Kabupaten Kendal Masih Jadi Pilihan Investor Realisasikan Investasi

SEMARANG[NuansaJateng] – Kabupaten Kendal masih menjadi pilihan investor untuk merealiasikan investasi pendirian industri. Selama Triwulan III-2025 kabuaten ini mencatat nilai investasi sebesar Rp3.71 triliun.

Realisasi investasi Kabupaten Kendal senilai itu, tercatat tertinggi, disusul Kota Semarang Rp2,97 triliun, Kabupaten Batang Rp1,98 triliun, Kabupaten Karanganyar Rp1,68 triliun, dan Kabupaten Tegal Rp1,44 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Sakina Rosellasari mengatakan Triwulan III (Juli–September) 2025 nilai investasi dijateng mencapai Rp20,55 triliun.

Nilai tersebut terdiri realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp11,23 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp9,32 triliun.

Dengan demikian lanjutya, kontribusi PMA pada periode ini mencapai 55%, sedangkan PMDN menyumbang 45%.

Total investasi tersebutuntuk sebayak 24.108 proyek dan menyerap 104.089 tenaga kerja Indonesia di berbagai sektor industri.

“Lima kabupaten/kota dengan realisasi investasi tertinggi pada Triwulan III- 2025 adalah Kabupaten Kendal sebesar Rp3,71 triliun, Kota Semarang Rp2,97 triliun, Kabupaten Batang Rp1,98 triliun, Kabupaten Karanganyar Rp1,68 triliun, dan Kabupaten Tegal Rp1,44 triliun,Ujarnya dalam kegiatan Press Conference Release Capaian Investasi Triwulan III-2025 yang digelar di Ruang Rapat Pro Investasi DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Se;asa (21/10).

Kabupaten Kendal, tutur Sakina, menjadi daerah dengan daya tarik investasi terbesar, terutama karena keberadaan Kawasan Industri Kendal (KIK) serta proyek-proyek baru di sektor manufaktur dan logistik.

Sementara Kota Semarang juga memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi jasa dan perdagangan di Jawa Tengah.

Adapun lima negara asal investor asing terbesar pada periode yang sama adalah Hongkong dengan nilai investasi Rp3,53 triliun (31,46%), Republik Rakyat Tiongkok Rp2,34 triliun (20,84%), Singapura Rp1,78 triliun (15,92%), Samoa Barat Rp0,86 triliun (7,71%) dan Korea Selatan Rp0,65 triliun (5,81%).

Sektor industri tetap menjadi tulang punggung investasi Jawa Tengah. Untuk PMA, sektor terbesar meliputi industri barang dari kulit dan alas kaki senilai Rp3,04 triliun, industri mesin, elektronik, dan peralatan presisi Rp2,82 triliun, industri tekstil Rp1,39 triliun, industri karet dan plastik Rp0,66 triliun, serta industri logam dasar dan barang logam Rp0,55 triliun.

Sementara untuk PMDN, sektor terbesar adalah industri makanan Rp1,45 triliun, industri kimia dan farmasi Rp1,30 triliun, perumahan dan kawasan industri Rp1,13 triliun, transportasi dan gudang Rp0,88 triliun, serta jasa lainnya Rp0,76 triliun.

Kombinasi PMA dan PMDN menunjukkan lima sektor utama yang mendominasi investasi di Jawa Tengah, yaitu industri alas kaki, mesin dan elektronik, tekstil, makanan, serta kimia dan farmasi.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga September 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp66,13 triliun atau 84,42% dari target tahunan sebesar Rp78,33 triliun.

Dari total tersebut, PMDN berkontribusi Rp36,85 triliun (55,7%), sedangkan PMA mencapai Rp29,27 triliun (44,4%). Investasi tersebut berasal dari 83.208 proyek dan berhasil menyerap 326.462 tenaga kerja.

Kabupaten Kendal kembali menjadi daerah dengan nilai investasi tertinggi sebesar Rp9,45 triliun, disusul Kota Semarang Rp8,70 triliun, Kabupaten Demak Rp7,66 triliun, Kabupaten Batang Rp4,66 triliun, dan Kabupaten Tegal Rp3,20 triliun.

Negara investor asing terbesar sepanjang sembilan bulan 2025 tetap didominasi oleh Hongkong, Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, dan Samoa Barat.

Berdasarkan perbandingan year on year antara Triwulan III-2024 dan Triwulan III-2025, realisasi investasi Jawa Tengah meningkat 14,55%, dari Rp17,94 triliun pada 2024 menjadi Rp20,55 triliun pada 2025. PMA tumbuh 13,21%, sedangkan PMDN naik 16,21%.

Pertumbuhan jumlah proyek juga meningkat 33,72%, menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap Jawa Tengah sebagai lokasi ekspansi usaha.

Namun, jumlah tenaga kerja yang terserap mengalami penurunan 14,22% dari 121.348 orang pada Triwulan III-2024 menjadi 104.089 orang pada periode yang sama 2025. Penurunan tersebut dikaitkan dengan efisiensi dan otomatisasi di sektor industri.

Selama lima tahun terakhir (2021–2025), realisasi investasi di Jawa Tengah menunjukkan tren positif. Pada 2021 total investasi tercatat Rp52,71 triliun, meningkat menjadi Rp58,89 triliun pada 2022, kemudian Rp56,12 triliun pada 2023, dan melonjak menjadi Rp68,67 triliun pada 2024.

Hingga September 2025, investasi telah mencapai Rp66,13 triliun, menunjukkan konsistensi pertumbuhan meski ekonomi global masih berfluktuasi.

Jawa Tengah berkomitmen memperkuat layanan investasi dengan konsep Pro Investasi. Bahkan berfokus pada digitalisasi layanan, percepatan perizinan, dan peningkatan promosi investasi.

“Capaian ini merupakan hasil kerja sama seluruh pemangku kepentingan di Jawa Tengah, baik pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Kami berkomitmen menjaga tren positif ini hingga akhir tahun,” tutur Sakina.

Dia menambahkan, fokus ke depan adalah memperluas investasi di sektor energi terbarukan, industri hijau, dan digitalisasi logistik yang dinilai memiliki potensi besar bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Jawa Tengah.

Secara keseluruhan, capaian investasi Jawa Tengah pada Triwulan III 2025 menunjukkan performa yang kuat dan stabil. Dengan kontribusi besar dari industri manufaktur dan dukungan pemerintah daerah, Jawa Tengah terus memperkokoh posisinya sebagai pusat investasi strategis di Pulau Jawa.

Dengan capaian Rp66,13 triliun hingga September 2025, target tahunan Rp78,33 triliun diyakini dapat tercapai pada akhir tahun, memperkuat peran Jawa Tengah sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *