27.000 Siswa Ramaikan Gerakan Membatik Bersama Bunda PAUD Jateng
SEMARANG[NuansaJateng] – Sebanyak 27.000 siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Jawa Tengah melakukan gerakan “Ayo Membatik Serentak Bersama Bunda PAUD Jateng” pada peringatan Hari Batik Nasional, Kamis (2/9).
Siswa sebanyak itu, tercatat 3.000 siswa di nataranya membatik di Stadion Jatidiri Semarang, sementara 24.000 siswa lainnya berpartisipasi secara daring dari sekolah PAUD binaan Yayasan Pendidkan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) di seluruh Jawa Tengah.
Tak ayal, kegiatan tersebut memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) atas rekor Edukasi Membatik secara Serentak Anak Usia Dini Terbanyak.
Bunda PAUD Jawa Tengah, Nawal Nur Arafah Yasin mendorong anak-anak usia dini untuk cinta membantik. Sebab membatik tidak hanya melestarikan budaya Jawa, tetapi membiasakan anak untuk cinta kebhinekaan dan mencintai bangsanya.
“Setiap motifnya adalah cerita kebhinekaan, dan dari setiap torehan tintanya adalah cinta kepada bangsa,” ujar Nawal saat menghadiri acara tersebut di GOR Jatidiri Semarang.
Menurutnya, begitu pentingnya filosofi membatik. oleh karenanya ia mengajak agar anak usia dini untuk mulai diajarkan membatik.
Apa lagi, tutur Nawal, saat ini gempuran budaya asing begitu massif, termasuk dalam hal pakaian. Kalau tidak dibentengi dengan cinta budaya bangsa, anak-anak bisa lupa budaya adi luhung milik sendiri.
“Mengajari anak-anak membatik bisa meningkatkan literasi dan pengalaman langsung. Saya mendorong bunda PAUD se-Jateng untuk mengajak anak cinta budaya batik,” tuturnya.
Selain cinta batik, Nawal juga meminta kepada Bunda PAUD se-Jateng untuk menyosialisakan program PAUD Emas (PAUD swadaya masyarakat), dan Program Satu Desa Dua PAUD. Bersama Posyandu bisa mengajak orang tua dan anak-anaknya usia 0-6 tahun wajib sekolah satu tahun (pra sekolah).
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan peringatan Hari Batik Nasional kali ini diharapkan dapat memperkuat produksi dan industri batik di 35 kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah.
Menurutnya, tamu dari negara sahabat mengaku tertarik pada batik, bahkan ingin mengundang guru batik agar mengajar di negara mereka.
“Waktu saya mendampingi Bapak Gubernur Ahmad Luthfi menerima tamu dari Kerajaan Malaka, mereka sangat tertarik pada batik dan meminta guru batik dari Jawa Tengah untuk mengajar di Malaysia,” ujarnya.
Harapannya, dari Jawa Tengah akan lahir guru-guru membatik yang dapat menyebarkan ilmunya ke berbagai negara. (rs)
