MUI Serukan Umat Islam Saling Menghormati Jika Terjadi Perbedaan Awal Ramadhan dan Idul Fitri
SEMARANG[NuansaJateng] – Majlis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah mengajak umat Islam untuk saling menghormati apabila terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H.
Ajakan untuk saling menghormati itu dituangkan dalam taushiyah yang ditandatangani Ketua Komisi Fatwa MUI Jateng KH Fadlolan Musyafa, KH Ahmad Izzudin (Sekretaris Kmisi Fatwa), KH.Ahmad Darodji (Ketua Umum MUI Jateng) dan KH Muhyidin (Sekretaris Umum).
Ketua Umum MUI Jateng KH Dr Ahmad Darodji MSi mengatakan menjelang Rmadlan 1447 H MUI Jateng menyampaikan sembilan poin taushiyah yang ditujukan kepada umat Islam dan pemerintah.
“Satu diantaranya agar umat Islam bersikap saling menghormati jika nanti terjadi perbedaan penetapan awal ramadlan dan idul fitri tahun ini,” ujar kiai Darodji usa rapat MUI Jateng yang berlangsung di kantor sekretariat MUI Jateng,komplek masjid raya Baiturrahman Semarang, Sabtu (14/2)
Menurutnya, poin berikutnya (kedua), dalam rangka mensyi’arkan Idul Fitri 1447 H , MUI menyerukan umat Islam untuk meningkatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT dengan.mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid di musholla, masjid, dan tempat melaksanakan sholat Id dengan tetap menjaga ketertiban, kenyamanan dan kekhusyu’an.
Ketiga, agar dalam bulan ramadlan menyegerakan penunaian zakat mal, zakat fitrah, infak dan sedekah (ZIS) yang diperuntukkan kepada para mustahik, khususnya korban dan warga terdampak bencana dengan mengacu pada  Fatwa MUI Provinsi Jateng nomor : Kep. FW.03/DP-P.XIII/SK/IV/2020 tentang takjil zakat fitrah untuk mustahik terdampak bencana .
Keempat, penunaian ZIS hendaknya disalurkan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Unit Pengumpul Zakat ( UPZ) terdekat. Kelima , kepada pemerintah dan seluruh umat Islam Jawa Tengah meliputi para pengelola musholla, masjid , organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan seluruh pengurus MUI Kabupaten/Kota se-Jateng yang diamanti untuk mensosialisasikan taushiyah ini.
Kelima, mengingatkan bahwa ramadlan adalah bulan tarbiyah yang mendidik umat Islam untuk meningkatkan ibadah, memperkuat kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama serta membina ukhuwah dalam rangka menjaga kondusifitas wilayah.
Keenam, mengamanatkan kepada MUI kabupaten/kota se-Jateng untuk mengajak umat Islam meningkatkan solidaritas dan saling membantu, baik dalam hal menjaga kesehatan, kemanan, ketertiban, maupun saling membantu kebutuhan hidup (ta’awun) mereka yang terdampak musibah.
Ketujuh, mengajak umat Islam untuk memperbanyak muhasabah dan istighfar seraya memohon dijauhkan dari segala musibah dan bencana. Kedelapan, para mubaligh, da’i dan pegiat media sosial agar menyampaikan pesan dakwah dan informasi yang mendidik, menyejukkan, dan tidak menimbulkan kemaksiatan. Kesembilan, menghimbau kepada pemerintah untuk menertibkan tempat hiburan yang berpotensi menimbulkan kemaksiatan dan  ,
Sekretaris Umum MUI Jateng KH Muhyiddin menambahkan, terkait adanya potensi perbedaan hari atau tanggal dalam memulai puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri 1447 H oleh umat Islam di Jateng, tidak perlu dirisaukan.
“Masing – masing punya pendapat dan argumen, dan selama ini sudah terbiasa dalam menghadapi adanya perbedaan itu. Jadi adanya hal ini tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.
