Komisi VII DPR-RI Apresiasi Sido Muncul Padukan Teknologi Modern
UNGARAN[NuansaJateng] – Kunjungan kerja Komisi VII DPR-RI ke pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Bergas, Kabupaten Semarang membuka fakta menarik di balik kesuksesan industri jamu nasional menembus pasar global, Jumat (23/1).
Rombongan Komisi VII DPR-RI menyaksikan langsung proses produksi jamu dengan standar farmasi modern yang jarang dimiliki industri sejenis.
Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat menerima langsung kunjungan tersebut dan memaparkan perjalanan panjang membangun Sido Muncul dari keterbatasan hingga menjadi perusahaan jamu terbesar di Indonesia.
“Kami membangun Sido Muncul dari keterbatasan, bukan kelebihan. Keterbatasan modal, keterbatasan aturan, bahkan jenis produk. Tapi kami memilih cara yang benar dan berbasis ilmiah,” ujar Irwan.
Irwan mengatakan dari sekitar 1.600 industri jamu di Indonesia, hanya Sido Muncul yang berhasil berkembang menjadi pabrik jamu dengan standar farmasi.
Menurutnya, pentingnya standarisasi, riset ilmiah, dan uji klinis untuk membangun kepercayaan publik, termasuk kalangan medis.
Sido Muncul tercatat telah melakukan uji toksisitas dan uji klinis fase 1 dan 2 untuk produk unggulan seperti Tolak Angin, bekerja sama dengan lembaga independen dan perguruan tinggi seperti Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro (Undip).
Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan produk Sido Muncul dinyatakan aman dan tidak bersifat toksik, tanpa mempengaruhi fungsi hati dan ginjal. Temuan ini menjadi dasar bahwa produk perusahan itu dikonsumsikan aman dan sesuai aturan yang ditetapkan.
Irwan menambahkan, strategi perusahaan mampu menembus dunia kedokteran tidak dipungkiri memang tidak mudah dan perlu memakan waktu cukup panjang.
Meski berlatar belakang pendidikan SMA, dia berhasil menjadi pembicara 57 kali di fakultas kedokteran dari berbagai perguruan tinggi, dengan pendekatan ilmiah dan komunikasi yang menekankan manfaat jamu sebagai pendamping obat farmasi.
“Saya tidak datang untuk menjual jamu, tapi mengajak dokter ikut mengelola kekayaan alam Indonesia yang luar biasa,” ujarnya.
Kepala Disperindag Jawa Tengah July Emmylia, mewakili Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, menyambut positif kunjungan ini.
Dia berharap sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan industri jamu seperti Sido Muncul terus menguat.

Data Disperindag Jateng mencatat nilai ekspor jamu Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai24,6 juta atau 0,22% dari total ekspor nonmigas, dengan tujuan Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, dan Asia.
Namun, industri jamu masih menghadapi tantangan kualitas bahan baku, standarisasi, inovasi, hingga pemasaran.
Komisi VII DPR-RI dalam kunjungan kerja spesifiknya mengapresiasi model industri Sido Muncul yang mampu memadukan teknologi modern tanpa mengorbankan tenaga kerja.
Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI Evita Nur Santi MSc menilai Sido Muncul telah berhasil mentransformasi jamu tradisional menjadi produk kesehatan berbasis riset dan standar ilmiah.
“Kami melihat kemajuan teknologi di Sido Muncul tidak berdampak pada PHK. Ini contoh industri sehat dan berkelanjutan,” tutur Evita.
Dia juga mendorong kolaborasi Sido Muncul dengan program wisata wellness nasional, mengingat tren global yang mengangkat kearifan lokal, produk tradisional berbasis kesehatan dipastikan bakal berkembang pesat.
Menurutnya, Sido Muncul layak menjadi role model pengembangan industri jamu nasional. Tidak banyak industri jamu yang mampu bertahan, tumbuh, dan dikelola secara modern hingga diakui secara luas.
“Kami memberikan apresiasi karena Sido Muncul membuktikan bahwa jamu bisa naik kelas, dikelola secara ilmiah, modern, dan tetap berpijak pada kekayaan alam Indonesia,” ujar Evita.
Kunjungan kerja spesifik ini, tutur Evita, memang bersifat tematik, dengan fokus pada farmasi tradisional. DPR-RI ingin melihat langsung bagaimana jamu diproduksi, distandarisasi, hingga dipasarkan agar dapat menjadi masukan kebijakan yang konkret.
“Kegiatan kunjungan ini kami lakukan langsung ke lapangan karena dari situ kami mendapatkan gambaran yang jauh lebih utuh dibandingkan hanya rapat di ruangan. Banyak hal yang bisa kami lihat dan pelajari secara langsung,” tuturnya.
Dalam dialog, Anggota Komisi VII DPR- RI turut memberikan masukan terkait pengembangan kemasan ramah lingkungan sejalan dengan target kebijakan green industry nasional 2029.
Kunjungan ini mempertegas posisi Sido Muncul sebagai role model industri jamu nasional yang berhasil naik kelas, dari jamu berbasis empiris menjadi produk kesehatan berbasis riset ilmiah, sekaligus memperkuat daya saing jamu Indonesia di pasar dunia.
