Islam Moderat dan Ekologi Spiritual
Oleh: Munib Abd Muchith
Suasana mencekam di Timur Tengah, akibat keberanian Iran menjawab tantangan Israil, sehingga konon rudal yang menjadi andalan yang di namakan sijjil diluncurkan dini hari dan memporak porandakan keangkuhan Israil.
Melihat namanya sijjil itu batu kerikil yang di jatuhkan untuk mengusir tentara Abrahah yang bertujuan merubuhkan ka’bah, batu kerikil dari neraka itu yang membuat kocar-kacir tentara terlatihnya raja abrahah, rudal itu punya kecepatan 450.000 km/perjam, jadi kecepatan ini para kyai yang di sopiri oleh para santri di jalan tol itu 4 kali lipat lebih cepat.
Namun pagi tadi matahari di atas rumah enggan tampak membuat suasana syahdu syahdan, sehingga mandi pagi subuh yang rambutnya basah membuat tubuh menggigil karena langit pun sedikit meneteskan air mata rintik-rintik.
Tiba-tiba seorang teman mengirim pdf sebuah potongan schedule pendadaran kader tingkat Nasional yang di gadang gadang menjadi tempat kawah candradimuka nya para pemangku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa mendatang, untuk wawasan Nasional, ini kalau di Pemerintahan tidak beda dengan sebutan Lemhannas.
Namun yang jadi catatan, arah dan tujuannya kemana sedangkan para pematerinya tidak nyambung dengan ikhtiyar berdirinya Nahdlatul Ulama, atau tidak memahami qonun azasi sebagai preambul UUD nya Nahdlatul Ulama.
Moderasi Beragama
Sebenarnya para santri yang selanjutnya akan memegang tapuk pimpinan umat sebagai penerus Kyai, pandangan tentang sikap tawassuth itu telah selesai untuk bicara tentang itu, sebab para salafusholihin baik para imam madzahib dengan kerangka berpikirnya, atau para tokoh spiritual dengan ke teladannya bagaimana cara bersosial /bermasyarakat lewat pengejawentahan hadist atau alquran, akhlaq tersebut tercermin.
Bahkan bagai mana, para kyai membudayakan tiap malam jumaat membaca siroh nabawi lewat Dziba’iyyah Syeh abdurrachman mengungkapkan kepribadian Rosulullah dalam sehari heri, serasa tanpa diragukan para santri akan memahami itu, tanpa harus didatangkan tokoh akademi yang kurang jelas keteguhan imannya
Para Mursyid dalam membimbing murid din tidak cukup dengan bicara tetapi keteladan juga membimbing lewat spiritual yang mendalam, sehingga kewaskitaanya dapat dirasa menuntun dan mengarahkan pada murid din, bahkan manaqib para pendiri thoriqoh menjadi wadzifah untuk selalu di baca, serasa kalau bicara tentang mederasi beragama para santri/muriddin tidak perlu diragukan lagi
Kecuali, keberaniannya akan tertantang saat penguasa sewenang wenang memperlakukan rakyatnya, seperti Simbah Diponegoro pengikut thoriqoh sathoriyyah, atau Simbah Abd Karim cilegon mursyid thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah dia berani mengorbankan jiwa raganya, moderat bukan berarti menjilat dan menjual idiologi
Ekologi Spiritual
Penulis sangat apriori melihat pemateri yang umumnya sudah mendengar pendapat dan arah pembicaraanya lewat media sosial, bahkan ada salah satu pemateri yang kelihatannya gagal faham memahami ni’mat dan karunia, sehingga menambang alam merupakan keharusan yang di lakukan oleh para pemodal (maaf agak ektrim sebab para penambang itu Oligarki) sebab tidak akan mungkin penambang itu rakyat biasa yang tidak punya alat berat.
Arah pembicaraanya dipastikan membentuk opini bahwa modernisasi tidak akan lepas dari penambangan ( menggali batu bara, menggali nikel dll), ini generasi perusak dan tidak layak, yang paling menyakitkan orang yang tidak sependapat dengan nya di Lebeli Wahabisme
Mestinya, ketika tambang yang selanjutnya disebut merusak karena mengeploktasi alam dengan memperkosanya, lalu apakah energi itu hanya didapat dari menggali? Tidak juga, Ada energi terbarukan
Kesimpulan
Kaderisasi itu sudah bukan keniscayaan dan menjadi kewajibaan, karena pemimpin yang baik adalah orang yang dapat mengkader generasi penerus nya, namun perlu di garis bawahi seorang Lider yang bijaksana adalah orang yang mampu memimpin warganya, bukan memaksa warganya untuk mengikutinya, seperti imam dalam sholat.
Pemipin itu bukan penguasa yang setiap kehendak nya harus di ikuti, karena manusia bukan Bebek, atau robot sekedar di remot, tetapi makhluk Allah yang punya akal dan pikiran yang punya pemahaman berbeda beda dengan latar belakang yang juga berbeda, maka seorang pemimpin seperti dirigent dalam pagelaran musik orkestra perbedaan itu akan terdengar indah dan dinikmati.
Bukan dipaksa untuk mengikiti,akan rusak sebelanga seperti alam Indonesia yang tercabik2 pohonnya sudah tak tumbuh, tanah dihubungi , gunungnya di pangkas, tambak tempat air bersemayam tertup baru dan padas.
Modernisasi yang tanpa hati, itu akan sangat menyakiti.
(Munib Abd Muchith Wk Katib PWNU Jateng)
