Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat

Refleksi Imlek 2026, Irwan Hidayat: Filosofi Kuda Api

SEMARANG[NuansaJateng] – Kalender 2026, di awal tahun menyuguhkan pemandangan spiritual yang langka terjadi, bahkan dirasa sangat menyejukkan dalam lintas agama.

Dalam rentang waktu yang berdekatan, masyarakat Indonesia merayakan tiga momentum besar sekaligus: Selain Tahun Baru Imlek, masa Prapaskah (Rabu Abu), dan menyambut bulan suci Ramadhan.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr (HC) Irwan Hidayat, memandang fenomena ini bukan sekadar kebetulan kalender. Namun bagi Irwan, pertemuan tiga hari besar ini melambangkan tumpahan keberkahan bagi bangsa Indonesia.

“Ini tahun penuh berkah. Indonesia menjadi negeri yang maju dan Pemerintahan Pak Prabowo, kita yakini bersama bisa lebih memajukan Indonesia dengan lebih baik lagi,” ujar Irwan di Semarang, Kamis (18/2).

Filosofi Kuda Api

Memasuki Tahun Baru Imlek yang bersimbol Kuda Api, Irwan Hidayat membagikan perspektif bisnis yang mendalam.

Putra sulung dari lima bersaudara generasi ketiga Sido Muncul ini menekankan kerja keras saja tidak cukup jika tidak barengi dengan integritas.

Irwan menambahkan, sebuah paradoks menarik “sehebat apa pun seekor kuda, dia tidak akan pernah bisa mengejar uang. Sebaliknya, uanglah yang harus mengejar kuda tersebut”.

“Maksud filosofi ini, orang itu sejatinya tidak bisa mengejar rezeki. Rezeki mengejar orang jika kita mengelola usaha dengan baik, serius, jujur, dan bekerja keras menghasilkan produk yang berkualitas,” tutur Irwan.

Prinsip ini dia transformasikan ke dalam visi bernegara melalui slogan My Country Should Be Right. Irwan mendorong pemerintah untuk aktif membimbing pelaku usaha, mulai dari UMKM hingga pengusaha besar.

Dia ingin memastikan semua pengusaha tetap berada di jalur yang benar karena mereka adalah mesin pencetak lapangan kerja dan pembayar pajak utama negara.

Gus Dur: Eksekutor Kesetaraan

Berbicara soal kemajuan ekonomi, Irwan tidak bisa melepaskan diri dari rasa syukur atas jasa Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dia menilai Gus Dur sebagai “eksekutor kesetaraan” yang berhasil meruntuhkan tembok diskriminasi di Indonesia.

Irwan meyakini, tanpa keberanian Gus Dur, demokrasi Indonesia tidak akan sehangat saat ini. Diskriminasi, menurutnya, adalah akar dari kehancuran sebuah bangsa.

“Gus Dur memiliki mata batin yang tajam. Beliau menghancurkan sekat-sekat diskriminasi sehingga semua etnis di negeri ini memiliki kebanggaan luar biasa terhadap identitasnya sendiri,” kenang Irwan.

Dampak nyata dari hilangnya diskriminasi ini adalah lahirnya kepercayaan diri nasional.

Irwan mencontohkan bagaimana masyarakat kini bangga memakai batik, mencintai musik lokal, hingga memercayai hotel kelolaan anak bangsa seperti Hotel Tentrem.

“Saya menggunakan nama Tentrem untuk hotel bintang 5 di Yogyakarta, Semarang, dan BSD Tangerang. Hasilnya luar biasa, masyarakat merespons tinggi karena kita percaya pada identitas sendiri,” ujarnya.

Mengutip gagasan Immanuel Kant, Irwan menegaskan manusia harus menjadi “tujuan”, bukan sekadar alat politik atau ekonomi.

Penghapusan stigma terhadap kelompok tertentu terbukti membuka sumbat energi kreatif bangsa yang selama ini terpendam.

Bagi Irwan, kemajuan ekonomi Indonesia -si “raksasa tidur” -hanya bisa bangun jika ada keadilan dan akses setara bagi semua warga negara.

“Keberagaman bukanlah sekadar pajangan statistik. Melainkan modal sosial utama yang membuat raksasa bernama Indonesia ini mampu berlari kencang tanpa meninggalkan satu pun elemen bangsanya di belakang,” tutur tokoh nasionalis itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *