Agustina-Iswar Siap Lanjutkan Program Pengurangan Emisi di Kota Semarang
SEMARANG[NuansaJateng] – Calon Wali Kota Semarang nomor urut 01 Agustina Wilujeng Pramestuti siap melanjutkan program pengurangan emisi efek dari gas rumah kaca yang telah dilakukan pemerintahan sebelumnya.
Hal ini disampaikan Agustina saat Debat Publik yang digelar oleh KPU Kota Semarang Jumat (1/11) malam di MG Setos Semarang.
Agustina memaparkan jika dia dan pasangan Iswar Aminuddin akan memperluas layanan transportasi umum, membuat gerakan pemakaian mobil dan motor listrik (molis) hingga menambah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
Selain itu dia akan melakukan transisi energi seperti pengadaan instalasi tenaga surya dengan melihat kecukupan APBD.
Kemudian memberi ruang inventor muda untuk melakukan berlomba mencari energi alternatif serta pengembangan energi terbarukan dengan bahan yang ada di Kota Semarang.
Menurutnya, memang selama 10 tahun Kota Semarang hebat Ketika dipimpin merah (PDI-P), sehingga berbagai prestasi termasuk penurunan emisi berhasil.
“Nah upaya kami melanjutkan prestasi pengurangan emisi itu dengan memperluas layanan transportasi publik, Gerakan pembukaan mobil dan motor listrik (Molis) dengan membangun stasiun pengisian listrik,” ujar Agustina.
Agustina menambahkan, bersama Iswar juga akan mengubah lampu-lampu jalan dengan tenaga surya.
Kemudian Agustina menjelaskan kenapa banyak bus Trans Semarang mengeluarkan gas buang dengan asap pekat. Hal itu terjadi karena jumlah busnya tidak sesuai dengan jumlah penumpang sehingga membuat bus over kapasitas, tidak pernah istirahat, lalu mengalami korosi.
“Maka kami berencana untuk menambah jumlah layanan sehingga armada yang ada tidak over penumpang yang dampaknya kondisi bus tidak diforsir sampai kurang servis,” tuturnya.
Sementara itu, disisi lain kedua pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang membahas tentang pemerataan perekonomian di Kota Semarang yang hingga kini masih berpusat di Simpang Lima.
Calon Wakil Wali Kota Semarang nomor urut 01 Iswar Aminuddin menandaskan untuk membuat kawasan seperti Simpang Lima tidaklah murah.
Dia juga mengatakan hal itu sebetulnya memang sudah direncanakan sejak lama namun terkendala dengan pembiayaan.
“Jadi kalau ada Simpang Lima kedua dan ketiga, itu sebetulnya perencanaan yang sudah lama. Namun karena keuangan pemerintah daerah atau Pemkot Semarang tidak mampu,” ujar Iswar.
Iswar menambahkan, untuk membebaskan tanah guna membuat area seperti simpang lima baru tersebut tidaklah murah.
“Berapa pembebasan tanah yang dibutuhkan, berapa pembangunan fisik yang dibutuhkan, dampak sosialnya seperti apa? berarti kan ada berapa banyak masyarakat lagi yang harus dipindah, biayanya begitu sangat besar,” tuturnya.
Melihat hal itu, maka pasangan nomor urut 01 Agustina Wilujeng dan Iswar Aminuddin lebih memilih pemeratan ekonomi di wilayah kecamatan masing-masing karena lebih murah biaya pembangunannya dibandingkan dengan membangun kawasan simpang lima baru.
“Itu ide bagus dalam rangka memecah pertumbuhan ekonomi yang lebih merata sehingga ada pusat-pusat pertumbuhan baru, tapi kalau kami Agustin-Iswar membangun pusat-pusat pertumbuhan baru itu di wilayah masing-masing. Sehingga tidak perlu dana besar, ada aktivitas ekonomi yang sederhana, ada aktivitas sosial dan budaya dalam suatu ruang masing-masing yang ada di wilayah masing-masing, itu sangat murah serta sangat realistis,” ujar mantan Sekda Kota Semarang tersebut.
Iswar menuturkan, Kota Semarang juga telah bertransformasi menjadi pusat ekonomi Jawa karena posisi strategis dan geografisnya yang berada dalam konektifitas antar wilayah di Pulau Jawa.
Menurutnya, Ibu Kota Jawa Tengah sudah terkoneksi dengan baik karena menjadi pusat perlintasan dan pusat logistik.
“Tol Jakarta-Semarang selesai, sekarang akan terbangun tol Semarang-Demak, kemudian akan dibangun tol Semarang-Solo-Yogya. Lalu ada pula Kawasan industri Demak, Kendal dan Batang yang membutuhkan Semarang sebagai pusat logistiknya,” tuturnya.
Dia menambahkan, jalur-jalur tersebut akan membuat Semarang menjadi kota penghubung sekaligus pusat logistik nasional. Sehingga menjadi pusat pengembangan ekonomi Pulau Jawa.
Iswar mengatakan pindahnya ibukota negara ke IKN juga diharapkan akan membuat Semarang menjadi pintu Pulau Jawa dalam konektifitas ekonomi dengan wilayah luar jawa, utamanya sekitar IKN.
“Potensi ini sudah terbuka lebar, namun kami perlu mengembangkan Pendidikan bagi warga Semarang agar SDM kita siap menerima potensi ekonomi yang begitu besar,” ujarnya.
Namun masih ada kendala dalam mengembangkan ekonomi. Masalah tersebut adalah rendahnya pendapatan dan daya beli masyarakat namun memiliki beban pengeluaran di luar kebutuhan rumah tangga, salah satunya iuran sosial.
Iswar menuturkan, pihaknya mengandalkan program dana RT Rp 25 juta pertahun untuk meringankan pengeluaran masyarakat demi memutus disparitas ekonomi warga Semarang.
“Kami berupaya terus memperkecil disparitas tersebut agar pendapatan dan belanja warga semakin setara,” tuturnya. (rs)
