Investor Tiongkok Berminat Kembangkan Potensi Garam di Jateng

SEMARANG[NuansaJateng] – Sejumlah investor Tiongkok bakal menanamkan modalnya di Jawa Tengah, untuk peningkatan produksi garam, kaena dinilai provinsi ini potensial untuk dikembangkan.

CEO PT Susanti Megah Hermawan Santoso mengatakan investor tersebut  memerlukan lahan untuk pengembangan tambak garam seluas kurang lebih 3.000 hektare.

“Potensi garam Jawa Tengah sebenarnya cukup bagus, pemerintah juga sudah bicara, Pak Luthfi sudah mau support,” ujarnya saat beraudiensi dengan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi di kantornya, Kamis (17/7).

Menurutnya, perluasan industri dan produksi garam nasional harus ditingkatkan, hal ini dalam rangka mewujudkan swasembada garam nasional. Sehingga tidak lagi mengimpor dari luar negeri untuk menutupi kebutuhan garam.

Maka dari itu, kolaborasi antara pemerintah dengan pihak swasta sangat penting dilakukan agar swasembada garam itu dapat terwujud.

Hermawan menambahkan, saat ini wilayah di Indonesia yang sangat bagus dalam produksi garam ada di Madura dan Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah cukup potensial untuk mengejar dua daerah tersebut.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melalui Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan para pengusaha telah melirik Jawa Tengah sebagai bagian untuk perluasan dan produksi garam, karena memang produksi garam nasional masih kurang.

Olah karenanya, dia mendukung penuh perluasan produksi garam di wilayahnya, guna menunjang produksi garam secara nasional.

“Memang perlu ada intensifikasi lagi atau bahkan ekstensifikasi atau perluasan sentra garam,” tuturnya.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, produksi garam rakyat Jawa Tengah pada 2024 mencapai 536.612 ton. Luas lahan produksi garam sekitar 8.267 hektare dengan jumlah petani garam sebanyak 6.420 orang.

Jumlah tersebut tersebar di sembilan daerah sentra garam, meliputi Brebes, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Grobogan.

Namun, produksi garam rakyat di Jateng tidak semuanya sesuai dengan kualitas yang dibutuhkan oleh industri. Hal itu karena teknologi sederhana, tergantung pada cuaca, dan lainnya.

Padahal, kebutuhan garam di Jawa Tengah, berdasarkan data 2024, sebesar 119.400 ton. Terdiri atas 33.000 ton untuk garam konsumsi dan 86.400 ton untuk garam industri.

Dari kebutuhan tersebut, industri garam eksisting di Jawa Tengah seperti Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) hanya mampu memenuhi 25.000 ton, Washingplant Koperasi Sari Makmur Rembang maksimal 7.500 ton, dan Washingplant Koperasi Mutiara laut Mandiri Pati  maksimal 6.000 ton. Sisa kebutuhan garam masih didatangkan dari daerah lain.

“Itu yang untuk garam rakyat dengan NaCL 95%. Kalau untuk industri NaCL-nya harus di atas 97%,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Endi Faiz Effendi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *