BI Jateng Kembali Gelar Bedah Buku “Menaklukkan Kebahagiaan”

SEMARANG[NuansaJateng] – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah (KPwBl Jateng) kembali menggelar Serial Bedah Buku Ketiga bertema “Refleksi Tiga Zaman (Sejarah, Sains, Filsafat) Menuju Bangsa Beradab”, Jumat(21/11).

Kegiatan ini menghadirkan penulis buku-buku filsafat populer, Fahruddin Faiz yang membedah buku berjudul Menaklukkan Kebahagiaan.

Buku tersebut berisi tentang pemahaman mengenai perjalanan manusia dalam mencapai kebahagiaan dan kematangan intelektual. Buku ini dipilih sebagai upaya mendukung transformasi Indonesia menuju bangsa yang beradab.

Acara yang berlangsung di Aula Kantor BI Jateng itu diikuti oleh akademisi, mahasiswa, pegiat literasi, hingga pustakawan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia memperkuat ekosistem literasi dan ruang dialog intelektual bagi masyarakat.

Kepala KPwBI Jateng, Rahmat Dwisaputra berharap acara bedah buku ini dapat menjadi inspirasi bagi para peserta. Bahkan untuk menjadi masyarakat yang berilmu, beretika, serta beradab.

“Semoga Pak Faiz bisa merangkaikan dan bisa memberikan pecerahan kepada kita. Bagaimana kita bisa bersikap, beretika, beradab,” ujarnya.

Dia mengajak para peserta untuk menerima hidup secara lengkap, baik saat di atas maupun saat di bawah.

Menurut Rahmat, sejarah memiliki peran vital dalam membentuk karakter ekonomi yang beradab dan berpihak pada nilai keadilan.

“Ekonomi itu harus dibangun dengan etika oleh adab dan pemahaman kita akan sejarah bangsa Indonesia, sejarah kita sendiri,” tutur Rahmat.

Dia menilai, tanpa landasan sejarah, kebijakan ekonomi mudah kehilangan arah dan nilai kemanusiaan. Pemahaman masa lalu menjadi penuntun bagi keputusan masa kini.

Selain sejarah, Rahmat menekankan peran sains sebagai pilar berpikir yang metodologis dan rasional dalam mengambil keputusan kebijakan.

Sementara itu, Sang penulis, Fahruddin Faiz menuturkan, banyak diksi yang dapat dipilih selain menaklukkan, baik mencari kebahagiaan, maupun meraih kebahagiaan. “Buya Hamka itu punya istilah merancang kebahagiaan, kemudian ini ada menaklukan kebahagiaan,” ujarnya.

Menurutnya, “Kata ‘menaklukkan kebahagiaan’ itu kalau dipanjangkan mungkin pasnya menaklukan diri untuk meraih kebahagiaan. Ini, sebenarnya, awalnya kumpulan kajian.

Dia juga menyebut salah satu tokoh dalam bukunya, Bertrand Russell, yang mengatakan kunci bahagia terletak pada kemampuan menaklukan diri. “Diawali dari selflove, kita cintai diri kita, baru kita tebarkan cinta kepada orang lain,” tuturnya. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *