Dunia Kedokteran Apresiasi Keberhasilan Tolak Angin Sido Muncul
JAKARTA[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul merayakan HUT Ke-73 dengan acara sederhana yang ditandai pemotongan tumpeng oleh Direktur Sido Muncul Dr Irwan Hidayat di kantornya, Jakarta, Sabtu (15/11).
Usia 73 tahun itu merupakan perjalanan panjang sebuah bisnis yang tidak mudah dilewati, apalagi perusahaan jamu. Perjalanan bisnis yang dilalui penuh gelombang dan dan tantangan yang cukup berat dibanding jenis perusahaan lain.
Namun bagi Irwan Hidayat sangat bersyukur bisa melewati masa-masa sulit sepanjang membangun entitas bisnisnya, bahkan sampai saat ini terus berupaya melakukan berbagai inovasi untuk mengikuti selera konsumen.
“Hingga akhirnya Sido Muncul bisa tetap berdiri kokoh pada usianya yang ke-73 tahun,” ujar Irwan pada acara syukuran 73 tahun Sido Muncul itu.
Irwan menuturkan, Sido Muncul sukses karena didukung dua hal, selain keberuntungan dan juga dukungan karyawan. Ini dua hal yang membuat Sido Muncul bisa berdiri sampai sekarang.
Irwan menyampaikan terimakasihnya terhadap para karyawan yang sudah mendukung pertumbuhan Sido Muncul. Perjuangan dan dukungan tersebut penting untuk diteruskan agar Sido Muncul bisa berkarya lebih lama dan memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat luas.
Irwan mengajak karyawan untuk terus mengembangkan ide dan kreativitas. Kontribusi dalam bentuk kreativitas diyakini akan membuat Sido Muncul akan terus maju berkembang.
“Jangan berhenti sampai disini, karena yang sekarang kita capai belum apa-apa,” tutur Irwan.
Menurutnya, untuk membuat produk Sido Muncul seperti Tolak Angin mendunia bukanlah hal mudah. Karena jamu adalah produk non farmasi yang khasiatnya memang tidak langsung terasa. Dibutuhkan perjuangan panjang untuk meyakinkan masyarakat akan khasiat dan kegunaan jamu untuk menjaga kesehatan.
Irwan berkisah sejarah berdirinya jamu Sido Muncul yang bermula dari emperan (serambi) rumah kakeknya di Jalan Bugangan No.25, Semarang 1951. Ini adalah rumah pertama produk Sido Muncul diciptakan.
“Kakek, om dan tante saya kalau numbuk jamu di emperan rumah. Kalau malam nenek mencampur ramuan untuk di packing. Saya masih ingat tugas saya adalah menghitung jamu-jamu yang sudah di packing sebelum dijual,” ujar Irwan.
Kini mereka telah tiada dan sekarang Irwan adalah saksi tunggal berdirinya Sido Muncul. Bersama adik-adiknya, Irwan kemudian berjuang membesarkan Sido Muncul menjadi perusahaan jamu yang kini dikenal publik.
Melalui produk unggulan Tolak Angin, Irwan tidak hanya membuat jamu menjadi memiliki tempat di hati konsumen. Lebih dari itu, Tolak Angin juga telah diresepkan oleh dokter untuk membantu pasien yang memerlukan sistem imun (daya tahan tubuh/sel pertahanan tubuh) yang lebih baik.
Seperti halnya model pemasaran perusahan jamu lainnya yang memiliki tagline, Sido Muncul juga pernah menerapkan model yang sama. Jika perusahaan jamu lain menggunakan tagline paling manjur, jagonya jamu, maka Sido Muncul menggunakan tagline paling unggul. Namun model pemasaran tersebut nyatanya tidak memberikan efek yang siginifikan.
Irwan pun mulai berpikir bagaimana jamu bisa seperti produk farmasi yang mendapat dukungan dokter. “Produk farmasi itu hebat karena ada dukungan dokter. Sedang jamu lebih didukung oleh pengobat tradisional yang mengobatinya berdasarkan pengalaman hidup, belajar dan mendapatkan wahyu. Jamu bisa menyembuhkan tetapi tidak ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa produk jamu itu bagus,” ujar Irwan.
Selain itu, produk farmasi juga rasional dan aman. Sedang jamu adalah produk yang tidak rasional. Hal ini karena untuk mengobati darah tinggi misalnya, ramuan jamu boleh dicampur anggur. “Lho darah tinggi kok boleh minum anggur. Ini nggak rasional,” tuturnya.
Itulah yang kemudian mendorong Irwan melakukan uji klinis terhadap produk Tolak Angin. Meski uji klinis baru tahap pertama, tetapi dampaknya sangat dasyat bagi penjualan Tolak Angin.
“Waktu itu saya yakin bahwa ide uji klinis terhadap produk herbal adalah benar dan saya harus memulai langkah ini,” ujar Irwan.
Bahan pernah mengutarakan rencana uji klinis jamu kepada Prof Iwan Darmansyah, seorang farmakolog yang idealis pada 2002. Namun saat itu Prof Iwan menolak habis-habisan dengan alasan tidak mungkin jamu diuji klinis.
“Saya sangat sedih, ketika beliau bilang “Tidak mungkin jamu diuji apa pun. Omong kosong!”,” tutur Irwan.
Rupanya, penolakan ini tak membuat Irwan Hidayat patah arang. Bahan dia justru bertekad untuk membuktikan bahwa uji klinis bisa dilakukan, dan di lain saat hal itu benar-benar berhasil dengan melakukan uji klinis fase pertama produk Tolak Angin.
“Iya saya pernah sangat bingung. Melanjutkan ide untuk melakukan uji toksisitas untuk Tolak Angin ataukah tidak. Uji ini sangat penting untuk memastikan keamanan produk kami,” ujarnya.
Masalahnya kalau Tolak Angin terbukti toksik, akan menjadi persoalan besar bagı Sido Muncul, karena 50% penjualan Sido Muncul pada saat itu ditopang oleh produk Tolak Angin.
Irwan mengatakan sempat melakukan diskusi panjang dan mendalam dengan tim. Bersama tim Research & Development yang dipimpin oleh Apt Wahyu Widayani SSi dan Brand Manager Tolak Angin, Retna Widawati diskusi dilakukan secara intens.
Namun, pada akhirnya keputusan sangat berani diambil. Irwan setuju dengan pelaksanaan uji toksisitas, kendati risiko yang dihadapi tidak kecil.
“Kami memutuskan mengikuti suara hati kecil, karena saya sudah berjanji akan mengelola Sido Muncul dengan “Hati, Akal dan Regulasi“, yang terinspirasi sumpah Hypocrates yang sampai hari ini menjadi sumpah para dokter. “Saya akan mengobati pasienku dengan hati, akal dan ilmu”. Jadi kami akhirnya memutuskan untuk melakukan uji toksisitas demi kepentingan dan keselamatan konsumen. Seandainya Tolak Angin terbukti toksik, kami akan melakukan reformulasi,” tutur Irwan.
Rupanya, keputusannya sangat tepat. Hasil uji toksisitas menunjukkan, Tolak Angin terbukti aman diminum selama 101 bulan secara terus menerus. Hasil uji hispatologi juga menunjukkan tidak ada kerusakan organ hati, ginjal, lambung, usus, paru, limpa, jantung, uterus, dan testis. Selain itu, hasil uji lab klinik tidak menunjukkan adanya gangguan pada hematologi, kadar gula, SGPT, kreatinin, NA, K, Cl, dan total protein.
Setelah lolos uji toksisitas, Sido Muncul kemudian melanjutkan rencana melakukan uji farmakologi. Persoalan yang timbul saat itu, tidak ada istilah masuk angın di dunia kedokteran.
Irwan bersama tim dan tim dari Universitas Diponegoro (Undi) Semarang kemudian berdiskusi supaya dapat melakukan pendekatan uji farmakologi.
“Pada akhirnya kami merumuskan bahwa masuk angın adalah gejala awal menurunnya daya tahan tubuh dan judul uji famakologi yang akan dilakukan oleh tim dari Undip adalah “Apakah Tolak Angin dapat meningkatkan Cell T, sebagai indakator meningkatnya daya tahan tubuh”. Lagi-lagi kami bersyukur, setelah hampir satu tahun, uji farmakologi membuktikan Tolak Angin dapat meningkatkan T white blood cell secara signifikan,” ujarnya.
Keberhasilan ini mendorong Irwan mengundang Prof Iwan dan empat guru besar Universitas Indonesia ke Semarang untuk meninjau pabrik Sido Muncul yang baru pada 2011. Irwan berkesempatan mempresentasikan uji toksisitas dan uji farmakologi, membawa mereka melihat dari dekat fasilitas pabrik seperti laboratorium yang lengkap.
Bahkan, Irwan juga berkesempatan menyampaikan gagasan besarnya tentang kekayaan alam Indonesia dan ide-idenya untuk memanfaatkannya.
“Sepulang dari pabrik, Prof Iwan mengirimkan SMS “Saya surprise melihat pabrik Sido Muncul. Saya apresiasi. I learn so much from you”. Bahkan, beliau minta dikirimi Tolak Angin untuk diminum sendiri dan untuk pasien-pasiennya,” tutur Irwan.
Meskipun Tolak Angin sudah dipercaya masyarakat, bagi Irwan masih ada hutang yang perlu diselesaikan. Irwan sangat ingin produk-produknya lebih dikenal dan mendapat kepercayaan dari dunia kedokteran.
Setelah Tolak Angin menjadi sebuah produk yang lulus uji toksisitas dan farmakologi, Irwan dan tim kemudian mulai berpikir soal promosi. Pergulatan tak jauh dari mencari tagline yang tepat, guna mendorong brand Tolak Angin lebih hidup dan dikenal luas.
Dari sekian banyak ide, Irwan kemudian memilih tagline “Orang pintar minum Tolak Angin”. Pemilihan tagline tersebut didasari pada sebuah keyakinan bahwa semua orang pintar pada jalan hidup masing-masing. “Menurut saya, ketika sakit orang harus pintar dalam memilih produk,” ujarnya.
Sido Muncul juga memproduksi iklan yang menjelaskan, bahwa Tolak Angin adalah produk herbal yang diproduksi di pabrik farmasi jamu, lolos uji toksisitas sehingga aman diminum jangka panjang dan uji farmakologinya dapat meningkatkan Cell T.
Irwan bersyukur perjuangan panjangnya membuahkan hasil. Kini Tolak Angin telah masuk dalam resep dokter. Tolak Angin juga mendunia karena ada sudah bisa ditemukan di 30 negara di dunia.
“Kalau selama ini banyak hal datang dari dunia barat seperti feminisme dan HAM, maka saya berharapTolak Angin adalah satu-satunya yang datang dari dunia timur,” tutur Irwan.
