Irwan Hidayat Borong 500.000 Saham Sido Muncul
JAKARTA[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk mencatat adanya aksi pembelian saham oleh salah satu direksinya, setelah sebelumnya satu komisaris Sido Muncul melakukan aksi borong saham.
Direktur Sido Mumvul Dr (HC) Irwan Hidayat membeli saham Sido Muncul pada akhir Maret 2026. Aksi beli saham ini untuk investasi.
Transaksi ini menambah kepemilikan saham sang petinggi pada industri jamu tersebesar itu.
Dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada Jumat (3/4), manajemen menyebutkan bahwa pembelian saham tersebut dilakukan untuk tujuan investasi.
Irwan Hidayat dilaporkan memborong sebanyak 500.000 saham Sido Muncul pada harga Rp515 per saham pada 31 Maret 2026. Dengan demikian, total nilai transaksi mencapai sekitar Rp257,50 juta.
Pasca transaksi tersebut, kepemilikan saham Irwan Hidayat mengalami perubahan. Sebelumnya dia tercatat menggenggam 3.779.400 saham atau setara 0,013%, namun setelah aksi pembelian menjadi 3.279.400 saham atau sekitar 0,011%.
Sementara itu, sebelumnya Komisaris Sido Muncul Johan Hidayat membeli total sebanyak 1 juta lembar saham dengan nilai sekitar Rp514 juta.
Secara rinci, pada 12 Maret 2026, Johan memborong 200.000 saham Sido Mucul di harga Rp510 senilai Rp102 juta, kemudian 300.000 saham di harga Rp515 senilai Rp154,5 juta.
Selanjutnya, pada 13 Maret 2026, Johan kembali menambah kepemilikan dengan membeli 500.000 saham di harga Rp515 dengan total nilai Rp257,5 juta.
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Johan meningkat menjadi 2.857.068 lembar atau setara 0,01%, dari sebelumnya 1.857.068 saham atau 0,006%.
Pada penutupan perdagangan saham Kamis, 2 April 2026, harga saham SIDO naik 0,97% menjadi Rp 520 per saham. Saham SIDO dibuka stagnan di posisi Rp 515 per saham. Harga saham SIDO berada di level tertinggi Rp 525 dan level terendah Rp 510 per saham. Harga saham SIDO ditransaksikan 2.742 kali dengan volume perdagangan saham 133.626 saham. Nilai transaksi Rp 7 miliar.
Sementara itu, IHSG ditutup tersungkur 2,19% menjadi 7.026,78. Indeks saham LQ45 terpangkas 1,68% ke posisi 714,58. Seluruh indeks saham acuan memerah.
Jelang libur Paskah, IHSG berada di level tertinggi 7.161,79 dan terendah 7.019,23. Sebanyak 530 saham melemah sehingga menekan IHSG. 177 saham menguat dan 113 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 1.788.237 kali dengan volume perdagangan saham 25,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 12,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.978.
Pembelian saham Sido Muncul itu, seiring dengan gencarnya Irwan Hidayat menggaungkan kampanye “menabung saham”, sebagai upaya meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat Indonesia dalam investasi pasar modal.
Gagasan ini muncul dari fenomena kebiasaan masyarakat saat momen seperti Lebaran, di mana banyak orang menyimpan uang tunai tanpa dikelola secara produktif.
“Saya melihat banyak orang menyimpan uang, tapi tidak berkembang. Kenapa tidak ditabung dalam bentuk saham? Yan g lebih menguntungkan,” ujar Irwan.
Irwan mengatakan tingkat partisipasi masyarakat Indonesia dalam investasi saham masih tergolong rendah. Dia menyebut hanya sekitar 3–4% dari jumlah penduduk yang pernah berinvestasi di pasar saham.
Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat, di mana lebih dari 60% penduduknya telah berinvestasi di saham.
Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh rendahnya literasi keuangan serta kebiasaan masyarakat yang lebih memilih menabung di bank dengan imbal hasil relatif kecil.
Dalam kampanyenya, Irwan sengaja menggunakan istilah “menabung saham” dibandingkan “investasi saham” agar lebih mudah dipahami masyarakat. Dia menilai istilah investasi kerap dianggap rumit dan berisiko tinggi, sehingga membuat masyarakat enggan memulai.
“Kalau dibilang investasi, orang takut. Tapi kalau menabung, orang lebih familiar. Jadi saya pakai istilah menabung saham,” tuturnya.
Irwan menambahkan, menabung saham dapat dilakukan secara bertahap, sesuai kemampuan finansial, mulai dari nominal kecil seperti Rp100.000 hingga jutaan rupiah per bulan.
Dalam edukasinya, Irwan menyarankan masyarakat untuk memilih saham dari perusahaan yang memiliki rekam jejak baik dan konsisten membagikan dividen.
Sebagai langkah nyata, Irwan mulai mengimplementasikan kampanye ini di lingkungan internal perusahaan. Dari sekitar 4.000 karyawan Sido Muncul, baru sekitar 30 orang yang memiliki saham.
Dia ingin meningkatkan angka tersebut dengan mendorong karyawan menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli saham secara rutin. Menurutnya, edukasi paling efektif bukan hanya melalui teori, tetapi juga praktik langsung.
Irwan berharap kampanye “menabung saham” dapat mengubah pola pikir masyarakat dalam mengelola keuangan, dari sekadar menyimpan uang menjadi membangun aset jangka panjang.
Dengan meningkatnya partisipasi masyarakat di pasar modal, dia juga optimistis hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
