Usai Retret, Agustina Pimpin Prosesi Upacara Tradisi Dugderan Sambut Ramadhan

SEMARANG[NuanasaJateng] – Seusai ikuti Retret Kepala Daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng langsung kembali ke Kota Semarang dan mengikuti kegiatan besar pertama setelah dilantik menjadi Wali Kota, yakni Dugderan.

Agustina memimpin langsung prosesi Dugderan mulai dari apel di Balai Kota, kirab menggunakan kereta kencana dari Balai Kota ke Alun-Alun Masjid Agung Semarang untuk membacakan suhuf kholaqoh yang menandakan jatuhnya awal bulan puasa.

“Hari pertama setelah retreat di Magelang langsung mengikuti prosesi Dugderan,” ujar Agustina disela-sela prosesi Dugderan, Jumat (28/2).

Agustin mengatakan, Dugderan adalah tradisi menjelang bulan suci Ramadan yang selalu dilakukan setiap tahunnya.

“Karena kita terdiri dari berbagai macam etnis, berbagai macam kebudayaan, maka disatukan oleh pemerintah Kota Semarang dengan satu ikon binatang imajiner namanya Warak Ngendok,” tuturnya.

Dia mengatakan pada Dugderan tahun ini animo masyarakat sangat antusias menyaksikan prosesi dari kirab hingga pembacaan suhuf dan pembagian roti ganjel rel.

“Kita ingin supaya tradisi ini nanti bisa kita persiapkan dengan baik tahun depan. Kita akan mengundang tamu-tamu dari luar. Supaya ini mengangkat nama kota Semarang. Ini unik dan keren keterlibatan masyarakatnya luar biasa,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso mengatakan prosesi Dugderan kali ini dijadikan satu yakni kirab budaya dan Dugderan.

“Alhamdulillah antusiasme masyarakat luar biasa. Sekaligus memperkenalkan Ibu Wali Kota kita yang tercinta yang baru dan Bapak Wakil Walikota,” ujar Wing.

Wing berharap dengan dilakukannya prosesi Dugderan ini bisa membawa berkah dan rahmat bagi warga Kota Semarang.

Sekretaris Bidang Ketakmiran Masjid Agung Semarang, MS Muhaimin menuturkan, prosesi Dugderan ini selain membacakan suhuf holaqoh juga dibagikan 3.000 roti ganjel rel yang merupakan kue khas Kota Semarang.

“Pembagian ganjel rel 3.000 buah dan air khataman Al Quran 30 Juz,” tutur Muhaimin.

Ganjel rel, lanjutnya, adalah sebuah sanepo atau filosofi yang berarti saat bulan Ramadan jangan ada yang mengganjal (ganjel) dan rela (rel) untuk menjalankan ibadah puasa. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *