Sido Muncul Perkuat Riset Berbasis Ilmiah Dengan Meresmikan Laboratorium Farmakologi
UNGARAN[NuansaJateng] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk memastikan bakal mewujudkan impiannya menjadi perusahaan berkelanjutan dengan memperkuat pengembangan produk herbal nasional berbasis riset dan bukti ilmiah.
Langkah itu kini mulai diwujudkan dengan meresmikan Laboratorium Farmakologi modern berbasis riset ilmiah mutakhir di kawasan pabrik Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (9/6). Fasilitas tersebut diharapkan memperkuat pengembangan produk herbal nasional berbasis riset dan bukti ilmiah.
Upaya semakin agresif ini menempatkan Sido Muncul sebagai satu-satunya perusahaan jamu di Indonesia yang memiliki fasilitas Laboratorium Farmakologi modern secara mandiri.
Tidak tanggung-tanggung, investasi besar pada sektor Research & Development (R&D) ini langsung mendapat pengawalan dan dukungan penuh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI serta Dinas Kesehatan Jawa Tengah.
Peresmian fasilitas prestisius seluas 288 meter persegi tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala BPOM RI Prof Dr Taruna Ikrar M Biomed MD PhD dan mengguntingan pita bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Zulfachmi Wahab SpPD Subsp Honk M(K) FINASIM, Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat dan disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Semarang Dra Hj Nur Arifah.
Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan laboratorium tersebut menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan untuk memastikan keamanan dan khasiat produk herbal melalui penelitian yang lebih intensif.
“Dalam rangka usia ke-75 tahun nanti, Sido Muncul akan berkonsentrasi kepada riset yang intensif. Kami tahu caranya dan kami punya fasilitas lengkap, yaitu Laboratorium Farmakologi,” ujar Irwan.
Irwan menambahkan, berbagai penelitian akan terus dilakukan untuk memperoleh bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil riset tersebut akan menjadi dasar pengembangan produk-produk herbal asli Indonesia.
“Kalau khasiatnya tidak efektif, kami akan perbaiki. Dengan orientasi berbasis riset ini, diharapkan akan memberikan dampak kepada obat-obat asli Indonesia,” tutur Irwan.
Menurutnya, laboratorium farmakologi juga menjadi jawaban atas maraknya informasi yang tidak berdasar mengenai produk herbal maupun minuman energi di media sosial. Karena itu, perusahaan memilih membangun pembuktian berbasis data dan penelitian.
“Yang penting kami tahu produk kami aman atau tidak. Kami ingin membuktikannya sendiri melalui penelitian, bukan sekadar berdasarkan opini,” ujarnya.
Dalam momentum tersebut, Irwan juga mempresentasikan langsung sejumlah data mengejutkan hasil uji klinis dan laboratoris yang mengevaluasi produk-produk unggulan mereka.
Salah satunya adalah bukti ilmiah mengenai khasiat tanaman herbal tertentu yang efektif menekan kadar gula darah.
Tidak hanya itu, Irwan juga mematahkan mitos negatif seputar konsumsi obat tradisional dengan menyodorkan bukti hasil dari uji laboratorium terhadap produk Kuku Bima.
”Kami mempresentasikan hasil penelitian untuk produk Kuku Bima, yang ternyata teruji sepenuhnya aman untuk kesehatan ginjal,” tutur Irwan.
Bahkan Irwan berkomitmen bahwa perusahaan dalam menjaga mutu produk legendaris seperti Tolak Angin. Sido Muncul secara berkala menggandeng institusi akademik papan atas, mulai dari Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, hingga Universitas Kristen Maranatha.
Berdasarkan hasil uji toksisitas subkronis selama 90 hari yang dilakukan bersama Fakultas Kedokteran Undip dan Fakultas Farmasi Sanata Dharma, Tolak Angin terbukti tidak memberikan efek toksik atau membahayakan organ vital.

”Selama 90 hari pengujian, tidak ada perubahan signifikan pada organ vital. Fungsi ginjal dan hati (hepar) dipastikan tetap normal dan tidak mengalami gangguan,” ujarnya.
Laboratorium Farmakologi Sido Muncul sebenarnya telah dirintis sejak 2001 dari sebuah bangunan semi-permanen dan kini beroperasi di gedung permanen modern sejak Januari 2020. Selama lebih dari dua dekade, fasilitas tersebut digunakan untuk berbagai penelitian farmakologi dan uji keamanan produk.
Berbagai pengujian krusial, mulai dari uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronis, uji teratogenik, uji stamina, hingga uji aktivitas obat cacing kini mampu diproduksi secara mandiri dihasilkan di lab ini.
Sementara itu, Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar mengapresiasi beroperasinya laboratorium farmakologi Sudo Muncul, karena memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan obat herbal berbasis sains. Menurutnya, seluruh produk yang beredar harus didukung bukti keamanan, mutu, dan khasiat yang jelas.
“Sido Muncul adalah aset nasional yang perlu kita jaga dan dukung bersama. Produk-produk herbal Indonesia harus menjadi ikon bangsa di mata dunia,” tuturnya.
Taruna menilai, Indonesia memiliki potensi besar dengan sekitar 31.000 spesies tumbuhan yang berpotensi menjadi bahan baku obat. Potensi tersebut perlu didukung riset agar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
“Kalau kita bicara ginseng orang ingat Korea Selatan, kalau traditional Chinese medicine orang ingat China. Kalau bicara jamu, itu adalah wajah Indonesia di dunia global,” ujarnya.
Bahkan dia memastikan produk yang memperoleh izin edar BPOM telah melalui proses evaluasi ketat. Masyarakat pun diminta selalu menerapkan prinsip Cek KLIK sebelum menggunakan produk.
“Cek kemasan, cek label, cek izin edar dan cek masa kedaluwarsa. Kalau sudah memenuhi itu dan memiliki izin edar BPOM, maka produk tersebut aman,” tandasnya.
Sebagai seorang peneliti, dia melihat langkah Sido Muncul melembagakan riset ilmiah pada produk herbal adalah lompatan besar bagi dunia kesehatan Indonesia.
”Evaluasi BPOM selama ini terhadap produk herbal yang dikelola Sido Muncul sangat luar biasa. Sido Muncul ini sudah menjadi aset nasional Indonesia, bukan lagi sekadar aset milik komisaris,” ujar Taruna Ikrar.
Taruna menambahkan, BPOM memiliki kepentingan besar untuk menumbuhkan, mensejahterakan, dan melejitkan produk-produk lokal yang berkualitas agar mampu merajai pasar domestik hingga internasional.
Melalui laboratorium baru ini, Sido Muncul diharapkan sah memimpin identitas jamu di mata dunia.
”Sido Muncul harus menjadi ikonik. Kalau bicara jamu, ya Sido Muncul. BPOM mendukung secara maksimal laboratorium ini untuk menjadi center medicine (pusat obat-obatan berbasis herbal) di Indonesia,” tuturnya.
Senada Kepala Dinas Kesehatan Jateng dr Zulfachmi Wahab menaruh harapan besar agar Sido Muncul membuka pintu sinergitas seluas-luasnya bagi para peneliti eksternal untuk melahirkan inovasi kesehatan berskala besar.
Jawa Tengah, lanjutnya, merupakan salah satu sentra terbesar industri obat tradisional di Indonesia. Saat ini terdapat lebih dari 800 sarana produksi obat tradisional, mulai dari UMKM hingga industri berskala internasional.
Menurutnya, keberadaan laboratorium farmakologi menjadi jembatan penting antara tradisi jamu dan modernisasi industri kesehatan. Fasilitas tersebut juga akan mempercepat lahirnya produk herbal yang memenuhi standar medis.
“Kami ingin melihat lebih banyak produk herbal asli Jawa Tengah naik kelas dari jamu empiris menjadi obat herbal terstandar hingga fitofarmaka yang diakui dunia kedokteran,” ujarnya.
Zulfachmi akan terus mendorong Sido Muncul membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah dinilai menjadi kunci kemandirian obat berbahan alam di Indonesia.
