Irwan Hidayat Tampil di Konferensi Internasional Tekankan Pentingnya Riset Terhadap Tanaman Obat
SOLO[NuansaJateng] – Pengembangan industri jamu nasional kini masih membutuhkan keterlibatan lebih luas antara perusahaan, perguruan tinggi dan pelaku usaha kecil serta petani.
Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan hasil penelitian ilmiah perlu dapat diakses lebih banyak pihak agar kekayaan tanaman obat Indonesia memiliki nilai ekonomi yang semakin besar.
Menurutnya, Indonesia memiliki beragam tanaman yang berpotensi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk herbal.
“Potensi tanaman obat nusantara sangat besar, bahkan kekayaan tanaman obat di Indonesia jumlahnya mencapai 38.000 jenis, namun masih perlu didukung dengan riset dan regulasi,” ujar Irwan dalam acara 2nd IKAFARI International Conference dan 4th International Conference on Health, Technology, and Life Sciences (ICOHELICS) 2026 di Harris Hotel & Convention Solo, Jumat (23/10).
Dalan konferensi internasional tersebut selain Dirut Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat juga hadir narasumber Prof Sharida Fakurazi, PhD (Universiti Putera Malaysia, Malaysia), Prof Nawi Ng, MPH, PhD (University of Gothenburg, Sweden), A/Prof Kuei-Hung Lai, PhD (Taipei Medical University, Taiwan), Dr Roxana Gheorghita (Univesitatea Stefan cel Mare din Suceava, Romania), Dr Ratih Dewi Yudhani, MSc (Universitas Sebelas Maret, Indonesia), Dr Ratih Tri Kusuma, SpPD (UNS, Indonesia), Dr Andrianes Bachnas, SpOG (UNS Indonesia) dan Anthony Sunjaya MD, MSc, PhD (University of New South Wales, Australia).
Irwan menambahkan, potensi tanaman obat tersebut perlu dikembangkan melalui penelitian yang sistematis, sehingga informasi mengenai keamanan dan manfaat bahan dapat dijelaskan berdasarkan bukti ilmiah.
Dia mencontohkan, pelaku usaha yang memproduksi jamu berbahan temulawak dapat memanfaatkan referensi penelitian untuk memahami potensi bahan tersebut dan memberikan informasi yang lebih baik kepada konsumen.
“Kalau mereka punya temulawak, mereka bisa melihat hasil penelitian mengenai khasiatnya. Dengan begitu, mereka bisa menjelaskan kepada konsumennya berdasarkan referensi yang tersedia,” tutur Irwan.
Salah satu persoalan yang menyita perhatian Irwan adalah keterbatasan pelaku usaha kecil dalam melakukan penelitian secara mandiri.
“Untuk kemandirian obat, jadi kita harus mandiri. Tujuannya untuk mengurangi impor obat dan mengembangkan obat tradisional (herbal). Kami sebagai perusahaan berupaya mendukung hal tersebut,” ujar Irwan.
Biaya, fasilitas, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan bukti ilmiah dapat menjadi tantangan bagi usaha dengan skala terbatas.
Untuk menjembatani kebutuhan tersebut, Sido Muncul bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Sanata Dharma dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Hasil penelitian dihimpun dan dipublikasikan melalui platform Sido Herbal Media.
Upaya tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperoleh referensi ilmiah tanpa harus membangun fasilitas penelitian sendiri.
Dengan dukungan informasi yang memadai, usaha kecil diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan produk berbahan tanaman obat.
“Tujuannya supaya usaha-usaha kecil ini bisa ikut berkembang. Mereka bisa memiliki dasar ilmiah untuk produk yang dibuat. Jangan sampai hanya beberapa pengusaha yang bisa berkembang. Harapannya, semuanya bisa ikut berkiprah dan memajukan industri jamu bersama-sama,” tutur Irwan.
Irwan berharap keterbukaan akses terhadap pengetahuan ilmiah dapat memperkuat ekosistem industri herbal Indonesia.
Dengan demikian, lanjutnya, pengembangan jamu tidak hanya terpusat pada perusahaan besar, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk tumbuh.
Pengujian Jadi Dasar Pengembangan Produk Herbal
Komitmen terhadap penelitian, tutur Irwan, telah menjadi bagian dari perjalanan pengembangan produk Sido Muncul. Sejak 2002, perusahaan mulai memperkuat standardisasi produk, dilanjutkan dengan pengujian praklinis dan toksisitas.
Tolak Angin menjadi produk pertama yang menjalani uji toksisitas dalam upaya tersebut.
“Pada 2002, pabrik kami selesai dibangun sehingga kami bisa melakukan standardisasi. Setelah itu, kami mulai melakukan uji praklinis dan uji toksisitas. Produk pertama yang kami uji toksisitas adalah Tolak Angin,” ujarnya.
Bagi Irwan, penelitian memiliki fungsi penting untuk mengetahui hasil pengujian secara objektif.
Tidak semua bahan yang diuji akan menunjukkan efek seperti yang diperkirakan. Namun, hasil yang tidak sesuai harapan tetap memberikan informasi untuk menentukan langkah berikutnya. “Ada bahan yang kami coba, tetapi ternyata tidak memberikan pengaruh. Dari situ kami mendapatkan informasi. Yang penting, kami mengetahui hasilnya,” tutur Irwan.
Proses penelitian perlu dilakukan dengan terbuka terhadap berbagai kemungkinan hasilnya. Pengembangan produk tidak cukup hanya mengandalkan klaim manfaat, tetapi juga membutuhkan pengujian yang sesuai yang diharapkan.
Sido Muncul juga merencanakan penambahan penelitian terhadap sekitar 200 bahan alami pada November mendatang. Melalui program tersebut, jumlah bahan yang terdokumentasi ditargetkan mencapai 269 jenis.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas basis pengetahuan mengenai bahan alami sekaligus mendukung pengembangan produk herbal yang lebih terukur.
Penguatan riset tanaman obat menjadi salah satu isu yang relevan dalam ICOHELICS 2026.
Konferensi yang berlangsung pada 22–23 Oktober tersebut mengangkat tema Advancing Clinical and Pharmacological Innovations to Achieve the SDGs: Tackling Obesity, Metabolic Disorders, and Diabetes for Global Health Equity.
Forum ini mempertemukan akademisi, dokter, farmakolog, mahasiswa, dan kalangan profesional untuk bertukar pengetahuan mengenai inovasi klinis, farmakologi, teknologi, serta ilmu hayati.
Ketua Panitia dr Ratih Puspita Febrinasari menilai pertemuan antara akademisi dan industri diperlukan untuk memperluas manfaat hasil penelitian
Menurutnya, komunikasi lintas sektor dapat membantu peneliti memahami kebutuhan industri sekaligus membuka peluang pengembangan hasil kajian. “Komunikasi tidak hanya dilakukan di lingkungan akademik, tetapi juga sampai pada bagaimana bekerja sama dengan industri,” ujar Ratih.
Dia berharap pertukaran pengalaman dalam konferensi dapat mendorong hasil penelitian menuju tahap pengembangan yang lebih aplikatif, termasuk peluang untuk dipasarkan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
“Harapannya, dari kerja sama tersebut bisa muncul wawasan terbaru, sampai akhirnya hasil penelitian dapat dikembangkan dan dipasarkan,” tuturnya.
Peserta konferensi berasal dari beragam latar belakang pendidikan dan profesi, mulai dari mahasiswa S1, S2, dan S3 hingga dokter, farmakolog, serta kalangan farmasi. Peserta dari Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Rumania, dan Oman juga turut ambil bagian.
Pertemuan tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri, sehingga penelitian tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas.
Bagi pengembangan jamu Indonesia, akses terhadap hasil penelitian, pengujian yang objektif, dan kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting untuk memperkuat daya saing produk herbal sekaligus memberikan kesempatan berkembang bagi usaha kecil.
