Telkom Resmi Spin-Off Bisnis Fiber Senilai Rp35,8 Triliun

JAKARTA[NuansaJateng] – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi melakukan pemisahan (spin-off) sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity senilai Rp35,8 triliun kepada anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).

Langkah ini dipandang sebagai strategi korporasi untuk membuka nilai (unlock value) aset infrastruktur digital sekaligus memperkuat daya saing bisnis TelkomGroup di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas nasional.

Penandatanganan akta pemisahan dilakukan oleh Direktur Utama Telkom Dian Siswarini dan Direktur Utama InfraNexia I Ketut Budi Utama, disaksikan jajaran manajemen dan komisaris Telkom. Aksi korporasi ini merupakan tindak lanjut persetujuan pemegang saham independen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Melalui spin-off tahap pertama ini, InfraNexia akan mengelola lebih dari 50% total aset jaringan fiber Telkom yang mencakup segmen akses, agregasi, hingga backbone nasional. Telkom menargetkan proses spin-off tahap kedua rampung pada 2026, dengan tetap mengedepankan prinsip transparansi, kehati-hatian, serta kepatuhan terhadap regulasi.

Pasca transaksi, kepemilikan saham efektif Telkom di InfraNexia meningkat menjadi 99,9999997%. Kendati berada di bawah kendali Telkom, InfraNexia akan beroperasi secara netral sebagai penyedia layanan wholesale fiber connectivity bagi pelanggan internal TelkomGroup maupun operator dan pelaku industri eksternal.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan pemisahan bisnis ini menjadi bagian penting dari strategi transformasi TLKM 30 untuk meningkatkan efisiensi operasional dan monetisasi aset strategis.

Menurutnya, pembentukan entitas khusus pengelola infrastruktur fiber akan memperkuat tata kelola bisnis wholesale serta membuka peluang kemitraan strategis yang berpotensi meningkatkan valuasi aset jangka panjang.

Dari perspektif investasi, model ini sejalan dengan praktik global yang telah diterapkan oleh sejumlah operator telekomunikasi internasional seperti Telstra, Telecom Italia, Telefonica, hingga O2. Pemisahan entitas infrastruktur dinilai mampu meningkatkan transparansi arus kas, fleksibilitas pendanaan, serta potensi kerja sama strategis dengan investor maupun mitra industri.

Direktur Utama InfraNexia I Ketut Budi Utama menambahkan, konsolidasi aset fiber dalam satu entitas diharapkan menciptakan ekosistem telekomunikasi yang lebih efisien dan kompetitif. Dengan permintaan konektivitas digital lintas sektor yang terus tumbuh, InfraNexia diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru bagi TelkomGroup sekaligus katalis penguatan infrastruktur digital nasional. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *