Pendidikan Karakter Tangung Jawab Bersama Guru, Keluarga dan Masyarakat
SEMARANG[NuansaJateng] – Pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru saja, tetapi keluarga dalam hal ini orang tua dan masyarakat juga harus merasa terpanggil dan berperan dalam proses penguatan karakter murid.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang (DPKS) Dr Drs Budiyanto SH MHum mengatakan semua pihak harus merasa terpanggil untuk berperan dalam penguatan karakter murid, terutama pada era digital seperti sekarang ini.
“Untuk mewujudkan hal itu guru, orang tua dan masyarakat harus bersinergi bergerak bersama saling menguatkan dalam menjalankan fungsi pendidikan karakter terhadap murid di sepanjang waktu,” ujar Budiyanto dalam Halal Bihalal dan Dialog Pendidikan yang diselenggarakan DPKS di aula SMA Negeri 2 Semarang, Rabu (7/5) lalu.
Dialog Pendidikan yang mengusung tema Urgensi Pendidikan dalam Penguatan Karakter Murid di Era Digital ini diikuti kepala sekolah dan ketua komite sekolah mulai dari PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA se-Kota Semarang.
Menurutnya, idealnya pendidikan tidak hanya melahirkan pelajar yang pintar, namun juga harus bermoral. Untuk mewujudkan hal itu semuanya harus bergerak bersama untuk berperan melakukan penguatan pendidikan karakter pada murid sesuai dengan proporsinya.
Guru di sekolah, lanjutnya, tidak hanya bertugas mengajar saja, tetapi juga mendidik sekaligus memberikan keteladanan, sehingga dapat menumbuhkembangkan karakter anak didik.
Dia menambahkan, begitu besarnya tanggung jawab guru maka tepat sekali kalau Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan fatwa bahwa guru tidak dapat dikriminalisasi saat menjalankan tugas mendidik murid, karena dari proses pendidikan itulah akan lahir generasi yang berkarakter.
Karena itu, lanjutnya, DPKS menghimbau kepada para guru di Kota Semarang agar dalam menjalankan tugas mengajar dan mendidik para murid jangan diniyati bekerja tetapi diniyati beribadah untuk menyiapkan generasi yang unggul.
Selanjutnya orang tua tidak hanya berperan dan bertugas menyejahterakan anaknya, tapi juga membentuk dari awal karakter anak. Demikian juga masyarakat harus peduli jika ada gerombolan, aktivitas kelompok anak yang mencurigakan, lapor segera ke pihak keamanan agar berbagai perilaku yang berpotensi mengganggu proses pendidikan karakter dapat dicegah dan tertolak dengan sendirinya.
Pada era digital seperti sekarang ini, tutur Budiyanto, informasi yang positif atau negatif bisa dengan mudah diakses oleh siapapun tanpa memandang usia, agar anak-anak yang belum dewasa tidak mudah terpengaruh informasi negatif sangat membutuhkan proteksi. Pendidikan karakter menjadi salah satu alternatif benteng yang kokoh untuk menghalau efek negatif teknologi informasi itu.
Kehadiran saluran-saluran komunikasi modern itu pula di sisi lain juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya penguatan karakter masyarakat melalui penayangan konten-konten yang menampilkan keteladanan pemimpin dalam berkomunikasi dan berelasi di masyarakat.
Dia menuturkan, karena itulah anak-anak
perlu pendampingan dan kontrol ketat dari orang tua ketika sedang mengakses informasi dari gadget atau alat komunikasi lainnya. Jangan sampai anak-anak menonton film yang tidak pantas, atau masuk dalam komunitas grup pergaulan bebas hingga narkoba.
“Mari anak-anak Semarang kita dampingi terus sehingga menjadi generasi yang berkarakter yang dapat diandalkan dalam menyongsong kejayaan bangsa pada masa yang akan datang, kehebatan masa depan bangsa Indonesia tergantung proses pendidikan yang sekarang sedang berlangsung,” tutur Budiyanto.
