Gaskin Pipa Gas Cirebon–Semarang Tahap II Dimulai

BATANG[NuansaJateng] – Pemerintah resmi mulai mengalirkan gas (gas in) pada proyek pipa transmisi gas bumi Cirebon–Semarang Tahap II ruas Batang–Cirebon hingga Kandanghaur Timur.

Proyek strategis ini memiliki panjang sekitar 242–245 kilometer dengan diameter pipa 20 inci dan kapasitas alir mencapai 183 MMSCFD (million standard cubic feet per day).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pengoperasian jaringan ini merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“Dengan dimulainya gaskin ini, kita memastikan energi benar-benar tersedia bagi industri. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di kawasan industri,” ujarnya.

Menurut Yuliot, proyek ini juga menjadi bagian dari integrasi sistem transmisi gas nasional yang menghubungkan pasokan dari berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Natuna, hingga Indonesia timur.

Dari sisi biaya, pemerintah menargetkan efisiensi agar industri tetap kompetitif. “Toll fee kita upayakan sekitar US$0,4 per MMBTU, dan dalam kondisi tertentu bisa mendekati 1 dolar AS per MMBTU tergantung jarak distribusi,” tuturnya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaiman memastikan seluruh aspek teknis proyek telah selesai dan memenuhi standar operasional.

Dia menambahkan, uji kelayakan yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir difokuskan pada pengujian tekanan dan potensi kebocoran di seluruh ruas pipa.

“Hasil uji menunjukkan tidak ada kebocoran, sehingga pipa siap difungsikan dan gas bisa langsung dialirkan ke konsumen,” ujarnya.

Laode juga memaparkan bahwa proyek ini diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 19 bulan, meski memiliki panjang lebih dari 240 kilometer.

Sebagai perbandingan, proyek pipa sepanjang 160 kilometer sebelumnya membutuhkan waktu 17 bulan, sehingga selisih waktu hanya sekitar 2 bulan. Hal ini dimungkinkan karena pekerjaan dibagi dalam beberapa ruas dan dikerjakan secara paralel.

Pembangunan jaringan pipa ini dibagi dalam tiga segmen utama:
Segmen 1: Batang – Pemalang
Segmen 2: Pemalang – Cirebon
Segmen 3: Cirebon – Kandanghaur Timur

Ruas pipa menghubungkan Stasiun ESDM di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) hingga Stasiun Kertagamas Kandanghaur Timur (KHT).

Dengan kapasitas 183 MMSCFD, jaringan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan gas industri skala besar, termasuk pembangkit listrik, petrokimia, kaca, keramik, hingga manufaktur lainnya.

Gas yang dialirkan melalui jaringan ini akan menjangkau berbagai kawasan industri di Jawa Tengah hingga Jawa Barat, termasuk sejumlah industri besar yang telah menyatakan komitmen pemanfaatan.

Dengan adanya infrastruktur ini, pemerintah berharap harga energi dapat ditekan sehingga meningkatkan efisiensi produksi.

“Kalau energi tersedia dengan harga kompetitif, industri akan lebih berkembang dan mampu bersaing di pasar global,”  ujar Yuliot usai melakukan Gaskin di Kawasan Industri Terpadu  Batang, Rabu (18/3)

Dorong Investasi 

Pemerintah optimistis proyek ini akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian, baik melalui peningkatan investasi maupun penciptaan lapangan kerja.

Dukungan infrastruktur energi yang andal, kawasan seperti Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Ini fondasi penting. Ketika energi mengalir, industri bergerak, dan ekonomi tumbuh,” tutur Yuliot. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *