Sido Muncul Siapkan Strategi Pemulihan Penjualan Pada Semester II-2026

JAKARTA[NuansaJateng] – Manajemen PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (Tbk) semakin serius dan memfokuskan pemulihan kinerja penjualan pada Semester II-2026, setelah sebelumnya perseroan menyelesaikan normalisasi persediaan di tingkat distributor pada paruh pertama tahun ini.

Director & Corporate Secretary Sido Muncul Budianto mengatakan penurunan penjualan sebesar 20% pada Semester I-2026 merupakan dampak dari strategi perseroan menyehatkan persediaan atau sell-in distributor sepanjang Februari-Mei 2026.

Sementara itu, penjualan dari distributor kepada konsumen akhir (sell-out) dan pangsa pasar Sido Muncul tetap terjaga.

“Normalisasi tingkat persediaan distributor sudah selesai per Mei. Memasuki semester kedua, fokus kami semakin jelas. Kami akan memulihkan penjualan dengan beralih ke model distribusi berbasis permintaan konsumen akhir, meluncurkan inovasi produk baru, serta memperluas jaringan distribusi nasional maupun internasional,” ujar Budianto dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9).

Untuk mendorong pemulihan kinerja, lanjutnya, Sido Muncul menyiapkan tiga strategi utama, yakni inovasi produk dan penguatan pasar domestik, ekspansi ekspor, serta efisiensi operasional.

Di pasar domestik, perseroan akan meluncurkan sejumlah produk baru pada Kuartal III dan IV yang mengincar pasar konsumen kalanan anak muda. Salah satunya adalah Tolak Linu Sleep yang mulai dipasarkan pada kuartal III.

Sido Muncul juga terus memperkuat ekosistem e-commerce dan jaringan perdagangan elektronik.

Sementara itu, ekspansi internasional menjadi salah satu motor pertumbuhan perseroan.

Selain itu, Sido Muncul juga menargetkan kontribusi pasar ekspor meningkat menjadi 15%-17% dalam tiga hingga lima tahun mendatang.

Pada Semester I-2026, penjualan ekspor tumbuh 28% secara tahunan dan menyumbang kontribusi sekitar 13% terhadap total penjualan. Bahkan Malaysia, Filipina, dan Nigeria menjadi tiga pasar utama yang menopang pertumbuhan ekspor Sido Muncul.

Di sisi biaya, perseroan menerapkan sejumlah langkah efisiensi untuk menghadapi kenaikan harga bahan baku akibat dinamika geopolitik global.

Strategi tersebut mencakup efisiensi biaya manufaktur, fleksibilitas jadwal produksi, optimalisasi biaya kemasan, serta digitalisasi rantai pasok dan distribusi secara real-time.

Sepanjang 2026, Sido Muncul memperkirakan penjualan masih berpotensi turun sekitar 10% akibat dampak penyesuaian stok pada awal tahun.

Namun, manajemen menargetkan kinerja Kuartal III dan IV dapat pulih dan setidaknya menyamai pencapaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi keuangan, Sido Muncul mempertahankan neraca yang solid tanpa utang bank maupun obligasi. Perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp476 miliar pada Semester I-2026.

“Kondisi tersebut turut menopang kebijakan pembagian dividen,” tutur Budianto.

Di sisi lain, untuk belanja modal atau capital expenditure (capex), perseroan mengalokasikan Rp120 miliar-Rp150 miliar pada 2026, yang sebagian besar digunakan untuk pemeliharaan aset dan peningkatan efisiensi produksi.

“Dengan kepercayaan konsumen yang kuat, fundamental keuangan yang sehat, serta tidak adanya utang, kami percaya langkah-langkah strategis di semester kedua ini akan mendukung perbaikan kinerja secara bertahap dan memperkuat pertumbuhan jangka panjang Sido Muncul,” ujar Budianto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *