Irwan Hidayat & Johan Hidayat Borong Saham Sido Muncul Capai 3 Juta Lembar
JAKARTA[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk melaporkan perubahan kepemilikan saham perseroan oleh jajaran komisaris dan direksi perseroan, menyusul terdapat transaksi pembelihan saham oleh petinggi perseroan dengan total hingga 3 juta saham.
Merujuk dari keterbukaan informasi, Senin (16/3), Dewan Komisaris Sido Muncul Johan Hidayat dilaporkan telah menambah kepemilikan 1 juta saham SIDO dari 1,85 juta saham menjadi 2,85 juta saham.
Hal tersebut juga menambah hak suara yang bersangkutan dari 0,006% menjadi 0,01%. Berikutnya, Direksi SIDO Irwan Hidayat yang dilaporkan menambah jumlah kepemilikan sebanyak 2 juta saham, dari 1,27 juta saham menjadi 3,27 juta saham. Hak suara Irwan Hidayat juga bertambah dari 0,004% menjadi 0,011%.
Pada penutupan pasar Senin (16/3), saham SIDO ditutup turun 0,98% ke Rp505. Level harga tersebut mencerminkan koreksi 6,48% secara year to date (YtD).
Dalam kesempatan terpisah, sebelumnya Direktur Sido Mucul Dr (HC) Irwan Hidayat membagikan tips berinvestasi saham yang layak dan menguntungkan dibeli. Menurutnya, penting untuk berorientasi pada investasi jangka panjang dibandingkan melakukan trading saham.
“Berinvestasi di saham, mendapat dividen dan juga tambahan nilai usaha jika perusahaan berkembang. Ini berbeda dengan deposito yang hanya mendapat bunga,” ujarnya saat berbuka puasa dengan pers di Semarang, Kamis (12/3).
Irwan mengingatkan bahwa investasi di saham tetap ada risiko rugi kalau harga saham turun. Namun, dalam jangka panjang ada potensi mendapatkan untung. Dia mencontohkan di saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang pada 2000 awalnya hanya Rp500 sekarang ada di sekitar Rp6.875.
“Oleh karena itu pilih perusahaan yang sudah lama, mapan dan menjadi perusahaan Tbk cukup lama. Kemudian profit dan pembagian dividennya banyak dan keuangannya kuat,” tutur Irwan.
Selain itu, Irwan merekomendasikan saham emiten yang memiliki postur kecil utang di bank. Dari sisi pendanaan, menurutnya, instrumen obligasi masih lebih baik namun tetap harus memperhatikan aspek rasio utang.
Irwan juga menyarankan investor untuk membeli saham pada saat harga undervalue atau saat pembagian dividen. Selain itu, investor bisa menunggu laporan triwulan pertama di akhir Maret 2026.
Bahkan Irwan mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai mengubah pola pikir dalam mengelola keuangan, dengan pembelian saham dipastikan bakal memiliki berbagai peluang menarik di tengah ketidakpastian global.
Bagi Irwan salah satu strategi yang paling efektif dalam membangun portofolio adalah dengan memilih sektor-sektor saham utama yang memiliki potensi pertumbuhan kuat.
Dalam memilih saham untuk investasi, tutur Irwan, sektor dengan kapitalisasi pasar terbesar sering mencerminkan fundamental yang kuat, prospek pertumbuhan jangka panjang, serta minat tinggi dari investor institusi maupun ritel.
Irwan mengatakan dengan sekadar menyimpan uang di bawah bantal atau mendiamkannya di bank tidaklah sangat produktif, namun dengan menginvestasikan pada saham sudah barang tentu lebih menguntungkan, tidak hanya deviden yang diperoleh, namun akan lebih untung untuk jaka panjang jika harga saham teus melonjak.
Dari bukti nyata itu, Irwan kini mulai mengkampanyekan investasi saham lebih menarik, bahkan akan terus mendorong masyarakat untuk mulai melirik investasi saham sebagai instrumen masa depan yang menjanjikan.
​Namun, dia mengingatkan berinvestasi saham, bukan ikut bermain saham dipasar modal dengan membeli maupun melepas saham mengikuti fluktuasi harga saham yang tetntunya ada resiko rugi maupun untung.
