Jelang Ramadhan Harga Sembako Naik, DPRD Jateng Minta Masyarakat Tidak Panik

SEMARANG[NuansaJateng] – Memasuki Ramadhan kenaikan harga sembako dipastikan bakal terjadi, bahkan sudah menjadi tradisi tahunan, harga kebutuhan bahan pokok itu sulit terkendali, jika pemerintah tidak cepat mengantisipasi.

Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengh Sri Hartini mengatakan gejolak harga jelang Ramadhan dan Idul Fitri merupakan fenomena rutin yang bisa diprediksi sejak awal.

Menurutnya, pola kenaikan harga berkaitan erat dengan interaksi antara permintaan dan penawaran. Karena itu, kestabilan pasokan menjadi kunci agar harga tetap terkendali.

“Sebetulnya ini hal yang rutin, setiap Ramadhan dan Idul Fitri selalu ada gejolak kenaikan harga. Ini mestinya bisa ditanggulangi kalau pemerintah dari awal sudah bisa memprediksi,” ujar Sri Hartini dalam dialog prime topic yang mengusung tema Menjaga Keterjangkauan Sembako yang di gelar di Front One HK Resort Simpang Lima Semarang, Jl Kesambi No. 7 Semarang, Jumat (13/2).

Dialog yang dipandu oleh moderator Dendi Ganda, selain menghadirkan nara sumber Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengh Sri Hartini, juga Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Dyah Lukisari, Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Jawa Tengah Noval Nixmamara ST MSi dan Dosen FEB Unimus Semarang Dr Haeudin.

Sri Hartini menuturkan, bahwa pasar itu hanya dua, permintaan dan penawaran, sehingga jika harga kebutuhan pokok distabilkan, dipastikan gejolak harga tidak akan terjadi.

Dia meminta masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan dan tidak perlu panik sehingga tidak perlu melakukan aksi menimbun, belanja kebutuhan pokok berlebihan.

Seperti diketahui komoditas telur dan ayam menjadi tolok ukur kenaikan bahan pokok saat ini. Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, harga telur ayam ras rata-rata berkisar antara Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, sementara harga ayam terpantau sudah mencapai Rp40.000 per kilogramnya.

Senada Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Dyah Lukisari mengatakan kondisi ketersediaan pangan saat ini terbilang aman. Pada 2026, pangan di seluruh Jawa Tengah mengalami surplus.

Menurutnya, komoditas yang mengalami kenaikan hanya cabai, jagung, dan daging ayam diatas harga ketentua pemerintah. Upaya untuk mengantisipasi, pemerintah akan melakukan distribusi pangan murah.

Pangan murah tersebut di antaranya adalah beras dan minyak untuk sebanyak 530 titik di wilayah Jawa Tengah.

“Bahkan kami juga akan penuhi pasokan kebutuhan telur sebanyak 500-200 kg telur dari peternak maupun distributor.Kami sudah memberikan subsidi untuk transportasi agar harganya menjadi terjangkau,” tuturnya.

Selain itu dia memastikan stok pangan dalam kondisi cukup. Sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, distributor, dan pelaku usaha akan terus diperkuat agar tidak terjadi kelangkaan maupun spekulasi harga.

“Dengan langkah pengawasan intensif, regulasi yang tegas, serta kolaborasi antarinstansi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis stabilitas harga dan pasokan sembako dapat terjaga hingga Hari Raya Idulfitri,” ujarnya

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Jawa Tengah, Noval Nixmamara ST MS menyebut dari hasil pantauan di beberapa pasar tradisional di berbagai daerah, harga sembako masih berada di kisaran harga acuan. Memang ada komoditas seperti cabai dan bawang putih yang fluktuatif menjelang Ramadhan, namun secara umum kenaikannya belum signifikan.

Dia menambahkan, jika dilihat dari Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Patokan (HP), kondisi masih terkendali dan pasokan di lapangan relatif lancar.

Sementara itu, Dosen FEB Unimus Semarang Dr Haeudin menilai intervensi pemerintah selama ini belum sepenuhnya efektif karena belum menyentuh akar persoalan. Rantai pasok yang tidak optimal dan intervensi yang terlalu sering justru dinilai dapat mengganggu mekanisme pasar.

“Kalau ini tidak ditemukan, maka lonjakan harga akan terus berulang tiap tahun. Rantai pasok itu adakalanya terputus, meski pemerintah sudah banyak melakukan intervensi,” tutur Haerudin.

Namun demikian,  Haerudin menghimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam pola konsumsi selama Ramadhan agar tidak memicu lonjakan permintaan yang berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *