Munib Abd Muchith

Menyosong Haul Sayyidina Husain

Oleh: Munib Abd Muchith

Sepuluh hari lagi di bukit Karbala akan ada perayaan besar sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan warga Iran terhadap kematian tokoh yang sangat di cintai yaitu syayida Husain bin Ali cucu Rosululloh SAW, yang gugur di medan laga bersama sejumlah kecil pengikutnya dalam perlawanan terhadap pasukan besar khalifah Yazid bin muawiyyah, sebuah pertanda kecintaan yang sangat mendalam terhadap dzuriyyah Rasulullah yang tidak diragukan ketersambungan nasabnya, di bukit Karbala penganut sekte Syi’ah, tidak beda dengan Ahlussunnah wal Jamaah.

Menurut teori, kekutan pasukan perang dilihat dari kwalitas dan kwantitas sedangkan pasukan Yazid adalah pasukan yang sudah terlatih sedang pengikut sayyidina Husain  dengan jumlah yang sedikit dan bukan pasukan yang terlatih sehingga mutlak dan telak dimenangkan oleh Yazid bin muawiyah, namun demikian kekalahan itu sebuah kemenangan moral dan spiritual yang tidak terbantahkan, Husain memilih mati berkalang tanah dari pada menyerah dengan kedzaliman. Keputusan itu menjadi simbol keberanian, pengorbanan dan merupakan intregritas moral menghadapi penindasan

Kebangkitan moral

Dari Karbala, bangkitlah semangat yang kuat sebuah doktrin yang memotivasi bahwa kekalahan fisik bukan berarti mematahkan semangat batin tetapi sebuah kemenangan yang tertunda yang akan menjelma menjadi sosok yang di takuti oleh lawan, karena niat, kesetiaan, ketulusan dan keteguhan.

Ini bukan sekedar retorika yang menghibur, atau narasi yang bias tidak berlandaskan, tetapi sebuah narasi yang akan menciptakan sebuah keteguhan psikologi dan moral yang sangat luar biasa, yang akan mengubah rasa kehilangan dan keterpurukan menjadi sebuah motivasi kuat. Dan akan membalikkan logika kekuasaan konvensional, Engkau bisa menang dalam pertempuran, tapi engkau kalah merebut hati rakyat

Hal ini bukan narasi eksklusif dalam dunia santri, seperti Nahdlatul Ulama dalam menghadapi pemerintah otoriter Orde Baru selama 35 tahun termarjinalkan, tetapi soliditas warga akan terbentuk dengan kesulitan kesulitan yang ada, sehingga robithoh antara pengurus ditingkatkan akan terbangun dengan kuat, bukan sekedar seremonial tetapi sampai nyawa pun akan di pertaruhkan karena ruh yang tersambung.

Dalam dunia modern konsolidasi, untuk membangun soliditas hanya sekedar retorika, karena perjuangan yang di gelorakan tidak jelas arahnya hanya sekedar kamlufase, mensejahterakan warga dalam tanda kutip, sementara warga sekedar menjadi dodolan yang akan dijual di depan penguasa

Spiritual penderitaan, termarjinal, di pinggirkan  bukan sekedar ber implikasi dan konsekuensi perlawanan tetapi juga alat pemurnian diri sebuah jalan mendekatkan diri pada kebenaran, karena perjuangan bukan sekedar politik, tetapi partikel yang bermuatan energi tinggi untuk membedakan antara dua kutub yang berbeda kebenaran dan kebathilan, antara keadilan dan tirani.

Nahdlatul Ulama sebagai sebuah oraganisasi non partisan yang bisa juga di sebut sipil society adalah kekuatan mandiri yang menjadi penyeimbang kekuasaan untuk menggarap persoalan yang tidak terjangkau oleh kekuasaan, bukan benalu, bukan juga agen atau sekedar even Organizer penguasa. Tetapi organisasi ini gerakan moral yang mampu mengimbangi kekuatan penguasa untuk menjaga stabilitas  demokrasi

Tradisi santri dalam membingkai kekalahan dan keterpurukan menjadi sebuah kemenangan dan kesuksesan bukan De Ilusi, tetapi bagian dari strategi spiritual, agar tidak menjadi penakut

Berdiri tegak dengan kaki sendiri lebih kuat dari pada tegak gagah karena penopang

(Munib Abd Muchith Wakil Katib Syuriyah PWNU Jateng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *