Luthfi Minta BUMD Jadi Pengungkit Pendapatan Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi
SEMARANG[NuansaJateng] – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di wilayahnya agar menjadi pengungkit pendapatan daerah dan pertumbuhan ekonomi.
Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR-RI ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait pengawasan terhadap BUMD dan bank daerah, di gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4).
Luthfi mengatakan BUMD kabupaten/kota di Jawa Tengah saat ini berjumlah 122 entitas, yang terdiri atas 33 BUMD lembaga keuangan, 54 BUMD aneka usaha, dan 35 BUMD air minum.
Menurutnya, kinerjanya hingga 2025 menunjukkan tren positif. Total aset tercatat Rp15,445 triliun, laba bersih Rp587,684 miliar, dan Return on Asset (ROA) 3,80%, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 173 dewan komisaris, 186 direksi, dan 11.625 pegawai.
Sementara untuk BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berjumlah 41 entitas. Hingga 2025, total aset BUMD provinsi mencapai Rp118,038 triliun, laba bersih Rp1,775 triliun, dan ROA 1,50%. Pada tahun yang sama, dividen hasil usaha tercatat Rp732,388 miliar dengan Return on Investment (ROI) 18,31%.
Berdasarkan hasil Rakor RPJMD tanggal 13 Maret 2025, target setoran dividen 2026–2030 juga diproyeksikan terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 10,58%.
“Prinsipnya BUMD adalah harus untung. Ora untung, ora usah dadi BUMD,” ujar Luthfi.
Luthfi menambahkan, Bank Jateng menjadi tulang punggung penguatan keuangan daerah di Jawa Tengah. Selain menopang transaksi keuangan pemerintah daerah, Bank Jateng juga didorong mendukung sektor produktif, UMKM, ketahanan pangan, pembiayaan perumahan, hingga digitalisasi layanan keuangan daerah.
Luthfi juga menunjukkan keberpihakan BUMD keuangan terhadap UMKM. Sebaran kredit PT BPR BKK (Perseroda) pada 2025 mencapai Rp10,823 triliun, dengan komposisi 71% kredit produktif dan 29% kredit lainnya. Sementara penjaminan produktif tercatat Rp1,630 triliun, dengan porsi terbesar untuk sektor UMKM.
Wakil Ketua Komisi II DPR-RI Aria Bima menilai, BUMD di Jateng, terutama yang bergerak dalam bidang perbankan berpeluang menjadi percontohan nasional apabila mampu menjaga kinerja tetap sehat, akuntabel, dan berdampak langsung terhadap pembangunan daerah.
Menurutnya, bank daerah tidak boleh hanya dipandang sebagai institusi perbankan yang mengejar keuntungan semata. Namun juga sebagai alat pembangunan daerah, penggerak ekonomi lokal, mitra pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan, penopang pembiayaan sektor produktif, sekaligus sumber kontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah.
“Bank daerah tidak boleh dilihat hanya sebagai institusi perbankan biasa yang mengejar keuntungan semata. Bank daerah adalah BUMD yang dibentuk dengan mandat yang lebih luas,” tutur Aria Bima.
