Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat, Direktur Smile Train Indonesia Deasy Larasati, Direktur RS Hermina Galaxy dr Hardimas, MKes CRP bersama pasien dan keluarga pasien operasi Bibir Sumbing

Kuku Bima dan Tolak Angin Sido Muncul Gelar Operasi Sumbing Bibir Gratis Untuk 50 Pasien di Bekasi

BEKASI[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali menggelar bhakti sosial operasi sumbing bibir gratis untuk 50 pasien di RS Hermina Galaxy, Bekasi, (Kamis (2/7). Kali ini bhakti sosial dilaksanakan produk unggulannya Kuku Bima dan Tolak Angin, bekerjasama dengan Smile Train Indonesia.

Bhakti sosial ini merupakan bentuk kepedulian Sido Muncul terhadap anak-anak yang mengalami kelainan bawaan berupa sumbing bibir dan langit-langit.

Bantuan senilai Rp325 juta diserahkan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat secara simbolis kepada Direktur Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, didampingi Direktur RS Hermina Galaxy dr Hardimas MKes CRP.

Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan program operasi sumbing bibir gratis merupakan bentuk kepedulian Sido Muncul terhadap anak-anak yang mengalami kelainan bawaan tersebut serta keluarga mereka.

Menurutnya, orang tua dari anak penyandang sumbing bibir menghadapi tantangan yang tidak ringan, baik dari sisi biaya maupun kondisi psikologis.

“Kami bisa merasakan bahwa anak-anak yang menderita sumbing bibir kesulitan untuk makan, berbicara, dan kurang percaya diri terhadap penampilannya. Karena itu, hari ini kami kembali memberikan bantuan operasi sumbing bibir gratis bagi 50 penderita di wilayah Bekasi,” ujar Irwan.

Dia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang secara konsisten dijalankan Sido Muncul di bidang kesehatan. Selain operasi bibir sumbing, perusahaan juga rutin mengadakan operasi katarak gratis serta program penanganan stunting.

“Bantuan yang diberikan ini merupakan bagian dari upaya Sido Muncul untuk terus berkontribusi dalam membantu masyarakat dan mendukung penanganan berbagai persoalan kesehatan di Indonesia,” tutur Irwan.

Program operasi sumbing bibir gratis telah dijalankan Sido Muncul sejak 2018 dan pertama kalinya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Selain bekerja sama dengan Smile Train Indonesia, Sido Muncul juga menggandeng berbagai lembaga dan yayasan di sejumlah daerah untuk membantu penyandang sumbing bibir mendapatkan layanan operasi.

Hingga pertengahan 2026, Kuku Bima dan Tolak Angin Sido Muncul tercatat telah memfasilitasi operasi bibir sumbing bagi 774 pasien di berbagai wilayah Indonesia, sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat

Irwan  menyadari bantuan ini tidak begitu besar, namun dia meyakini bahwa sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan memberikan manfaat.

“Saya mengajak, marilah saling membantu. Gunakan bisnis ini untuk berkontribusi kepada masyarakat serta terus menyebarkan dan mengabarkan tentang kebaikan,” ujarnya.

Irwan berharap, melalui kegiatan ini, akan semakin banyak pihak dan pelaku usaha lainnya yang turut bersama-sama membantu masyarakat yang membutuhkan.

Menurutnya, Irwan menambahkan, pelaksanaan bibir sumbing gratis adalah bagian dari komitmen Sido Muncul untuk membantu mengurangi jumlah angka penderita bibir sumbing  di Indonesia yang terus bertambah setiap tahunnya.

“Kami ingin menggunakan dana yang kami miliki dari iklan dan promosi, untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Selian mengadakan operasi bibir sumbing  gratis, juga operasi katarak gratis,” tutur Irwan.

Irwan juga memberikan semangat kepada para orang tua pasien agar tetap optimistis menghadapi proses pengobatan anak-anak mereka. Menurutnya, bibir sumbing dapat diperbaiki melalui tindakan operasi yang ditangani tenaga medis berpengalaman.

“Jangan khawatir, yang penting kita semua memiliki niat baik. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan anak-anak bisa sembuh,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Smile Train Indonesia, Deasy Larasati menuturkan, program kolaborasi bersama Sido Muncul telah berlangsung selama beberapa tahun dan berhasil membantu ratusan pasien bibir sumbing dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Makassar dan Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya, bibir sumbing masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di Indonesia. Diperkirakan satu dari sekitar 700 kelahiran mengalami kondisi tersebut sehingga setiap tahun terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 bayi lahir dengan bibir sumbing maupun celah langit-langit.

Deasy menekankan pentingnya operasi dilakukan sedini mungkin agar perkembangan kemampuan bicara, tumbuh kembang, serta kondisi psikologis anak dapat berlangsung secara optimal.

“Bibir sumbing dapat diperbaiki melalui operasi yang relatif singkat. Anak-anak ini memiliki hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan menjalani kehidupan tanpa diskriminasi,” tuturnya.

Dia mengajak masyarakat untuk menyebarluaskan informasi mengenai layanan operasi bibir sumbing gratis agar semakin banyak keluarga yang memperoleh akses pengobatan tepat waktu.

Direktur Rumah Sakit Hermina Galaxy dr Hardimas MKes CRP menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Sido Muncul, Smile Train, dan tim dokter yang terlibat dalam kegiatan bakti sosial operasi sumbing bibir dan langit-langit.

“Kami pihak rumah sakit memiliki tenaga spesialis bedah plastik dan bedah yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi para pasien,” ujarnya.

Dia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak anak Indonesia yang memperoleh kesempatan menjalani operasi dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Program operasi bibir sumbing gratis ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif antara sektor swasta, lembaga sosial, dan fasilitas kesehatan dalam memperluas akses layanan bedah rekonstruksi bagi anak-anak penyandang bibir sumbing di berbagai wilayah Indonesia. Selain membantu pemulihan kondisi fisik, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, serta masa depan para pasien dan keluarganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *