Polisi Masih Dalami Penyebab Mahasiswi Undip Tewas Bunuh Diri
SEMARANG[NuansaJateng] – Polisi masih mendalami penyebab utama mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) melakukan bunuh diri dan ditemukan tewas di dalam kamar kosnya yang berada di Jalan Lempongsari, Gajahmungkur, Senin (12/8) lalu.
Mahasiswi tersebut bernama dr Aulia Risma Lestari (30) merupakan mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Undip.
Dari informasi yang dihimpun, diduga mahasiswi asal Kota Tegal tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menyuntikan obat ke tubuhnya.
Bahkan, dari keterangan sejumlah saksi, korban nekat melakukan hal itu karena menjadi korban perundungan.
Kasatreskrim Polrestabes Semarang, Kompol Andika Dharma Sena mengatakan, terkait korban perundungan itu, pihaknya masih melalukan pendalaman.
“Terkait dengan informasi mengenai perundungan masih kita cek karena yang bersangkutan itu informasinya memang sakit. Langkah kedepan, kami koordinasikan dengan pihak RS karena ada beberapa catatan yang kami dapatkan,” ujarnya, Kamis (15/8).
Menurutnya, dari hasil olah TKP Inafis Polrestabes Semarang ditemukan jarum suntik dan masih ada isinya yang diduga obat anastesi.
“Tentunya obat ini, sudah kami koordinasikan dengan dokter forensik, terkait dengan akibat menggunakan obat-obat itu sendiri. Dan juga terkait dengan obat itu sendiri, itu sebenarnya obat keras yang sebenarnya ini merupakan obat harus resep dokter,” tuturnya.
PB IDI Sampai Pesan
Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dr Aulia Risma Lestari, mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Ketua Umum PB IDI DR Dr Moh Adib Khumaidi SpOT menyampaikan PB IDI menghormati proses penyelidikan yang masih berlangsung oleh aparat yang berwenang.
Sementara itu, pihaknya ingin menekankan pentingnya dukungan kesehatan mental selama pendidikan.
“Kami mendorong pembentukan Pusat Trauma dan evaluasi kesehatan mental secara berkala untuk memastikan mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan kedokteran dan spesialis menerima perawatan dan dukungan yang diperlukan,” ujar dr Adib, Kamis (15/8).
PB IDI juga meminta agar masyarakat tidak membuat spekulasi apapun tentang penyebab insiden tersebut hingga penyelidikan selesai.
“Kami percaya, dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan lebih mendukung bagi mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan kedokteran dan spesialis. Mari kita bergandengan tangan untuk mencegah insiden seperti itu di masa mendatang,” tuturnya. (rs)
