Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M Noor Nugroho

April 2026, Jawa Tengah Alami Deflasi 0,03%

SEMARANG[NuansaJateneg] – Provinsi Jawaa Tentah mengalami deflasi sebesar 0,03% secara bulanan (mtm) pada April 2026. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang mengalami inflsi sebesar 0,13% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Noor Nugroho mengatakan deflasi Jawa Tengah terutama disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, dan angkutan antar kota.

“Deflasi lebih dalam tertahan oleh peningkatan harga komoditas minyak goreng, angkutan udara, telepon seluler, laptop/notebook, serta nasi dengan lauk,” ujarnya.

Provinsi Jawa Tengah pada April 2026 mencatatkan deflasi sebesar 0,03% (mtm), sedangkan bulan lalu mengalami inflasi sebesar 0,57% (mtm).

Deflasi pada periode laporan terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (andil: -0,22% mtm). Penyumbang deflasi pada kelompok tersebut antara lain penurunan harga komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit seiring dengan normalisasi permintaan pasca momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) idulfitri 1447 H.

Sementara itu, harga komoditas minyak goreng meningkat seiring dengan kenaikan harga kelapa sawit dan biaya produksi plastik kemasan akibat konflik di Timur Tengah. Lebih lanjut, deflasi juga terjadi pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (andil: -0,04%; mtm), terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan seiring dengan koreksi harga emas global.

Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi pada Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran (andil: 0,095 mtm). Inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas nasi dengan lauk akibat kenaikan biaya energi khususnya gas LPG, dan kenaikan harga kemasan plastik.

Inflasi juga disumbang oleh Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (andil: 0,05% mtm), terutama komoditas telepon seluler dan laptop/notebook seiring dengan kenaikan harga komponen elektronik seperti chipset dan memory.

M Noor Nugroho menambahkan, secara tahunan, Provinsi Jawa Tengah mengalami inflasi 2,11% (yoy) pada April 2026, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (2,42%; yoy) dan provinsi lainnya di pulau Jawa.

Menurutnya, inflasi Jawa Tengah terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan dengan andil sebesar 0,63% (yoy), seiring dengan tensi geopolitik global yang memanas di Timur Tengah.

“Inflasi juga disumbang oleh komoditas beras, daging ayam ras, minyak goreng, dan sigaret kretek mesin (SKM). Sementara itu, inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga komoditas bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, dan angkutan antar kota,” tuturnya.

Berdasarkan spasial, sejalan dengan deflasi pada level provinsi secara bulanan, sebagian kota IHK di Jawa Tengah juga mengalami deflasi. Deflasi terendah berlangsung di Kabupaten Wonogiri (0,25% mtm), diikuti Kabupaten Wonosobo (0.23% mtm), Cilacap (0,21% mtm), Kota Surakarta (0,10% mtm), Kota Tegal (0,09% mtm), Purwokerto (0,07% mtm), dan Kabupaten Rembang (0,07% mtm).

Sementara itu, inflasi terjadi di Kota Semarang (0,17% mtm) dan Kudus (0,02% mtm). Secara tahunan, seluruh kota IHK di Jawa Tengah mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Tegal (2,30% yoy), diikuti oleh Kota Surakarta (2,27% yoy), Cilacap (2,23% yoy), Kota Semarang (2,19% yoy), Wonogiri (2,16% yoy); Purwokerto (2,12% yoy), Kudus (1,90% yoy), Rembang (1,79% yoy), dan  Wonosobo (1.76% yoy).

Ke depan, untuk menjaga inflasi berada pada rentang sasaran, Bank Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan di daerah yang tergabung dalam Forum TPID Provinsi Jawa Tengah dan TPID Kota/Kabupaten se-Jawa Tengah akan terus berkoordinasi dan bekerja sama melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi. (rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *