metode bertingkat dosis, mulai dari kontrol negatif hingga dosis tertinggi,” tutur Ipang.
Pengamatan dilakukan selama tiga bulan, mencakup evaluasi gejala klinis, pemeriksaan darah rutin, serta uji kimia klinik untuk menilai kemungkinan efek toksik secara biokimia.
Selain itu, seluruh hewan uji juga menjalani pembedahan untuk mengamati perubahan fisiologis, biokimia, dan struktural pada organ-organ vital. Tim peneliti turut melakukan uji reversibilitas guna memastikan tidak ada dampak jangka panjang setelah penghentian perlakuan.
“Hasilnya, setelah penggunaan Tolak Angin cair selama periode pengamatan, tidak ditemukan efek toksik yang signifikan,” ujar Ipang.
Temuan ini menjadi dasar ilmiah bahwa produk aman digunakan sesuai dosis yang dianjurkan, sekaligus memperkuat posisi Tolak Angin sebagai produk herbal terstandar berbasis riset.
Senada apt Phebe Hendra PhD dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma mengatakan pengujian dilakukan pada tikus jantan dan betina selama 90 hari, yang jika dikonversikan setara dengan 101 bulan penggunaan.
“Uji toksisitas pada hewan diharapkan dapat menggambarkan keamanan penggunaan pada manusia. Pada dosis tertinggi, setara konsumsi sembilan sachet sekaligus selama periode panjang, tidak ditemukan kematian maupun perubahan signifikan pada hewan uji,” tutur Phebe.
Dari sisi khasiat, Dr dr Neni Susilaningrum MSi dari Fakultas Kedokteran Undip menyampaikan Tolak Angin terbukti berperan dalam menjaga daya tahan tubuh melalui peningkatan respons imun, sekaligus menjadi syarat naiknya level Tolak Angin dari jamu ke obat herbal terstandar.
“Dalam klasifikasi BPOM, ada jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Tolak Angin telah melewati uji toksisitas dan uji khasiat sehingga naik level sebagai obat herbal terstandar,” ujarnya.
Komisaris Independen Sido Muncul DR dr Mohammad Adip Khumaidi SpOT yang hadir secara langsung dalam acara ini menegaskan seluruh rangkaian penelitian tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban ilmiah kepada publik.
“Scientifically proven berarti seluruh proses produksi dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Penelitian ini adalah bagian dari kewajiban kami untuk memastikan produk dibuat melalui proses yang kredibel secara ilmiah,” tuturnya.
Peran Brand Ambassador
Selain pemaparan ilmiah, acara ini juga menghadirkan testimoni dari figur publik. Sebagai Brand Ambassador Sido Muncul Andy F Noya menilai konsumen kini menuntut pembuktian ilmiah atas manfaat produk herbal.
“Di era sekarang, konsumen tidak hanya percaya karena tradisi, tetapi karena ada proses ilmiah di belakangnya. Pengakuan terhadap pengobatan tradisional semakin kuat ketika didukung oleh riset dan teknologi modern,” ujar Andy.
Dia menambahkan, investasi Sido Muncul pada teknologi dan penelitian menjadi kunci agar warisan herbal tetap relevan di sistem kesehatan modern.
Sementara itu, Prof Rhenald Kasali PhD, Brand Ambassador lain Sido Muncul juga menilai pengembangan produk herbal berbasis riset memiliki implikasi strategis bagi daya saing ekonomi nasional.
“Indonesia perlu mengembangkan produk-produk berbasis science dengan nilai tambah tinggi. Produk seperti ini bukan hanya penting untuk kesehatan, tetapi juga untuk memperkuat struktur ekspor,” tutur Rhenald.
Menurutnya, di tengah dominasi negara lain pada teknologi tinggi, Indonesia memiliki peluang besar melalui produk olahan berbasis kekayaan alam yang diolah secara ilmiah dan bermerek kuat.
“Produk branded berbasis riset dapat membuat neraca perdagangan lebih stabil dan tidak fluktuatif. Ini arah industri masa depan yang perlu terus didorong,” ujarnya.

Kepercayaan Konsumen Jadi Kunci
Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani menambahkan, seluruh rangkaian pemaparan ini ditujukan untuk membangun literasi konsumen di tengah derasnya arus informasi.
“Penjelasan dari para ahli dan juga dari bintang iklan hari ini kami harapkan dapat memberi informasi yang utuh bagi konsumen. Masyarakat sekarang semakin cerdas dalam memilah mana informasi yang benar dan mana yang tidak,” tutur Maria.
Dia mengatakan, Sido Muncul percaya konsumen mampu menentukan pilihan secara rasional.
“Kami yakin konsumen adalah orang-orang pintar. Orang pintar minum Tolak Angin. Mereka bisa memilih produk yang baik berdasarkan informasi yang benar,” ujarnya.
Memasuki usia ke-75 tahun, Sido Muncul tidak hanya merayakan panjangnya perjalanan, tetapi menegaskan arah masa depan menjadikan jamu nasional sebagai produk kesehatan modern yang teruji, terstandar, dan berdaya saing global.
Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas, strategi berbasis riset ini bukan hanya menjaga kepercayaan konsumen, tetapi juga memperkuat posisi Sido Muncul sebagai benchmark industri herbal Indonesia.
